
Aminah dan kedua cucunya langsung menuju ruang tengah, namun mereka belum melihat keberadaan ayah dan ibunya itu.
“Mungkin ayah dan ibu masih berada di kamar, aku akan panggilkan,” Azzam yang buka suara, dan adik serta neneknya menganggukkan kepala. Azzam ingin memberi tahu ayah dan ibunya itu jika dibawah ada amang Shakir.
“Tidak perlu Tuan Muda, biar saya yang panggil tuan dan nyonya,” ucap salah satu pelayan yang tadi menjemput mereka di pintu depan.
“Tidak usah Bik, biar Azzam saja.”
Sang pelayan mengangguk pelan, seraya menundukkan kepalanya mengiyakan ucapan majikan mudanya ini.
Azzam segera bergegas naik ke lantai 2, menuju kamar sang ibu.
Sementara Aminah dan Azzura mengajak Shakir untuk menuju ruang keluarga. Luna, juga ikut bersama mereka.
“Kamu tidak duduk?” tanya Shakir, pada wanita yang ia goda di teras rumah tadi. Ia melihat Luna yang hanya berdiri disebelah sofa, saat ia, Aminah dan Azzura sudah duduk di sana.
Mendengar pertanyaan itu, Aminah dan Azzura saling pandang. Lalu sama-sama mengulum senyum. Sedari awal bertemu dengan Luna, Luna tidak pernah mau jika disuruh duduk bersama mereka.
Luna selalu mengatakan, jika dia harus selalu siaga untuk melindungi tuannya. Itu adalah prinsip Luna, hingga Aminah, Haura bahkan Adam sekalipun tak bisa membujuknya.
“Nenek, ayo kita taruhan,” bisik Azzura, lirih sekali di telinga sang nenek.
“Taruhan apa sayang?” Aminah menanggapi.
“Jika amang Shakir bisa membuat Tante Luna duduk, besok saat aku pulang sekolah nenek harus belikan aku ice cream. Tapi kalau Amang tidak bisa membujuk tante Luna untuk duduk, aku akan belikan nenek ice cream saat aku pulang sekolah. Bagaimana?” tanya Azzura, masih setia berbisik-bisik.
Mendengar itu, Aminah tersenyum.
“Baiklah, sepertinya nenek yang akan menang,” jawab Aminah yakin. Shakir tidak akan bisa membujuk Luna.
Azzura tahu, amangnya itu adalah pria yang hebat.
“Kenapa hanya berdiri di sana? Duduklah disini,” titah Shakir seraya menepuk tempat kosong disebelahnya. Bukan apa-apa, ia hanya merasa tak nyaman, jika ada seorang wanita yang berdiri sementara ia malah terduduk.
“Terima kasih Tuan, saya akan tetap disini,” jawab Luna seraya menundukkan kepalanya, hormat. Ia bahkan tak menatap kedua netra Shakir, pandangannya turun lalu menatap ke arah lain.
Mendapat penolakan, Shakir menghembuskan napasnya pelan. Berbicara dengan Luna, memang tidak mudah.
Ia lalu berdiri dan mendekati Luna hingga menyisahkan sedikit jarak. Membisikkan sesuatu, pada wanita ini.
“Duduklah disebelah ku, dan pastikan sendiri jika aku tidak akan membawa Haura kabur dari rumah ini.”
Mendengar itu, seketika kedua netra Luna membola, ia bahkan langsung menatap tajam pria dari negeri Jiran ini, Pria yang berdiri tepat disebelahnya.
Yang ditatap tajam tidak peduli, ia malah kembali duduk lalu memberi isyarat Luna untuk mengikutinya.
Melihat itu, Luna mengeram kesal, ia bahkan mengepalkan kedua tangannya erat.
Tak ingin berbuat keributan di rumah ini dan disaksikan oleh orang-orang yang ia hormati, Luna, akhirnya menuruti Shakir.
Perlahan, ia mulai melangkahkan kaki dan duduk disebelah Shakir, ditempat yang sama Shakir memintanya untuk duduk.
“Yes!” teriak Azzura langsung, ketika tante Luna sudah duduk dengan sempurna. Wajah Azzura pun nampak begitu sumringah, dengan senyum yang terukir lebar.
Dan Aminah hanya tersenyum kecil, mengehela napas, ternyata ia kalah.