
Spesial Shakir.
Saat ini, sudah sebulan berlalu sejak pertemuannya dengan Sanja kala itu.
Kakinya benar-benar pulih tanpa ia melakukan pengobatan apapun. Tiap kali ia melihat kakinya itu, ia jadi teringat akan Sanja di ujung Kalimantan sana.
Dan kini, Shakir sudah memutuskan untuk menemui Sanja dan meminta gadis itu untuk menikah dengannya.
Tak banyak yang ia pikirkan ketika mengambil keputusan itu. Shakir hanya ingin, Sanja menjadi teman hidupnya.
Melewati hari-hari penuh cinta hingga masa tua tiba.
Tahu saat ini masih jam kerja Sanja, pukul 09.30 pagi, Shakir langsung memutuskan untuk pergi ke puskesmas desa Parupay.
Dengan senyumnya yang terkembang, ia langsung menuju ruangan Sanja.
Mengetuknya berulang hingga ada sahutan dari dalam sana yang memintanya untuk masuk.
Namun sesaat Shakir terdiam, kala ia mendengar yang menjawab itu bukanlah suara Sanja.
Tak ingin banyak bertanya-tanya, Shakir segera membuka pintu itu dan melihat orang lain yang menduduki kursi Sanja selama ini.
"Siapa Anda?" tanya Shakir langsung, sungguh terkejut hingga ia tak ingat sopan santun.
Masuk tanpa mengucapkan salam dan langsung mencerca satu pertanyaan.
Dilihatnya, seorang wanita yang nampak seperti ibunya. Menggunakan jas putih yang juga menatapnya dengan terkejut.
"Maaf, Anda yang siapa?" tanya dokter itu pula, yang sama-sama terkejut. Biasanya, warga desa tak akan ada yang selancang ini.
Namun pria dewasa yang berbicara dengan logat melayu ini sungguh membuatnya merasa tak nyaman.
"Maaf, saya adalah teman bidan Sanja, sebelumnya ini adalah ruangan Sanja," balas Shakir lagi, setelah kesadarannya kembali.
Sadar ia lebih muda dan harus menghormati yang lebih tua.
Mendengar itu, sang dokter tersenyum kecil. Ternyata, masalah cinta. Batinnya.
Ia sangat yakin jika laki-laki ini adalah kekasih bidan Sanja. Bidan cantik yang kini melayani Tuan Adam di kota Jakarta sana.
Tak ingin membuat pria ini semakin gundah gulana, dokter itu pun langsung menjelaskan apa yang terjadi.
Mengatakan jika 3 hari lalu, ia telah resmi menggantikan Sanja untuk bekerja di puskesmas ini.
Lalu mengatakan juga jika kini Sanja berada di kota Jakarta, bekerja di menjadi dokter kandungan pribadi nyonya Haura, istri tuan Adam Malik.
Mendengar penjelasan panjang kali lebar itu, Shakir menarik dan menghembuskan napasnya pelan.
Ia bingung, antara lega atau bagaimana.
Kenapa Adam selalu mempersulit kisah cintaku, batin Shakir.
Setelah mengucapkan kata terima kasih pada dokter itu, Shakir segera berlalu dari sana.
Tujuannya kini hanya satu, pergi ke Jakarta dan menemui Sanja di sana.
Shakir tak ingin menunda, benar-benar tak ingin kehilangan Sanja.
Meski belum menjelma menjadi cinta yang membuncah, namun Sanja berhasil membuat bunga-bunga kecil itu tumbuh di hati Shakir yang gersang.
"Tuan, kenapa Anda keluar sendiri? dimana bidan Sanja?" tanya Mail, sang asisten yang kini ikut Shakir untuk datang ke desa Parupay.
"Sanja sudah tidak ada disini, sekarang dia di Jakarta." jawab Shakir hingga membuat kedua netra Mail membola.
Bertanya-tanya ada apakah gerangan sampai-sampai bidan Sanja pergi ke Jakarta.
Sibuk berpikir, ia sampai tak sadar jika sang Tuan sudah meninggalkan disini. Sementara Shakir sudah jauh diujung sana.
"Tuan! tunggu saya!" pekik Mail, lalu berlari menyusul tuannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tepat jam 4 sore, Shakir dan Mail sampai di Jakarta.
Setelah berada di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Shakir langsung menghubungi Adam. Dan Mail terus mengekori langkahnya di belakang.
Tak lama kemudian, panggilan Shakir itu mendapatkan jawaban. Adam, mengucapkan salam dan Shakir pun membalasnya.
"Apa bidan Sanja ada di rumahmu?"
"Iya, kenapa memangnya?" tanya Adam pula, sambil mengulum senyum.
Kini hubungan mereka memang sudah semakin dekat, tak ada lagi kecanggungan seperti biasanya.
Apalagi saat dulu, Luna melaporkan jika Shakir sepertinya mulai membuka hatinya untuk Sanja.
Adam, jadi makin membuka diri pada pria dari negeri Jiran itu.
Sebenarnya, Adam punya niat terselubung membawa Sanja ke Jakarta, tak hanya untuk menjadi dokter kandungan pribadi Haura, tapi juga ingin melihat secara langsung hubungan antara Shakir dan Sanja.
Ingin tahu sejauh apa hubungan diantara keduanya terjalin. Dan hari ini, saat ia mendengar Shakir yang berteriak mencari Sanja. Adam, sungguh merasa lega.
"Aku akan ke rumahmu, ada yang ingin aku katakan pada Sanja."
"Baiklah, aku akan meminta Sanja untuk menunggu kedatangan mu," balas Adam. Dengan senyumnya yang makin terkembang.
Dan setelah panggilan itu terputus. Shakir segera melaju menuju rumah Adam. mengendari mobilnya sendiri dan meminta Mail untuk tak ikut pergi.
Di Jakarta, Shakir sudah membeli rumah, termasuk memiliki beberapa pelayan yang siap melayaninya jika ia sedang berada di negeri ini.
"Tuan Shakir mau kemana?" tanya salah satu pelayan yang menjemput Shakir di bandara.
Mail tak menjawab apapun, ia hanya mengedikkan bahunya. Masih belum mengerti apa yang terjadi.
Setelah tuannya tak nampak lagi, Mail dan kedua pelayan itu pun segera masuk ke dalam mobilnya sendiri dan bergegas pulang.
Dan Shakir, semakin menekan pedal gasnya. Ingin segera sampai di rumah Adam.
Hingga beberapa menit kemudian, akhirnya ia masuk ke halaman rumah besar itu.
Hatinya berdebar, kala melihat seorang wanita yang menunggunya berdiri di teras rumah.
Shakir tersenyum, Sanja benar-benar ada disini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ibu Haura: "Mas ngintip apasih?"
Tanya Haura, saat melihat suaminya itu membuka korden jendela dan mengintip dibawah sana. Saat Haura hendak melihat pula, Adam menghalangi.
Ayah Adam : "Bukan apa-apa."
Jawab Adam, seraya mengulum senyum.
Ia melihat, Shakir dan Sanja sudah berdiri saling berhadap-hadapan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ayah Adam : Jangan Lupa Vote 👨