My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 182 - Monica & Darius Bagian Empat



Pulang.


Kini Monica tengah berada di dalam mobil Darius. Kata Darius mereka akan segera menuju rumah kedua orang tua Monica yang baru.


Dan ternyata jalan yang mereka lewati pun benar-benar tidak pernah Monica lewati saat dulu ia masih tinggal di Jakarta.


Jantung Monica berdetak tak biasa, ia bahkan merasakan gugup yang luar biasa. apalagi saat Darius mulai masuk ke salah satu halaman rumah. Rumah yang Monica yakini adalah rumah kedua orang tuanya.


Gugup dan takut sekaligus, ini adalah pertemuan pertamanya dengan sang ibu setelah 5 tahun tidak bertemu.


Tadi Darius sudah mengatakan jika mama Marina menunggu kepulangannya, di rumah ini hanya ada mama Marina, karena ayah Aufar masih di rawat intensif di rumah sakit.


Masih menjalani kemoterapi untuk penyakit kankernya.


"Ayo turun," ajak Darius.


Namun Monica masih terdiam, kakinya terasa berat untuk keluar. Rasanya masih teringat jelas di ingatan bagaimana ayah dan ibunya dengan tega mengusir dirinya disaat ia terpuruk.


kenangan buruk yang selalu membuatnya merasa takut untuk kembali bertemu.


"Ini sudah 5 tahun Ca, apa masih belum cukup untuk melupakan semua yang sudah pernah terjadi?" tanya Darius saat melihat keraguan di wajah wanitanya.


"Aku hanya takut Mas, aku takut pertemuan ku dengan mama malah berujung pertengkaran," jawab Monica lirih dan Darius menggelengkan kepalanya kuat.


"Tidak Ca, aku pastikan itu tidak akan terjadi. Mama Marina sudah tidak memiliki tenaga untuk berdebat denganmu," balas Darius.


Membuat Monica terenyuh seketika.


Selemah itukah mamanya kini?


Setelah panjang lebar bicara dengan Darius akhirnya Monica turun juga. Kedua berjalan beriringan menuju pintu utama rumah itu.


Rumah yang jauh lebih kecil dibanding rumah mereka dulu.


Darius mengetuk pintu itu dan tak lama kemudian pintunya terbuka, mama Marina sendirilah yang membukanya.


Seketika tatapan mama Marina dan Monica bertemu. Sepersekian detik seolah ini terasa seperti mimpi, namun di detik berikutnya setelah sadar Marina langsung memeluk Monica erat.


Ia sungguh rindu pada anak semata wayangnya ini, Marina pun sungguh merasa bersalah dulu malah mengusir Monica dari rumah mereka.


Sementara Monica membatu merasakan pelukan sang ibu, air matanya pun mengalir seirama dengan perasaan hangat yang mendatangi hatinya.


Monica membalas pelukan sang ibu, memeluk tubuh ibunya yang nampak ringkih. Mama Marina lebih kurus dengan cekung matanya begitu nampak. Seolah mama Marina telah banyak hari yang melelahkan.


Bahkan melihatnya pun membuat Monica terenyuh dan tak kuasa.


Ia lebih suka melihat mama Marina yang angkuh ketimbang lemah seperti ini.


"Maafkan mama Ca, maafkan mama. Maafkan papa juga Ca, mama mohon," ucap Marina lirih, ucapan yang mampu membuat hati monica terasa teriris.


"Tidak Ma, mama dan papa tidak bersalah, akulah yang salah," sahut Monica dengan cepat , ia bahkan memeluk sang ibu semakin erat. menunjukkan rasa rindunya yang sudah membuncah.


Mama Marina dan Monica terus saling peluk seraya menumpahkan semua air mata, hingga keduanya benar-benar merasa lega.


Belum masuk ke dalam rumah, Monica langsung mengajak sang ibu untuk segera pergi ke rumah sakit. Ia juga ingin segera menemui sang ayah.


Dan Marina menurut, dengan ditemani oleh Darius mereka semua pergi ke rumah sakit. Menemui papa Aufar.


Sampai di sana Monica makin menangis tersedu saat melihat kondisi sang ayah saat ini, jika tahu seperti ini ia pasti akan pulang sejak dulu.


Berulang kali Monica mengucapkan kata maaf pada sang ayah. Karena ia tidak berada disini saat sang ayah sakit.


Maafkan aku Pa.


Maafkan aku Pa.


Maafkan aku.


Kata maaf terus monica ucapkan hingga entah sudah yang ke berapa kali.


Sementara Aufar hanya tersenyum dan berbaring di atas ranjang tak berdaya. Melihat anaknya kembali sudah membuat Aufar begitu bahagia.


"Ca, terima kasih kamu sudah mau kembali," ucap Aufar lirih dan membuat tangis Monica makin pecah.


Saat itu Aufar mengatakan jika keinginannya kini hanya satu, melihat sang anak menikah dan memiliki seorang suami yang bisa melindunginya.


Dan saat itu juga, Darius langsung maju.