
"Tuan Adam juga mengatakan, jika Anda jangan sekali-kali kembali mengusik kehidupan beliau dan semua keluarganya, termasuk juga nyonya Haura beserta Azzam dan Azzura," jelas Hotman lagi.
Ia masih berdiri disebelah Monica yang tengah tersungkur diatas jalanan.
"Apa Mas Adam tidak ingin menemuiku?"
"Tidak," jawab Hotman tepat.
Dan tanpa permisi, air mata Monica makin mengalir dengan deras. Susah payah, akhirnya ia bangkit.
"Gunakan uang ini sebaik mungkin," jelas Hotman, seraya meyerahkan amplop coklat yang begitu tebal, berisi uang tunai 100 juta rupiah.
Monica tersenyum getir, uang 100 juta rupiah biasanya hanya ia habiskan dalam satu hari, namun kini ia harus menggunakan uang ini untuk bertahan hidup.
Tanpa segan, Monica mengambil uang itu. Memeluknya erat seolah itu adalah barang berharga.
Dan setelah menyerahkan uang itu, Hotman segera pergi meninggalkan Monica. Setelah memastikan, jika mansion dan beberapa mobil milik Monica sudah dalam kuasanya.
"Bahkan mobilku pun kamu ambil Mas," gumam Monica miris.
Ia masih berdiri didepan mansion itu meskipun telah lama Hotman dan semua aparat kepolisian pergi. Memandangi mansion yang menjadi saksi bisu perjalanan hiduonya, sejak Monica kecil hingga kini Monica telah dewasa.
Air mata Monica terus mengalir tanpa henti.
Disalah satu sisi ia menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi ini, namun disisi lain, iapun masih menyalahkan orang lain.
Darius, Adam, Haura dan juga Luna.
Keempat orang itu memiliki andil dalam kehancuran hidupnya.
"Tidak, aku tidak boleh seperti ini," gumam Monica diantara isak tangis yang coba ia redam. Bahkan dengan kasar, Monica mulai menghapus air matanya sendiri.
"Aku pasti bisa bangkit, aku pasti bisa menunjukkan kepada mereka semua jika hidupku akan baik-baik saja," gumamnya lagi, merasa yakin.
Lalu dengan semua keyakinannya itu, Monica segera pergi dari sana. Memanggil taksi dan menuju hotel yang akan menjadi tempat tinggal sementaranya.
Memesan kamar seperti biasa, kamar Presidential suite yang selalu ia gunakan ketika tidur di hotel.
Kamar dengan harga sewa 50 juta per malamnya.
Setelah memesan kamar dan beristirahat sejenak, sore itu Monica berniat untuk menemui beberapa temannya guna meminta pertolongan.
Bahkan Monica bersedia, jika harus bekerja di kantor milik salah satu temannya itu.
Menggunakan mobil taksi Monica kesana kesini, namun sayang, tak ada satupun teman yang sudi menolongnya.
Mereka semua menilai, jika Monica adalah seorang penjahat. Karena itulah, mereka enggan untuk membantu.
"Argh!" teriak Monica di dalam taksi, ia bahkan mengacak-acak rambutnya frustasi.
Sumpah demi apapun, ia tidak menyangka jika semuanya akan jadi sesulit ini.
"Aku harus menemui ibu Zahra, ibu Zahra harus menolongku," ucap Monica, dengan kedua netranya yang mulai basah. Nyaris saja air matanya kembali tumpah.
Sampai di mansion Zahra.
Langkah Monica terhenti tepat di pintu gerbang mansion itu, ia tak diizinkan masuk. Bahkan ada pula penambahan keamanan di sana.
"Lepas! biarkan aku masuk!" pekik Monica, ia merasa tak terima ketika kedua tangannya dicekal begitu kuat.
"Maaf Nyonya, tapi Nyonya Zahra tidak mengizinkan anda untuk masuk," jawab salah satu pria berbadan kekar itu.
"Lepas!" sekuat tenaga, Monica menarik tangannya, namun tetap gagal. Ia masih kalah tenaga dengan dua pria yang mencekal tangannya.
Bahkan kedua pria itupun mulai menarik tubuhnya, menjauh dari pintu gerbang mansion.
"Ibu! Ibu Zahraaa!" pekik Monica, air matanya mengalir tak bisa lagi dibendung.
"Bu! maafkan aku Bu! aku mohon bantu aku!" teriak Monica lagi dengan suaranya yang serak. Bahkan rasanya begitu tercekak di tenggorokan.
Namun kedua pria itu tak peduli dengan isak tangis sang mantan nyonya, mereka hanya menjalankan tugas.
Tanpa segan, kedua pria itu mendorong tubuh Monica hingga terhuyung dan nyaris jatuh.
"Saya mohon Nyoya, jangan kembali lagi ke mansion ini. Jika anda memaksa, saya tidak akan segan untuk mengusir anda," jelas salah satu pria.
Lalu tanpa menunggu Monica menjawab, kedua pria itu segera bergegas berlalu. Meninggalkan Monica berada dipinggiran jalanan.
Menangis, hingga tersedu.
"Darius, aku harus menemui pria badjingan itu. Dialah yang menjerumuskan aku dalam keadaan ini," gumam Monica.
Lagi, ia kembali menghapus air matanya sendiri dan segera pergi. Kini, Monica sudah tidak bisa berhenti. Jika kini ia berhenti, maka hidupnya bisa dipastikan akan terus seperti ini , kekurangan harta.
Zahra, bukannya tidak tahu perihal kedatangan Monica itu. Namun kemarahannya pada Monica masih belum mereda, karena itulah ia tak ingin bertemu.
Monica, bukan hanya memisahkan Adam dan Haura. Monica bahkan menutupi perihal kehamilan Haura kala itu. Monica juga berniat membunuh Haura dengan menyewa beberapa orang untuk menabrak Haura, berniat menukar hasil tes DNA Adam dan kedua anaknya. Juga melakukan berbagai cara untuk selau memojokan Haura.
Monica, membuat hidup anaknya seolah hanyalah sebuah permainan.
Dan kesalahan yang sudah menumpuk itu, tidak bisa dengan mudah Zahra maafkan.