
Sore harinya, Adam dan kedua anaknya Azzam dan Azzura pulang ke Indonesia.
Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, mereka semua dijemput oleh orang-orang Adam. 4 bodyguard dan 2 supir.
Mereka semua langsung menuju rumah Haura.
"Ayah, sebaiknya semua mainan ini diletakkan dulu di rumah ayah, baru kita pulang ke rumah ibu," usul Azzura, ketika baru saja mereka keluar dari area bandara. Mulai memasuki jalan raya.
Azzura menunjukkan 3 kantong paper bag belanjaannya. Tadi sebelum pulang, Adam memang mengajak kedua anaknya itu untuk berkeliling di pusat permainan anak-anak.
Azzura membeli banyak mainan, sementara Azzam hanya membeli satu.
Mendengar ide sang adik, Azzam terkekeh.
"Kan sudah Abang bilang, beli satu saja, pilih yang begitu kamu inginkan," balas Azzam, seraya menatap sang adik dengan tatapan meledek.
Setelah pulang dan ibu melihat ini semua, ibu pasti akan marah.
"Abang nakal!" ketus Azzura dengan bibir yang mencebik. Adam yang berada di tengah-tengah kedua anaknya ini pun hanya mampu tersenyum, entah kenapa ia senang sekali melihat perdebatan Azzam dan Azzura.
"Sekarang Zura pilih satu yang mau di bawa pulang, sisanya tinggal saja di mobil. Ibu tidak akan lihat," jelas Adam pada anak bungsunya.
Azzura mengangguk antusias, lalu sibuk sendiri dengan banyak mainannya itu. Sementara Adam, ia langsung mengelus pucuk kepala Azzam dengan sayang.
Tak sampai lama, mereka semua sudah sampai di rumah ibu Haura.
Bahkan Haura langsung menyambut kedatangan mereka semua meski baru sampai di halaman rumah.
Haura berjongkok dan memeluk kedua anaknya erat, Rindu.
Adam yang melihat pemandangan itu hanya tersenyum getir, ia ingin juga dipeluk dan disayang seperti itu oleh Haura.
Bahkan Adam pun ingin sekali mendekap Haura dan mencium bibirnya dalam, seperti obat rindu setelah lama tidak bertemu.
"Ayah tidak dipeluk Bu?" tanya Adam hingga membuat pelukan Haura dan kedua anaknya terlerai.
Mendengar itu Haura segera bangkit, ia tak memeluk Adam melainkan membisikkan sesuatu.
"Aku mencintai kamu Mas," bisik Haura hingga membuat Adam meremang, ia bahkan sampai merinding merasakan semua bulu kuduknya berdiri.
"Ibu Haura nakal!" keluh Adam, dengan raut wajah yang sama persis seperti Azzura beberapa saat lalu.
Bukannya memeluk, Haura malah balas menggodanya. Seolah membalas kelakuan Adam tadi pagi.
Setelah hari itu, Adam terus menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Ingin waktu segera berlalu dan tiba-tiba sampai di hari pernikahannya dengan Haura.
2 hari.
3 hari.
1 minggu.
Dan 2 minggu.
Hari ini adalah hari terakhir Azzam dan Azzura ujian, dengan mata pelajaran olah raga.
Semua anak murid berkumpul di lapangan dan melakukan beberapa perlombaan.
Kala itu Adam dan Haura datang ke AIG School untuk memberi dukungan pada kedua anaknya. Hari terakhir ujian di sekolah ini memang dibuat semeriah mungkin.
Menciptakan suasana yang seru bagi semua siswa dan siswi.
Karena itulah, diperlombaan kali inipun AIG School mengundang para orang tua murid. Tak hanya meriah dengan anak-anak yang keluar dari kelas, di salah satu lapangan pun terdapat banyak stand penjual makanan dan minuman.
Itu semua gratis untuk para tamu undangan dan semua murid.
Layanan AIG School memang tidak main-main. Karena itulah, AIG School menduduki nomor satu sekolah terElit di indonesia.
Saat ini, Adam dan Haura tengah duduk di kursi penonton. Menyaksikan kedua anaknya yang akan melakukan lomba lari estafet.
Kelompok anak mereka terdiri dari 5 orang, Azzam, Azzura, Arrabela, Julian dan Arnold.
Kelima anak ini sudah berdiri pada posisinya masing-maaing. Menunggu peluit ditiupkan.
"Haura, jika Azzam dan Azzura menang maukah kamu mengabulkan satu permintaanku?" tanya Adam hingga membuat Haura menoleh padanya.
"Apa?" tanya Haura dengan membalas tatapan Adam tak kalah dalamnya.
"Ajak aku untuk masuk ke dalam hutan."
Mendengar itu Haura tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya pelan.
Tatapan keduanya terputus, saat mendengar perlombaan akan segera dimulai.
Lalu tak lama kemudian, suara peluit terdengar.
Priitt!!!