My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 151 - Membuat Kesepakatan



“Abang, Abang sudah bilang belum sama ibu tentang study tour kita,” tanya Azzura pada sang kakak.


Pagi ini, Azzura lebih dulu selesai bersiap-siap pergi ke sekolah. Sebelum turun ke lantai 1. Dia lebih dulu mendatangi kamar sang kakak.


Azzam, baru saja selesai memakai baju. Baju yang sudah sedari tadi disiapkan oleh pengasuhnya.


Azzam dan Azzura, memiliki pengasuhnya sendiri-sendiri.


“Abang lupa Ading, nanti ya sehabis sarapan akan abang bilang,” jawab Azzam, lalu bergegas menyisir rambutnya sendiri dengan rapi.


Sang pengasuh yang sedari tadi berdiri disebelah kedua anak ini hanya tersenyum. Begitu bangga, kedua majikan kecilnya sangat mandiri.


Terakhir, Azzam mengambil tas ranselnya dan mulai keluar dari dalam sana diikuti oleh Azzura. Sementara sang pengasuh, segera bergegas membereskan kamar.


“Kita langsung ke kamar ayah dan ibu dan saja yuk,” ajak Azzam, ia bahkan langsung menggandeng tangan sang adik dan berbelok menuju kamar kedua orang tuanya.


Mengetuk pintu itu beberapa kali lalu dibuka oleh sang ibu, Haura sangat tahu jika ketukan itu pasti berasal dari kedua anaknya.


Dan benar saja, dilihatnya Azzam dan Azzura sudah rapi, terlihat sangat tampan dan cantik. Haura tersenyum, seraya membuka pintu kamarnya lebar-lebar.


“kita tunggu ayah dulu ya,” ucap Haura, seraya berjalan masuk ke dalam kamar itu bersama Azzam dan Azurra, mereka semua memutuskan untuk duduk disisi ranjang, memperhatikan sang ayah yang sedang memakai pakaian santai, tak ada jas.


“Ayah mau kemana?” tanya Azzura heran, bahkan menatap curiga pada ayahnya itu. Merasa sang ayah akan jalan-jalan dan tidak mengajak dirinya dan sang kakak.


Dan Adam yang sedari tadi tersenyum melihat kedatangan anak-anaknya pun sontak segera menghampiri mereka.


“Hari ini, ayah dan ibu akan ke surabaya, tidak lama, nanti sore juga akan pulang. Ayah dan ibu ingin mengunjungi  pakde dan budenya kalian, juga mendatangi makan nenek dan kakek abang dan ading,” jelas Adam. Tak ingin bohong.


“Tapi, untuk sekarang ayah dan ibu belum bisa mengajak kalian. Nanti, kapan-kapan kita kembali lagi kesana bersama-sama,” timpal Adam lagi. Ia dan Haura memang sudah sepakat untuk tidak mengajak Azzam dan Azzura.


Sadar hubungannya dengan sang kakak belum membaik, Haura tak ingin kedua anaknya akan melihat pertengkaran mereka.


Tidak diajak, Azzam dan Azzura langsung saling pandang. Lalu lama-lama, Azzam dan Azzura sama-sama mengedipkan sebelah matanya sekilas.


Mendadak sebuah ide muncul di kepala kedua anak kembar ini. Tentang Study Tour mereka yang yang akan dilaksanakan 2 minggu lagi.


Study Tour ke Jepang, yang pastinya akan mengeluarkan banyak uang. Sebenarnya study tour ini tidak wajib, hanya diperuntukkan untuk anak-anak yang mau punya pengalaman tukar budaya antar negara.


Arrabela, Arnold dan Julian ikut  dalam study tour itu. Dan Azzam Azzura pun sungguh menginginkannya.


“ehem,” Azzam berdehem, sebelum menanggapi ucapan panjang lebar ayahnya tadi. Sementara Azzura diam seraya mengulum senyum, disaat seperti ini memang kakaknya lah yang mengambil peran.  Sementara dia, bagian akhir nanti, memelas jika kakaknya tak dapat membujuk sang ayah dan sang ibu.


“Baiklah, tidak apa-apa kami tidak ikut, meskipun rasanya, kami ingin sekali untuk ikut,” balas Azzam, dengan suaranya yang terdengar dingin.


“Tapi apa boleh kami meminta gantinya?” tanya Azzam, ambigu. Mulai membuat kesepakatan.


Namun tak ingin membuat Azzam dan Azzura sedih, Adam pun langsung menganggukkan kepalanya.


“Abang mau minta ganti apa? Akan ayah turuti,” jawab Adam.


“Sekarang tidak apa-apa kami tidak ikut ke Surabaya, tapi 2 minggu lagi sekolah kami ada study tour ke Jepang, bolehkan Abang dan ading ikut study tour itu?” tanya Azzam lagi, dengan takut-takut, biasa hidup sederhana, mereka merasa  jika permintaan ini sangat berlebihan. Meskipun sebenarnya Adam bahkan mampu mengajak kedua anaknya itu untuk berkeliling dunia.


Dan mendengar permintaan Azzam, baik Adam maupun Haura sama-sama menghela napasnya, lega. Dikira ingin meminta apa.


“Ayah sudah dengar tentang study tour itu, guru kalian sudah menghubungi ibu Haura, dan ibu juga sudah mendaftarkan kalian,” balas Adam apa adanya.


Jawaban yang berhasil membuat Azzura bersorak riang.


“YE!! Benarkah benarkah?” tanya Azzura yang sudah melompat dan turun dari sisi ranjang.


Adam menganggukkan kepalanya, dan Azzam Azzura segera memeluk ayahnya erat.


Jika sedang berpelukan seperti ini, maka Adam akan berjongkok. Mensejajarkan tubuhnya dengan anak-anak.


“Terima kasih Ayah,” ucap Azzam dan Azzura, kompak.


Namun malah membuat Haura mencebik.


“yang mendaftarkan kalian itu ibu, kenapa berterima kasihnya kepada Ayah,” keluh Haura, pura-pura sedih.


Azzam dan Azzura sontak terkikik, lalu memeluk pula ibunya dengan sayang.


“Terima kasih ibu,” ucap Azzam dan Azzura.


Dan Haura membalas tak kalah erat pelukan kedua anaknya.


“Kenapa ibu yang mendaftarkan kami, memangnya ayah tidak punya uang? Bukannya ayah lebih kaya daripada ibu?” tanya Azzura, menyelidik. Setelah pelukannya dengan sang ibu terlerai.


“Dulu, ayah memang kaya. Tapi setelah menikah dengan ibu, ayah jadi miskin. Semua uang ayah ibu yang pegang.” Balas Adam memelas.


Azzam dan Azzura sontak mengelus bahu ayahnya itu, merasa kasihan.


Mereka sangat tahu rasanya tak punya uang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ibu Haura : 😁😁😁😁😁