
Menjelang sore hari, Adam dan Haura sudah kembali dari hutan. Gerimis turun saat mereka baru saja keluar dari dalam hutan rimba itu.
Keduanya saling menggenggam erat dan jalan beriringan.
Sesekali terkekeh, kala membicarakan hal-hal yang lucu.
Nyaris magrib, mereka baru sampai di rumah. Di kursi teras rumah sudah ada beberapa kotak makanan, entah siapa yang meletakkannya.
“Apa itu sayang?” tanya Adam, Haura pun lantas membuka satu per satu dan memeriksanya.
Ada secarik kertas kecil diatas kotak nasi itu, mengatakan jika ini semua adalah pemberian ibu Ririn dan ibunya Nanjan.
“Ini dari ibu Ririn dan ibu Harsa Mas, ibunya Nanjan,” jelas Haura, mendengar itu Adam pun mengukir senyumnya. Sampai detik ini Adam masih tidak menyangka. Jika warga desa Parupay memang begitu baik.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu itu rapat-rapat. Tapi semilir angin gerimis masih mampu menembus sela-sela dinding rumah itu.
“Kita mandi bersama ya?” tawar Adam, karena sebentar lagi adzan magrib berkumandang, rasanya mereka tidak akan punya cukup waktu jika harus mandi secara bergantian.
“Iya Mas,” jawab Haura patuh.
Adam lalu menimba air di sumur sementara Haura membereskan barang-barang yang ia bawa, beberapa buah dan jamur dari hutan. Lalu menyusun kotak nasi pemberian ibu Ririn dan bu Harsa di meja makan.
Setelah beres, Haura mengambil handuk mereka di dalam kamar dan segera menemui sang suami di dalam kamar mandi. Menutup pintunya dan mulai mandi bersama.
Keluar dari dalam kamar mandi, keduanya terkekeh, merasa lucu sendiri ketika mandi bersama seperti ini. Haura terus meminta suaminya untuk memunggunginya, namun Adam tetap kukuh tidak mau.
Berjalan masuk ke dalam rumah, Adam, langsung mengangkat tubuh istrinya itu, menggendongnya layaknya pengantin baru.
Haura bahkan sampai menjerit kecil merasa terkejut.
Tubuh mereka sama-sama basah namun tak menghalangi Haura untuk memeluk erat tubuh polos sang suami.
“Bisakah kita tidak usah kembali ke Jakarta, kita disini saja,” pinta Adam, mencium hidung istrinya sekilas seraya terus berjalan menuju kamar.
“Bagaimana dengan Azzam dan Azzura?”
“Aahhh!!” keluh Adam, “Kita minta Luna untuk mengantarkan mereka kesini,” timpal Adam lagi hingga membuat Haura terkekeh.
Adam sungguh menikmati waktunya di desa Parupay, tidak ada hingar bingar kota, tidak ada kesibukan dalam bekerja. Dan hanya menghabiskan waktu bersama dengan sang istri tercinta. Adam, sungguh menyukai ini.
Andaikan bisa, ia bahkan ingin menghentikan waktu.
“Sayang ...” panggil Haura pelan, sebuah panggilan yang membuat Adam menghentikan langkahnya, tepat diambang pintu kamar mereka.
“Kita bisa kembali kesini kapanpun, tidak perlu pindah,” jelas Haura, ia bahkan membelai lembut wajah suaminya itu. Hingga membuat Adam merasa begitu nyaman.
“Tiap minggu? Untuk apa? Kenapa sering sekali?” tanya Haura bertubi, heran.
“Untuk bulan madu,” jawab Adam lirih, lalu menyatukan hidung keduanya.
Haura tersenyum, senyum yang sangat lebar, ia benar-benar seperti seorang remaja yang tengah jatuh cinta. Hatinya terus berdebar kala mendengar semua rayuan sang suami.
Haura menyambut, saat suaminya itu mengecupi bibirnya. Namun buru-buru menahan dada sang suami, saat ciuman itu berubah jadi lebih menuntut.
“Adzan Mas, kita shalat dulu,” pinta Haura dengan mengigit bibirnya yang terasa kebas.
Adzan magrib sudah berkumandang dengan begitu jelas.
Adam tersenyum, seperti diluar kendalinya, ia selalu saja ingin menyatukan diri dengan sang istri.
“Iya Sayang,” jawab Adam, lalu kembali berjalan dan masuk ke dalam kamar. Mendudukkan istrinya itu disisi ranjang dan mulai berganti pakaian.
Seperti malam kemarin, setelah melaksanakan shalat magrib dan makan malam, Adam dan Haura memutuskan untuk duduk di kursi teras rumah mereka, menikmati malam di desa Parupay yang dikuasai oleh suara jangkrik.
“Sayang, aku telepon Luna sebentar ya?” pamit Adam dan Haura menganggukkan kepalanya.
Adam menelpon sang asisten sekaligus memeluk erat tubuh istrinya, Haura kini bersandar di dada bidang sang suami.
“Bagaimana?” tanya adam langsung, pada panggilan teleponnya dengan Luna.
“Semuanya sesuai rencana Tuan, saat anda kembali ke Jakarta saya pastikan Darius tidak akan ada lagi disini.”
“Bagus,” jawab Adam kemudian, lalu memutus sambungan telepon itu.
Haura yang mendengarkan panggilan sang suami mengulum senyumnya, merasa Lucu. Dalam panggilan itu, Adam hanya mengatakan dua kata, Bagaimana dan Bagus.
“kenapa tertawa?” tanya Adam, heran.
Ditanya, Haura pun bangkit dari pelukan suaminya dan duduk dengan sempurna. Menatap kedua netra sang suami, dengan bibir yang senyum-senyum sendiri.
“Mas Lucu, masa telepon Cuma bilang dua kata, Bagaimana, Bagus, sudah,” jawab Haura, yang masih setia terkekeh.
Kekehan yang membuat Adam ikut tersenyum pula.
“Jadi aku harus bagaimana? Bertanya lebih, misalnya, Luna apa kamu sudah makan?” goda Adam, hingga membuat Haura langsung memukul dadanya, pelan. Lengkap dengan wajahnya yang langsung ditekuk.
Kini, giliran Adam yang terkekeh.
“Jangan cemburu, aku gemas,” jujur Adam lalu kembali menarik dan memeluk istrinya erat.