
"Kamu baik-baik saja?" tanya Adam lagi pada sang wanita.
Kini ia dan Haura duduk di teras toko itu. Sementara Jodi, Aminah dan Pandu sudah masuk kedalam sana.
Tadi, Adam pun sudah berkenalan dengan pandu. Memperkenalkan dirinya sebagai ayah Azzam dan juga Azzura.
Sementara Pandu tercengang, ia tak menyangka, jika pria yang sedari tadi ia bicarakan dengan Haura ternyata sangat kaya dan juga tampan.
Paket komplit.
Bahkan Pandu sampai gugup sendiri, saat Adam mengulurkan tangannya, berkenalan.
"Iya Mas, aku baik-baik saja," jawab Haura apa adanya.
Ia bahkan menjawab dengan tersenyum pula. Namun matanya masih sayu.
"Jangan bohong, sekarang aku disini, berbagilah denganku, tentang semuanya," balas Adam. Ia bahkan mengambil salah satu tangan Haura untuk digenggamnya erat.
Tangan yang terasa begitu dingin.
Jika boleh jujur, Haura memang tidak baik-baik saja. Semua tuduhan yang diberikan sang tante memang mengusik hatinya.
Wajar jika Salma berpikir jika ia adalah wanita hina, bahkan semua orang di bumi inipun akan menganggapnya sama. Karena mereka semua tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, hingga ia sampai memiliki dua orang anak dari seorang Adam Malik.
Haura makin merasa tak nyaman lagi, ketika kelak Azzam dan Azzura pun menganggapnya seperti itu.
"Mas," panggil Haura lirih, ia menatap kedua netra Adam yang juga menatapnya lekat.
Sementara Adam hanya terdiam, menunggu apa yang akan diucapkan oleh Haura.
"Bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Haura, menatap penuh harap.
"Katakan, apapun itu akan aku penuhi," jawab Adam yakin, ia bahkan mencium tangan Haura yang digenggamnya erat. Ingin Haura tahu, bahwa Haura begitu berharga baginya.
Maka apapun keinginan Haura itu, akan Adam penuhi bagaimanapun caranya.
Haura tak langsung menjawab, seolah banyak sekali pertimbangan dalam benaknya. Jika ia meminta Adam untuk menjelaskan semua, maka yang akan tersudut adalah Monica.
Namun jika tidak, maka Haura lah yang terus dipandang sebelah mata.
Haura menarik dan menghembuskan napasnya pelan. Cukup ia merasa tersakiti, kini ia tidak mau lagi. Terlebih kini ia sudah memiliki Azzam dan juga Azzura.
Maka harga dirinya, juga adalah harga diri kedua anaknya.
Namun saat hendak kembali berucap, Haura kembali urung.
Bagaimana jika Azzam dan Azzura tahu, jika mereka adalah hasil dari sebuah kesalahan? batin Haura.
Ya Allah. Batinnya lagi, merasa bingung, hingga kepalanya seolah nyaris pecah.
Apalagi Azzam, anak yang memiliki pemikiran begitu matang. Azzam pasti akan mengerti perihal ini semua.
Ya Allah, aku ingin mereka tahu jika ayah dan ibunya saling mencintai. Dulu hingga kini. Sehingga mereka akan merasa berharga.
"Haura? apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Adam, hingga membuyarkan semua lamunan itu.
Terkisap, Haura lalu kembali menatap Adam.
"Maaf Mas, aku melamun," pinta Haura sungguh-sungguh.
Melihat itu, Adam semakin yakin, jika Haura tidak sedang baik-baik saja. Adam ingin sekali menarik Haura dan membawanya masuk ke dalam pelukan. Menciumi wajahnya, memberikan ketenangan. Namun saat ini, ia masih belum bisa melakukan itu semua.
Yang bisa Adam lakukan hanya terus menggenggam erat tangan Haura.
Hanya sebatas itu.
"Apa kamu tidak ingin berbagi padaku?" tanya Adam, sendu.
Melihat wajah Adam yang kecewa, Haura langsung menggelengkan kepalanya, "Bukan Mas, tidak seperti itu," jawab Haura cepat.
Ia bahkan memutar tubuhnya hingga kini semakin menghadap ke arah Adam.
Lalu tanpa menunda lagi, Haura menceritakan semua kegundahan hatinya. Tentang tuduhan sang tante, tentang ia dan Monica yang harus terpojok salah satunya, dan juga tentang Azzam dan Azzura anak mereka berdua.
Adam sudah berencana membeberkan kebenaran ini saat hari pernikahan mereka.
Namun sebelum itu, Adam memang butuh kesepakatan dengan wanita cantik dihadapannya ini. Agar nanti cerita yang ia buat, tak sekedar kehendaknya saja.
"Maafkan aku Haura, aku membuatmu berada diposisi yang sulit. Tapi percayalah, aku akan memperbaiki semuanya," jelas Adam, tangannya mulai turun hingga membelai lembut salah satu pipi Haura.
"Sekarang, ayo kita buat kesepakatan. Dulu, saat kita melakukan itu, kita adalah sepasang kekasih, bagaimana?" tanya Adam, kini tangannya sudah turun dari pipi, kembali hanya menggenggam erat tangan Haura.
Mendengar itu Haura nampak berpikir, menimang-nimang bagaimana baiknya.
"Tidak mau, bagaimana jika kita melakukan itu saat kita sudah menikah siri," jelas Haura kemudian, hingga membuat Adam terkekeh.
Ternyata Haura, lebih totalitas dibanding dirinya.
"Baiklah, kita minta om Jodi juga untuk mejadi saksi." timpal Adam kemudian.
Mereka sudah sepakat, untuk membuat sebuah kebohongan. Agar Azzam dan Azzura merasa, mereka tidak terlahir dari hubungan yang terlarang. Lalu tentang perpisahan itu, mereka akan tetap menyalahkan Monica.
Berbohong demi kebaikan? Haura menyetujui itu.
"Aku mencintaimu Haura," ucap Adam, saat melihat Haura yang sudah kembali tersenyum ceria.
Sangat cantik.
Namun seketika senyum Haura surut ketika mendengar kata cinta itu.
Mendadak gugup menguasai dirinya.
Haura tahu, Adam menunggu jawaban. Namun ia begitu malu untuk mengungkapkan.
Rasanya begitu canggung.
"Aku juga," balas Haura kemudian, lalu memalingkan wajah sejauh mungkin.
Menutupi kedua pipinya yang sudah seperti kepiting rebus, merah merona.
Dan dari dalam sana, Aminah terus mengukir senyum saat melihat kedekatan Adam dan Haura itu. Keduanya dapat ia lihat dengan jelas, melalui dinding kaca.
"Terima kasih ya Allah, terima kasih, karena Adam berhasil menyembuhkan luka Haura," gumam Aminah pelan.
Matanya lurus menatap kearah luar, sampai tanpa sadar tangannya tertusuk duri bunga mawar yang sedang ia pegang.
"Astagfirullah," ucap Aminah terkejut.
Jodi yang mendengarnya pun langsung berlari menghampiri.
"Mbak, kenapa?" tanya Jodi cemas, namun saat melihat Aminah yang menekan-nekan jari telunjuknya, ia bisa tahu jika Aminah baru saja tertusuk duri.
"Lain kali hati-hati, aku tidak ingin Mbak terluka," jelas Jodi, ia lalu ke meja kasir, mengambil kotak p3k dan mengambil satu hansaplas.
"Pakailah ini," titah Jodi yang sudah kembali menghampiri Aminah.
Tanpa banyak berdebat pun Aminah langsung mengambil hansaplas itu dan membalutnya diatas luka jari telunjuk.
Karena terkejut, tanpa sadar Aminah malah memperparah lukanya. Bukan hanya tertusuk, namun sampai tergores.
"Ini biar aku yang rapikan," ucap Jodi lagi seraya duduk disebelah Aminah, membenahi beberapa bunga mawar yang baru sampai untuk masuk di vas bunga pajangan.
Saat itu, Aminah hanya terdiam, namun terus memperhatikan Jodi yang tengah asik sendiri bekerja.
Melihat Jodi yang gigih seperti itu, Aminah jadi teringat Haura dulu. Bagaimana Haura begitu pantang menyerah.
Mengingat Haura dan Jodi, Aminah jadi teringat pula pada Hasan. Sang kakak yang pernah diceritakan oleh Haura.
"Pak Jodi, dimana kakak Haura tinggal, Hasan?" tanya Aminah langsung. Kenapa sejak kembali pindah ke Jakarta, baik Haura ataupun Hasan belum ada yang mencoba untuk bisa bertemu.
Mendengar nama Hasan disebut, seketika pergerakan tangan Jodi terhenti.
Jodi, begitu membenci laki-laki itu. Jika boleh, bahkan iapun ingin Haura tak perlu mengingatnya.
"Hasan tinggal di kampung, bukan di Jakarta," jelas Jodi apa adanya, dan Aminah hanya menganggukkan kepala sebagai tanggapan.