
Surabaya, jam 10.00 pagi.
Disebuah pasar kecil, di ujung desa Jambangan.
Monica, berdiri tepat disebuah toko kelontong, menyaksikan sebuah televisi yang menyala dengan suara yang keras.
Televisi itu terus bersuara diantara suara riuh pasar.
Para warga rata-rata tidak peduli dengan siaran yang sedang ditayangkan disana, namun tidak dengan Monica.
Dadanya sesak, napasnya tercekak ketika melihat pemberitaan itu. Berita tentang pernikahan sang mantan suami Adam Malik dan Haura.
Ia menangis diantara keramaian orang, namun tak ada satupun yang menyadari tangisannya itu.
Monica, saat ini benar-benar merasa sendiri.
Lamunan Monica tersadar, saat pundaknya ditepuk oleh seorang ibu-ibu.
"Monica, malah ngelamun, gek endang tuku plastik e, wes okeh kilo seng arep tuku sayur (Monica, malah melamun, cepat beli plastik, sudah banyak yang mau beli sayur," ucap Soimah, seorang pedagang sayur yang hidup sebatang kara. Ia adalah orang yang mau menampung Monica saat monica kehilangan arah dan tujuannya di kota Surabaya kala itu.
Melihat tampilan Monica yang berpenampilan bak putri orang kaya, Soimah segera menolongnya. Berharap suatu saat ia bisa mendapatkan imbalan.
Namun akhirnya Soimah merasa iba, saat Monica menceritakan siapa jati dirinya yang sebenarnya, bahwa ia telah dibuang oleh keluarga.
Hingga akhirnya, Soimah tetap menampung Monica dengan syarat Monica mau membantunya berjualan sayur mayur di pasar, seperi bayam, kangkung, kacang panjang dan masih banyak lainnya lagi.
"Iya Bude," sahut Monica, pasrah. Seraya sedikit berlari menuju penjual plastik diujung sana.
Ia tak bisa terus melawan takdir, karena nyatanya Adam memang bukan untuknya.
Ucapan Haura saat terakhir mereka bertemu terus terngiang ditelinga Monica, tentang terus menyalahkan orang lain, atau memulai hidup haru.
Dan saat ini, Monica memutuskan untuk memulai hidupnya yang baru.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Darius, duduk di kursi kebesarannya dan mulai menonton pemberitaan tentang pernikahan Adam Malik dan Haura.
Entah kenapa, ia begitu tak suka atas kebahagiaan yang Adam rasakan kali ini. Dimatanya, Adam selalu terlihat sempurna. Dan Darius begitu tak menyukai itu.
"Tuan, saya rasa saat ini Adam Malik tidak akan terlalu fokus pada perusahaan kita, jika anda ingin mengembalikan kerugian dari kontrak di Singapura saat itu saya rasa sekarang lah saatnya," ucap Yosep, memberi saran.
Tuannya sudah banyak mengalami kerugian dari tanda tangan kontrak dengan beberapa investor di Singapura kala itu. Untuk menebusnya, Darius berencana mengambil keuntungan dari keuntungan para pemegang saham.
Mengambil beberapa persen dan mengatakan jika uang untuk tambahan biaya produksi rokok mereka.
Mendengar saran Yosep, Darius menganggukkan kepalanya.
Ia bahkan tersenyum kecil.
Darius tidak tahu, jika Adam sudah memerintahkan Luna untuk menyelipkan beberapa anak buah mereka masuk ke dalam perusahaan Darius, Atmajaya Group.
Bahkan tak hanya di bagian karyawan biasa, di bagian eksekutif pun ada mata-mata Adam.
Darius tak menyadari, jika perlahan, ia telah mengikis karirnya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, disudut kota Jakarta, disebuah cafe kecil penuh dengan para pria hidung belang, Salma pun melihat tentang pemberitaan itu.
Sebuah kabar yang membuat ia hanya mampu tercenung ditempatnya duduk.
Melihat betapa beruntungnya hidup Haura saat ini, sangat berbanding terbalik dengan kehidupan yang ia jalani saat ini.
Bahkan sekilas ia melihat wajah Jodi, sang mantan suami.
Seketika air mata Salma luruh, ia menangis hingga tersedu. Penyesalan yang ia rasakan atas kejadian di masa lalu tak bisa merubah apapun.
Semua yang terlihat itu, sudah tak bisa ia gapai lagi.