My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 148 - Shakir Dan Sanja



“Abang,” panggil Sanja saat kini Shakir sudah berada tepat di hadapan dirinya. Dilihatnya Shakir yang bernapas dengan memburu, seolah baru saja Shakir berlari dari jarak yang cukup jauh.


Sanja tidak tahu, jika napas Shakir memburu bukan karena ia habis berlari. Namun karena jantungnya yang berdebar tak menentu.


Sesaat, tatapan keduanya saling mengunci. Tak ada kata, hanya tatapan tatapan itu sajalah yang bicara.


Tatapan mendamba.


Tatapan yang belum pernah Sanja rasakan selama ini dari pria dari negeri Jiran itu.


“Sanja,” panggil Shakir lirih, namun masih terdengar jelas oleh bidan muda itu.


Sanja hanya terdiam, mendadak lidahnya kelu kala mendapatkan tatapan dalam seperti ini.


Yang bisa Sanja lakukan hanya satu, menunggu apa yang akan diucapkan oleh Shakir selanjutnya.


“Sanja, maukah kamu menikah denganku?”


Tanya Shakir langsung, hingga membuat kedua netra Sanja membola, bahkan kakinya hingga reflek mundur satu langkah.


Sanja, sungguh merasa terkejut. Tak menyangka kata-kata kramat itu keluar dari mulut Shakir.


Menelan ludahnya dengan susah payah, akhirnya Sanja buka suara. Tak ingin hanya diam seperti wanita bodoh.


“Apa hati Abang sudah sembuh?” balas Sanja, meski terdengar jelas getaran suaranya yang meragu kala mengucapkan pertanyaan itu.


Kecil, Shakir tersenyum, lalu mengambil satu langkah maju untuk kembali mendekati Sanja.


Mengikis jarak, tak ingin jauh.


“Apa kamu masih melihat hatiku yang terluka?” tanya Shakir pula.


Dengan senyumnya yang teduh, ia semakin menatap dalam kedua netra Sanja. Mengucapkan kata-kata cinta melalui mata adalah pilihan Shakir.


Biarlah Sanja melihat sendiri isi hatinya melalui tatapan ini.


Dan seperti terhipnotis, rasa cinta yang coba Shakir katakan itu seolah sampai pula di hati Sanja.


Mendadak malu, Sanja pun sedikit menunduk. Lalu menggerakkan tangan kanannya untuk menyelipkan beberapa rambut di belakang telinga.


Sanja, tersipu.


Hingga disaat ia menunduk itu, Sanja melihat Shakir yang mengulurkan sebuah kotak cincin padanya.


Diam-diam mencintai Shakir selama ini,  dan tiba-tiba keajaiban itu datang. Tak hanya ungkapan cinta yang ia dengar, namun langsung sebuah ajakan menikah.


Lagi, Sanja kembali mendongak dan menatap balik.


“Sanja, maukah kamu menikah denganku?” tanya Shakir sekali lagi, seraya mengulurkan kotak bludru berwarna merah itu. Lengkap dengan cincin cantik yang berada di dalamnya.


Mereka sama-sama sudah dewasa, tak perlu banyak mengucapkan kata cinta sebagai pembuktian.


Dan tindakan langsung adalah bukti nyata cinta itu ada.


“Bang, apa Abang tidak sedang bercanda?” tanya Sanja, ia bahkan meremat kedua tangannya yang terasa dingin.


Lagi, Shakir tak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Shakir ingin, Sanja mempercayai perasaannya yang tulus, tanpa ia mengucapkan itu.


Pelan, Shakir menggerakkan tubuhnya, turun dan bersimpuh dihadapan Sanja.


Seperti sebuah lamaran yang selama ini Sanja lihat di televisi.


Mulut Sanja menganga, namun dengan cepat ia tutup menggunakan kedua tangan.


“Bang, jangan seperti ini,” ucap Sanja pula, ia bahkan menggelengkan kepalanya. Merasa tak pantas diperlakukan layaknya seorang putri, ataupun gadis yang istimewa.


Dia hanyalah gadis desa yang tak tahu apa-apa, selain tentang medis dan mengabdi kepada banyak orang.


“Sanja, aku tidak pernah bercanda. Aku ingin menikahi mu dengan tulus. Ingin menghabiskan masa tua kita bersama-sama. Aku hanya ingin melakukan itu denganmu, bukan dengan yang lain, aku mohon Sanja, Terimalah lamaran ku,” pinta Shakir dengan Sungguh-sungguh, hingga berhasil membuat setetes air bening keluar dari kedua netra gadis cantik ini.


“Jangan menangis,” pinta Shakir pula, ia bahkan langsung kembali bangkit dan menghapus air mata di wajah Sanja itu.


“Apa sebegitunya kamu tidak ingin menerima lamaran ku, sampai-sampai menangis seperti ini?” tanya Shakir lagi, ia terus menghapus air mata itu, dengan mengelus sayang wajah Sanja yang nampak kemerahan.


“Jangan menangis, tapi aku memaksamu untuk menikah denganku.” Putus Shakir akhirnya, tanpa menunggu jawaban Sanja, Shakir langsung memasangkan cincin yang ia bawa di jari manis tangan kanan Sanja.


Cincin itu begitu pas, seolah jodoh memang sudah tergaris diantara keduanya.


Bahkan tanpa permisi, Shakir menarik kedua bahu gadis ini, memeluknya erat dan menyembunyikan wajah menangis Sanja didalam dekapanya.


Sebuah pelukan yang lambat laun dibalas oleh Sanja.


Shakir tersenyum, lalu mencium pucuk kepala Sanja dengan sayang.


“Aku mencintai mu, Sanja.”