
Sementara itu, dibelahan daerah yang lain. Haura sedikit berlari menuju rumahnya. Langit sudah begitu mendung, nyaris menjatuhkan air hujan.
Dan benar saja, sampai ia di teras rumah, hujan itu mengguyur tanpa ampun. Langsung datang dengan begitu derasnya.
Sore kali ini sama seperti kemarin, hujan.
Merasa angin menerpanya dengan begitu kencang, Haura memutuskan segera masuk ke dalam rumah. Rumah yang sama seperti saat ia pertama kali datang kesini.
Haura dan Aminah sepakat, untuk tidak merubah rumah itu barang sedikitpun.
Rumah yang bagi keduanya menyimpan banyak kenangan, tak hanya tentang air mata namun juga kehangatan sebuah keluarga.
Sudah 2 hari Haura berada di desa ini.
Shakir sudah kembali ke Malaysia sejak hari pertama, ia memang sengaja hanya ingin mengantar Haura, sudah bukan menjadi urusannya untuk mengambil hasil panen di perkebunan, melainkan Mail, sang asisten.
Selesai mandi dan melaksanakan shalat ashar, Haura bergegas ke dapur, membuat sup jamur kesukaannya dan juga Azzam dan Azzura.
Dulu, mereka sering sekali membuat sup jamur ini, jamur yang Haura cari di dalam hutan.
"Besok aku akan kembali ke hutan, aku akan bawa jamur dan beberapa buah-buahan ke Jakarta," ucap Haura seraya mulai mengambil beberapa kayu bakar dan menghidupkan api di dalam tungku.
"Astagfirulahalazim," ucap Haura terkejut, saat terdengar suara petir yang menggelegar, suaranya begitu keras. Bahkan kilap itu sampai masuk ke dalam rumahnya.
"Ya Allah, semoga Azzam dan Azzura disana baik-baik saja," gumamnya pelan, seraya menerawang jauh memikirkan nasib kedua anaknya, yang kini sedang berada di pengasuhan sang ayah.
Mengingat ayah kedua anaknya, Haura jadi teringat perbincangan mereka hari itu, saat ia pamit untuk pergi.
Adam mengatakan, ia akan membangun tower untuk Haura, agar saat pulang besok Haura bisa menghubungi Adam.
Tapi nyatanya, tak ada seorangpun yang mendirikan tower signal itu disini.
Haura tersenyum kecil.
"Ternyata aku menunggu dia," gumam Haura, merasa tak percaya dengan kelakuannya sendiri.
Namun dengan cepat, Haura segera menepis rasa itu. Sudah bukan hal yang aneh jika Adam membohongi dirinya, Haura hanya mencoba untuk membiasakan diri.
Mendengar kata-kata manis, yang tidak bisa menjadi kenyataan.
Tok tok tok!
Pintu rumah Haura diketuk oleh seseorang, mendengar itu Haura mengeryit bingung. Siapa yang datang diantara hujan lebat seperti ini.
Tanpa pikir panjang, Haura segera memundurkan apinya dan segera membuka pintu.
Labih dan Nanjan berdiri di sana, mereka berdua menggunakan payung masing-masing, namun tetap membuat tubuh mereka basah.
"Acik, kata ibu Acik disuruh menginap di rumah saja, sepertinya hujan akan turun semalaman," jelas Labih langsung.
Bahkan sebelum Haura menanyakan maksud kedatangan mereka.
"Iya Cil, sebaiknya Acil menginap di rumah Labih, apalagi Acil sendirian disini," timpal Nanjan pula.
Haura tersenyum, lalu meminta kedua anak ini untuk masuk.
"Biarlah, Acil di rumah ini saja, lagipula Acil rindu tidur di rumah ini," jelas Haura saat Labih dan Nanjan duduk di kursi ruang tamu, kursi kayu yang berjajar dengan rapi.
Labih dan Nanjan akhirnya tak bisa apa-apa, tak mungkin mereka juga akan memaksa. Haura memberikan 2 mantel plastik untuk Labih dan Nanjan, juga membungkuskan masing-masing sup jamur yang dibuatnya.
Labih dan Nanjan terpaksa pulang, membiarkan Haura malam ini seorang diri di rumah itu, dalam keadaan hujan badai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, hujan masih mengguyur desa Parupay, sepertinya akan sulit untuk mencari penerbangan yang akan membawanya kembali ke kota Jakarta jika dalam cuaca seperti ini.
Rasanya pun tak akan mungkin Adam akan datang untuk menjemput. Batin Haura, ternyata ia masih saja menunggu pria itu.
Haura tersenyum kecil, lalu menggeleng.
Selesai membereskan rumah dan sarapan, hujan mulai sedikit mereda, tetap turun meski tak sederas subuh tadi.
Banyak pula pohon cabai yang tumbang karena angin kencang semalam.
"Acik, bagaimana ini banyak tanaman yang rusak?" tanya Labih pada juragannya itu.
Tapi Haura sedikitpun tak menunjukkan wajah cemasnya seperti Labih, ia malah tersenyum seraya mengelus bahu Labih. Anak yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.
"Hujan itu berkah Labih, jangan disesali. Jika hujan membawa kerugian untuk kita, mungkin ini adalah teguran," jelas Haura.
Ia juga meminta Labih untuk mencabut beberapa tanaman yang rusak, lalu mensedekahkan sebagian hasil panen mereka sampai ke desa sebelah.
Sampai waktu zuhur tiba, hujan berubah jadi gerimis. Haura melaksanakan shalat zuhur di masjid, ia memutuskan untuk tidak pulang. Setelah shalat, ia langsung masuk ke dalam hutan.
Pulang ke Jakarta, ia akan mengambil penerbangan malam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Atap gedung Malik Kingdom.
Sehabis shalat zuhur dan memulangkan Azzam dan Azzura ke rumah Aminah. Adam segera bergegas pergi ke Kalimantan, menjemput Haura.
Jika di Kalimantan hujan sudah jadi gerimis, di Jakarta masih mengguyur dengan begitu lebatnya.
Tapi itu bukanlah halangan bagi seorang Adam untuk menjemput Haura. Ia dan Luna pergi ke Kalimantan menggunakan helikopter sang CEO.
Helikopter itu terus melaju di atas awan membelah hujan.
Hingga beberapa jam kemudian, helikopter itu mendarat di desa Parupay. Kedatangan helikopter itu sontak mencuri perhatian semua orang. Terlebih saat itu, gerimis sudah berubah kembali menjadi hujan lebat.
Bahkan kilap sering menyambar berulang kali.
Luna dan Adam turun, lalu langsung memutuskan untuk pergi ke rumah Haura. Berjalan melewati jalan setapak yang dialiri oleh air hujan.
Sampai di sana, rumah itu tutup, bahkan nampak jelas tak berpenghuni. Berulang kali Adam dan Luna mengetuk, tetap tak ada sahutan dari dalam sana.
Hingga Labih datang seorang diri ke rumah itu.
Labih mendapat laporan dari salah satu warga jika ada orang kota yang mendatangi rumah Haura. Maka bergegaslah ia datang kesini.
"Amang cari acil Haura?" tanya Labih langsung.
"Iya, kamu siapa?" tanya Adam pula.
Labih pun langsung mengenalkan diri tanpa sungkan, bahwa ialah yang mengurus perkebunan acik Haura disini.
"Sehabis zuhur Acil masuk hutan, mungkin sebentar lagi pulang," jelas Labih apa adanya, begitulah izin Haura sebelum pergi tadi. Tapi karena hujan deras, mungkin acik berteduh, begitulah pikir Labih.
Labih tak merasa cemas, karena hutan bukanlah tempat asing bagi Haura. Hutan itu sudah seperti rumahnya sendiri. Bahkan dikegelapan malam, Haura tetap bisa menemukan jalan pulang.
Lain Labih lain pula Adam, mendengar kata masuk hutan, ia langsung terbelalak, pun Luna yang merasa tak percaya.
Keduanya yakin, jika Haura pasti tersesat.
"Tunjukkan padaku dimana hutan itu," ucap Adam dengan suaranya yang tegas dan terdengar dingin.
Bahkan Labih sampai tak bisa menjawabpi kalimat itu, akhirnya Labih hanya bisa menurut dan menunjukkan jalan menuju hutan.
"Luna, hubungi tim sar, dan segera minta mereka untuk menyisir seluruh hutan. Aku akan menembakkan pistol ketika sudah menemukan Haura," ucap Adam pada aaistennya itu.
Dan Luna mengangguk patuh. Ia dan Luna memang selalu membawa pistol kemanapun, untuk menjaga diri mereka.
Dan Labih yang mendengar kata pistol malah semakin bergetar, ia tak berani untuk menghentikan langkah Adam yang masuk ke dalam hutan seorang diri.
Labih yakin, kini yang akan tersesat adalah pria itu, bukan acil Haura, batinnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan Lupa Like dan komen sebanyak-banyaknya ya 😘
Besok Ayah Adam tersesat di hutaan 😭😍