My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 164 - Tersenyum Tipis



Jakarta.


Sudah kembali dari desa Parupay, semuanya kembali sibuk dengan urusannya masing-masing.


Apalagi kini Azam dan Azura sedang disibukkan dengan menyambut ujian kenaikan kelas.


Setiap hari, sehabis pulang sekolah Azam dan Azura akan belajar bersama bersama temannya yang lain, Arabella, Julian dan Arnold.


Mereka bergilir untuk belajar dirumah satu per satu.


Dan hari ini, giliran di rumah Arnold mereka belajar bersama.


Azam dan Azzura turun dari mobil, ayah Adam sendirilah yang mengantar kedua anaknya ke rumah sahabatnya.


"Nanti kalau belajarnya sudah selesai langsung hubungi ayah, dan sebelum ayah datang menjemput, jangan pulang lebih dulu, ya?" ucap Adam, seraya berjongkok mensejajarkan diri dengan kedua anaknya itu.


Di halaman rumah Arnold.


"Siap Ayah!" jawab Azam dan Azura, kompak. Bahkan kedua anak ini bergerak mengangkat tangannya dan membuat gerakan hormat.


Lalu ketiganya sama-sama terkekeh, merasa lucu.


Selesai berpamitan, mereka berdua masuk ke dalam rumah Arnold sedangkan Adam langsung pulang.


Sampai di dalan ternyata sudah ada Julian. Tinggal Arabella sajalah yang belum datang.


"Zura, coba hubungi Arra, dia jadi datang tidak?" tanya Azam sekaligus memerintah, sudah hampir 20 menit mereka menunggu tapi Arabella tak kunjung datang.


Zura pun mengangguk lalu dengan segera menghubungi sang sepupu.


"Tidak usah buru-buru Zam, kan sekalian main di rumahku." Arnold buka suara, lalu mengambil salah satu cemilan yang berada di atas meja dan memakannya dengan lahap.


"Kata Arra, sebentar lagi dia sampai," ucap Azura setelah panggilan teleponnya usai.


Zura langsung membuka mulut saat Julian mengarahkan satu snack ke arah mulutnya, kedua netra Zura bahkan langsung berbinar saat merasakan snack itu sangat enak.


"Mau lagi mau lagi," pinta Azura hingga membuat Julian tersenyum dan Arnold terkekeh. Zura memang ratunya makan.


Disaat semua orang menikmati waktu kebersamaan mereka. Azam malah terus menggerutu. Menunggu Bella yang tidak datang-datang.


Padahal Azam ingin, belajar ini segera dimulai.


Dan 10 menik kemudian, barulah terdengar oleh mereka berempat suara langkah seseorang yang serang berlari.


Arabella sampai dengan tergesa. Bahkan sampai dihadapan mereka semua, napasnya terengah.


"Duduk disini," titah Arnold, ia lalu bergeser dan memberi ruang Arabella untuk duduk. Diantara dirinya dan juga Azam.


Arabella menurut, duduk di sana lalu meminta maaf pada semua temannya karena datang terlambat.


"Kamu selalu saja seperti itu, tidak tepat waktu," ucap Azam, seraya mencubit gemas salah satu pipi Arabella.


"Aduh! sakit Bang, aku kan sudah minta maaf," keluh Arabella, dengan bibirnya yang mencebik.


"Ini bukan masalah meminta maaf, tapi kebiasaan buruk."


"Iya iya, besok aku tidak akan mengulanginya lagi," jawab Arabella cepat, ia bahkan langsung bergelayut manja di lengan Azam. Sepupu laki-lakinya ini hanya diam, seraya menggelengkan kepala.


"Ini, minumlah dulu," tawar Arnold hingga membuat pelukan manja Arabella di lengan Azam terlepas. Lalu ia mengambil uluran gelas dari Arnold dan meminum isinya hingga hampir tandas.


Jus jeruk.


"Hem, seger," ucap Arabella membuat Arnold gemas sendiri.


Tak lama setelahnya, mereka semua akhirnya benar-benar mulai belajar. Kali ini, mereka akan belajar matematika dan Arnold adalah ahlinya.


Karena itulah, Arnold yang memimpin jalannya belajar kelompok kali ini. Ia yang sering memperhatikan teman-temannya mengerjakan soal. Jika ada yang salah, Arnold akan langsung menjelaskannya dengan pelan-pelan, hingga akhirnya semua temannya paham.


Soal :


5 + 6 x 7 - 8 : 4 \=


Azura, mengerjakannya langsung dari depan. Membuat Arnold mengulum senyumnya.


"Zura sayang, kerjakan dulu perkalian dan pembagiannya, setelah itu baru di jumlah dari depan, penjumlahan atau pengurangannya," jelas Arnold.


"Jadi bukan langsung."


"Bukan."


"Baiklah, akan aku coba."


Azura, langsung mengerjakan soalnya itu dengan cara yang diberi tahu Arnold. Sementara Arnold tetap duduk di samping Zura dan memperhatikan.


Jawaban Azura.


6 x 7 dan 8 : 4 dikerjakan terlebih dahulu.


jadi seperti ini:


5 + 42 - 2 \= ... >5 + 42 dikerjakan terlebih dahulu, baru kemudian dikurangi 2,


47 - 2 \= 45 selesai


"Seperti ini?" tanya Azura seraya menunjukkan hasil kerjanya.


"Pintar," jawab Arnold dengan bangga, ia bahkan langsung mencubit pipi gembul Azura dengan gemas.


"Arnold! jangan cubit pi_"


"Iya iya, yang boleh mencubit pipimu hanya abang Labih kan?" potong Arnold cepat, membuat Azura mendengus kesal dan semua teman-temannya tergelak.


Sampai sore tiba, akhirnya belajar bersama itu usai. Azam langsung menghubungi sang ayah untuk minta dijemput. Arabella dan Julian juga seperti ini.


Kini, kelima anak kecil ini duduk di kursi teras rumah Arnold, saling berdebat dan bertukar cerita hingga orang tua mereka menjemput.


"Kapan Haruka dan Ryu datang ke sekolah kita ya?" tanya Arabella pada semua temannya.


Dan Azam yang menjawab, "Seperti kita kemarin, semester akhir kelas 6, berarti nanti mereka akan kesini saat semester akhir kita kelas 7," jelas Azam dan semua temannya mengangguk.


"Masih lama," balas Arabella dan Azura kompak.


"Kenapa kalian ingin sekali bertemu dengan mereka?" Julian, yang buka suara.


"Karena kami sangat senang saat mendengar mereka bicara dengan logat bahasa jepang,"


"Nani o kikitaidesu ka? ( Apa yang ingin kalian dengar?" tanya Azam langsung dengan logat bahasa jepangnya yang sangat fasih. Membuat Azura dan Arabella langsung bersorak dengan senang.


"Aa!! mau dengar lagi mau dengar lagi!" sahut Azura dan Arabella kompak, bahkan kedua bocah perempuan ini melompat-lompat kegirangan.


Saat itu juga, Azam, Arnold dan Julian saling berbicara menggunakan bahasa jepang. Sementara Azura dan Arabella hanya menjadi pendengar yang baik. Bahkan sesekali bersorak saat mendengar sebuah kata yang bagi mereka terdengar menggemaskan.


Tawa anak-anak kecil ini mereda, saat melihat mobil jemputan Arabella datang lebih dulu.


Azam, langsung memasang wajah kesalnya.


"Datang terakhir pulang duluan," ketus Azam.


Semua temannya tergelak, termasuk Arabella sendiri. Berlari menuju mobil sang ibu yang menjemput, Arabella berbalik sebentar dan menjulurkan lidahnya pada Azam.


Wleck!


Membuat putra Adam Malik ini, akhirnya tersenyum tipis.