
Luna bangun lebih pagi dari suaminya itu, tapi dia bingung harus melakukan apa dulu.
Selesai membersihkan tubuhnya setelah percintaan semalam, Luna memutuskan untuk keluar dari dalam kamarnya. Jam masih menunjukkan pukul 5 subuh, dia membiarkan Edgar tetap tidur.
Apalagi nanti suaminya itu ada perjalanan bisnis ke kota Jambi. Luna ingin memberi waktu lebih suaminya untuk beristirahat.
Wanita cantik dan memiliki postur tubuh tinggi semampai ini memutuskan untuk pergi ke dapur. Meskipun ia masih belum tau apa yang bisa ia lakukan di sana.
Masih suasana pengantin baru, Luna dan Edgar memutuskan untuk tinggal hanya berdua saja, tidak ada asisten rumah tangga. Mereka juga memutuskan untuk tinggal di rumah yang lebih kecil. Rumah lantai satu dan tidak terlalu luas. Rumah yang mereka gunakan untuk menikmati kebersamaan.
Membuka lemari pendingin dan melihat isinya. Luna, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bagaimana ini? aku harus buat apa?" gumam Luna, bingung.
Ia memang ahli dalam bela diri, bahkan begitu cekatan dalam pekerjaannya. Tapi Luna bukanlah wanita sempura. Terbukti hingga kini ia tidak bisa masak.
Bahkan bumbu yang ia tahu hanya cabe, bawang merah dan bawang putih. Semua itu dicampur jadi satu dan selesai.
Membuka bagian freezer, Luna mulai mengukir senyumnya. Ada beberapa kotak makanan yang tersedia di sana. Makanan beku yang tinggal ia panaskan.
"Ya Allah, senengnyaa," ucap Luna riang.
Ini adalah beberapa makanan yang dikirimkan ibu mertuanya kemarin. Ternyata masih ada banyak di dalam lemari pendingin ini.
Dengan antusias, Luna mulai mengeluarkan beberapa kotak dan memanaskannya. Kalau memasak nasi, ia bisa.
Cukup lama berkutat di dapur, akhirnya semua sudah tersaji di meja makan. Sesekali Luna mencicipi banyak makanan itu, merasa bangga, seolah ia yang masak.
Kadang Luna pun terkekeh sendiri, menertawai dirinya sendiri.
"Aku harus kursus masak mulai sekarang," gumam Luna lagi lalu mencuci tangannya di westafel.
Sudah hampir 15 menit Edgar memperhatikan Luna dan bersandar di dinding pintu masuk dapur.
Edgar pun tersenyum tiap kali melihat tingkah sang istri.
Merasa Luna tidak menyadari keberadaannya, Edgar pun mendekat dengan perlahan. Lebih mirip mengendap-ngendap.
Lalu dengan perlahan memeluk sang istri dari arah belakang.
"Aduh aduh aduh! ampun!" keluh Edgar, pasalnya Luna langsung memutar tangannya hingga tubuhnya pun ikut berputar dan berujung terpojok dimeja pantri.
Luna, buru-buru melepas cengkeramannya dan membantu sang suami berdiri tegap.
"Maass," lirih Luna merasa bersalah. Ia pikir tadi ada pencuri.
Sementara Edgar hanya terkekeh diantara rasa sakit di pergelangan tangannya. Edgar lupa jika istrinya ini berbeda.
"Maaf," lirih Luna lagi dengan memasang wajah penuh penyesalan.
Edgar seperti melihat sebuah peluang yang akan menguntungkan dirinya dari rasa bersalah istrinya itu. Edgar lalu menarik pinggang sang istri dan mendekapnya erat.
"Tangan kananku sakit, berarti seharian ini kamu harus suapi aku tiap waktu makan tiba. Itu artinya kamu juga harus ikut aku ke Jambi."
Luna tidak bisa menjawab apa-apa, hanya meletakkan kedua tangannya di dada bidang sang suami. Menahan agar tubuh mereka tetap berada pada posisi aman.
"Aku juga jadi tidak bisa mandi sendiri, kamu harus membantuku mandi."
Saat itu juga Luna langsung menelan salivanya dengan susah payah.
"Memberi sabun, menggosok dan membasuhnya lagi," ucap Edgar dan mampu membuat pikiran Luna langsung melayang kemana-mana.