
Helikopter Adam berhenti tepat di atap gedung Malik Kingdom.
Kedua mata Haura membola, tak menyangka ia akan mendarat di gedung setinggi ini. Bukannya merasa senang, Haura malah merasa takut.
Bagaimana jika ia jatuh? bagaimana jika ada angin kencang yang membawanya melayang? Bagaimana jika gedung ini ambruk?
Dan masih banyak bagaimana-bagaimana lainnya lagi yang terus berputar-putar di kepala Haura.
Wajahnya memucat, bahkan ia mencengkram kuat jas yang dikenakan oleh Adam.
"Kenapa kita turun disini? kenapa tidak turun di lapangan saja, sama seperti saat di desa," tanya Haura dengan suaranya yang bergetar, wajahnya sudah pucat.
"Tenanglah, kita akan baik-baik saja," jawab Adam, ia bahkan melepaskan cengkraman tangan Haura dari jasnya, lalu menggenggam tangan itu erat, menautkan jari keduanya.
"Ada aku," timpal Adam lagi, lalu mulai bergerak untuk turun.
Haura tak bisa melawan, ia hanya terus menggenggam tangan Adam erat. Takut atau tidak, Mau ataupun tidak, ia tetap harus ikut turun. Tidak mungkin selamanya ia akan berada di dalam helikopter ini.
Dengan perlahan, akhirnya Adam dan Haura turun. Luna pun sudah menunggu dengan siap. Sementara mesin helikopter sudah mati sedari tadi.
"Ini sebenarnya dimana? kenapa gedung ini tinggi sekali, apa semua helikopter selalu mendarat disini?" tanya Haura bertubi, kini ia tak hanya menggenggam erat tangan Adam, namun juga memeluk lengannya erat.
Terus berjalan, menuju salah satu pintu yang Haura yakini pintu itu akan membawanya masuk ke dalam gedung ini.
"Ini adalah gedung Malik Kingdom," jelas Adam, ia melirik Haura ingin tahu bagaimana reaksi dari ibu anak-anaknya ini.
Tapi sedikitpun, Haura tak menunjukkan keterkejutannya. Wajahnya masih sama, ketakutan masih mendominasi.
Haura seolah tak peduli dengan nama Malik Kingdom itu, terutama Maliknya.
"Ini gedung Malik Kingdom, Haura," ucap Adam lagi dan Haura hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Iya, aku sudah dengar," jawab Haura kemudian.
Lalu wanita ini bernapas lega, ketika mereka semua sudah mulai masuk ke dalam gedung. Dengan perlahan pula Haura melepaskan pelukannya dari lengan Adam, dan berniat melepaskan genggamannya itu pula.
Namun dengan cepat, Adam kembali menahannya.
"Kamu tahu siapa namaku?" tanya Adam, ia berhenti melangkah, dan seketika itu juga Haura pun menghentikan langkahnya, lalu menatap Adam yang sedang menatapnya lekat.
Haura mengangguk, "Tahu, Adam kan?"
"Adam siapa?"
"Adam Malik," jawab Haura dengan sedikit ragu, takut salah, ia jadi bingung sendiri ketika ditanya seperti ini. Malik atau Halik? batin Haura bingung.
"Ya, benar, namaku adalah Adam Malik. Dan gedung ini adalah gedung Malik Kingdom, kamu tahu artinya?" tanya Adam lagi.
Seketika itu juga Haura terngaga, ia bahkan menutup mulutnya yang terbuka itu menggunakan satu tangannya yang bebas.
"Benarkah?" tanya Haura, terkejut. Dan Adam mengangguk dengan bangga.
"Baiklah, ayo sekarang kita turun. Gedung ini terlalu tinggi, aku tidak suka," balas Haura lagi dengan cepat, ia bahkan langsung menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Adam. Haura berjalan didepan, seolah ia begitu menghapal tempat ini.
Padahal, Haura tidak tahu apa-apa, ia bahkan jadi bingung sendiri setelah 20 langkah yang ia ambil.
Adam memijat tengkuknya yang terasa berdenyut, sementara Luna yang seperti hantu dan tak dianggap itu hanya mampu menahan tawa.
Hanya Haura saja, wanita di dunia ini yang menutup mata dari semua kekayaan Tuannya, tak peduli dengan harta dan tahta.
Lagi, Adam menahan tangan Haura hingga membuat wanita ini berhenti melangkah. Dengan cepat pula kembali menautkan jemari mereka.
"Jika di hutan kamu memang tidak akan tersesat, tapi jika disini, aku pastikan kamu akan tersesat. Jadi jangan lepaskan tanganku dan berjalanlah di sampingku," ucap Adam dengan suaranya yang begitu khas, dingin namun penuh dengan perhatian.
Haura hanya terdiam, tak mampu menjawab apapun, tatapan Adam itu membuat lidahnya kelu.
Dari lantai 69, mereka turun menggunakan lift khusus CEO ke lobby perusahaan. Sampai di sana, Adam tak pernah melepaskan genggaman tangannya pada Haura. Tak peduli meski banyak karyawannya yang melihat akan hal itu.
Hanya Luna lah yang membalas tatapan para karyawan dengan tatapannya yang tajam.
Hingga membuat siapapun yang melihat mereka, segera menunduk merasa takut. Melawan Luna, sama saja melawan Adam. Mereka cukup tahu, jika Luna tak hanya menjadi seorang asisten pribadi, namun juga tangan kanan sang CEO.
"Luna, aku akan pergi sendiri," ucap Adam pada sang Asisten.
Luna mengangguk patuh, lalu menggerakkan tangan kanannya memberi isyarat untuk semua bodyguard menjauh. Membiarkan Adam mengemudikan mobilnya sendiri bersama Haura.
Para bodyguard itupun patuh, mereka kompak menunduk lalu bergerak memberi jarak.
Meskipun mereka tidak ikut, namun bukan berarti keamanan Adam terlepas begitu saja. Ada beberapa bodyguard bayangan yang selalu melindungi Adam dari kejauhan.
Adam menggunakan bodyguard bayangan itu, semenjak 6 tahun silam. Semenjak ia lepas kendali dan melakukan sebuah kesalahan besar.
Tanpa mengulur waktu lagi, Adam segera membukakan pintu untuk Haura agar duduk disebelah kemudi, lalu iapun segera masuk kesana pula.
Hanya berdua, membelah jalanan kota Jakarta.
"Azzam dan Azzura dimana? apa sudah bersama nenek Inah?" tanya Haura, ia menoleh Adam sejenak lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Iya," jawab Adam singkat.
Jawaban yang membuat Haura malah merasa tak nyaman, seolah Adam sedang marah kepadanya.
Mobil mereka berhenti di lampu merah, namun hanya keheningan yang tercipta. Sumpah demi apapun, Haura merasa sangat tidak nyaman.
"Apa aku melakukan kesalahan? kenapa sepertinya aku merasa kamu sedang marah," ucap Haura, memecah keheningan.
Mendengar itu, Adam mengulum senyumnya. Ia tak langsung menjawab, terus mengintimidasi Haura dengan sikap diamnya.
Haura, memang sulit untuk dimengerti, bahkan semua pola pikirnya tidak pernah bisa Adam tebak. Namun satu yang begitu Adam tahu, Haura memiliki hati yang lembut, tidak tegaan.
Karena itulah, ia akan memanfaatkan sifat Haura itu, untuk membuat Haura bersimpati padanya.
"Mas?" panggil Haura lagi, dengan suara yang lebih pelan.
Adam menoleh, menatap Haura dengan tatapan dinginnya.
"Jangan menatapku seperti itu," ucap Haura kemudian.
"Kalau aku ada salah, katakan padaku," timpalnya lagi, seraya sedikit menunduk, menghindari tatapan Adam padanya. Bagaimanapun, pria ini sudah banyak membantu Haura, ia jadi merasa tak enak hati jika sampai salah satu sikapnya membuat Adam marah.
"Tidakkah kamu ingin tahu tentangku, Haura?" ucap Adam setelah sekian lama terdiam, namun berucap dengan suara yang dingin pula, mulai memainkan rencananya.
Mendengar pertanyaan itu, Haura tercenung.
"Aku bahkan sangat ingin tahu siapa dirimu, aku mengenal nek Inah, om Jodi, bahkan aku tahu tentang tantemu Salma dan juga kakakmu Hasan dan iparmu Riri. Tidakkah sedikit saja kamu ingin tahu tentang aku?" tanya Adam lagi, yang makin membuat Haura terpojokkan.
"Siapa Adam? siapa kedua orang tuanya? siapa saudara-saudaranya? tidakkah kamu ingin tahu tentang itu? bagaimanapun, aku ini adalah ayah Azzam dan Azzura, Haura," desak Adam lagi, hingga membuat Haura kembali menatapnya dengan tatapan yang entah.
"Jika aku tidak bercerita, kamu tidak pernah bertanya padaku. Ayahku sudah meninggal, ibuku bernama Zahra, aku hanya memiliki satu saudara kandung perempuan, Aida namanya. Dia sudah menikah dengan Yuda, kini Aida dan Yuda tinggal bersama ibuku," jelas Adam.
Dan mendengarkan itu, Haura malah makin merasa bersalah dihatinya. Tentang Adam? adalah sesuatu yang masih menjadi ketakutan baginya. Selama ini, ia memang terus mengelak untuk mengetahui itu, keluarga Adam.
Namun kini, Haura sadar akan satu hal. Mau tidak mau, baik ia ataupun kedua anaknya harus mulai masuk kedalam keluarga Adam.
Berada diantara orang-orang yang paling berpengaruh di negeri ini. Haura hanya berharap, keluarga Adam tak sampai mendominasi Azzam dan Azzura.
"Maaf Mas," jawab Haura singkat.
"Ibuku sangat ingin bertemu dengan Azzam dan Azzura, juga dirimu. Maukah kamu menemuinya?" pinta Adam.
Dan dilihatnya, Haura mengangguk kecil.
Dalam hatinya Adam bersorak, ingin sekali ia segera menarik Haura dan memeluknya erat. Namun sekuat tenaga, ia tahan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Salam AH 💕 dan baby AzRa...
Azzura : Terima kasih untuk semua dukungannya Acik, Amang, Zura bahagia sekalii 🙆♀️