My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 82 - Merasa Menyesal



Sehabis shalat subuh, Azzam dan Azzura menghubungi sang ibu melalui sambungan video call.


Malam tadi mereka tidur bersama sang ayah, bahkan kini mereka masih berada di kamar itu.


"Ibu, kami akan pergi jam 7 pagi," jelas Azzura yang sedang memegang ponsel itu.


"Iya sayang, di sana hati-hati ya, jangan tinggalkan ayah kalian, kemanapun harus selalu pegang tangan ayah," jawab Haura, yang cemas kedua anaknya akan hilang. Singapura, dalam bayang Haura adalah negara besar yang banyak dihuni oleh orang, bahkan sampai bisa membuat anaknya hilang diantara kerumunan orang-orang itu.


Apalagi, dia tidak berada di sana pula.


Sebenarnya Adam begitu ingin mengajak Haura, pun Haura yang juga ingin ikut. Namun hubungan mereka yang masih belum halal, menjadi penghalang.


"Siap ibu!" jawab Azzam dan Azzura patuh.


Di dalam panggilan video itupun Haura melihat Adam yang kulu kilir di belakang kedua anaknya. Entah sedang sibuk apa laki-laki itu.


Panggilan video itu terputus, saat matahari mulai menjelang. Azzam, Azzura beserta ayahnya harus segera bersiap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini.


Haura kembali ingin ikut Jodi dan Aminah ke toko bunga.


Namun alangkah terkejutnya mereka bertiga, saat melihat sesosok wanita dengan setelan baju hitam dari atas sampai bawah.


Luna, berdiri di teras rumah itu.


Lalu menundukkan kepalanya hormat ketika melihat keluarga sang Tuan keluar dari dalam rumah.


Bagi Luna, kini Haura dan semua keluarganya juga adalah Majikannya. Orang-orang yang harus ia hormati dan patuhi.


"Luna?" panggil Haura heran.


"Iya Nyonya, selama Tuan Adam pergi, saya yang akan menjaga Anda," terang Luna apa adanya, kini itulah tugas barunya.


Mendengar itu, kedua netra Haura membola. Berpikir jika Adam terlalu berlebihan dalam hal ini. Namun melihat Luna sudah jauh-jauh datang kesini, iapun jadi tak enak hati untuk menolak.


"Baiklah, kalau begitu ikutlah kami ke toko bunga juga," ajak Haura dan Luna mengangguk dengan patuh.


Kala itu, Luna tak datang sendiri.


Iapun membawa 2 mobil sekaligus untuk mengantar Haura dan semua keluarganya ke toko bunga.


Mau tidak maupun Haura, Aminah dan Jodi menurut. Meskipun sebenarnya, mereka lebih suka jika menggunakan kendaraan umum.


Haura dan Luna berada di dalam satu mobil, sementara Jodi dan Aminah di mobil lainnya.


Tak ingin membuat Luna seperti supir, Haura pun memutuskan untuk duduk di kursi depan pula.


Sesaat, hanya ada keheningan di sana, sampai akhirnya Haura yang lebih dulu buka suara, tahu jika Luna adalah anak buah Adam yang paling setia, Haura ingin memiliki hubungan yang baik pula dengan Luna.


"Luna, apa kamu sudah lama bekerja dengan mas Adam?" tanya Haura akhirnya, sesaat setelah mereka kembali melaju setelah tadi berhenti di lampu merah.


Masih ada 4 lampu merah lagi yang harus mereka tempuh untuk sampai di toko bunga, Haura Florist.


"Sudah Nyonya, 9 tahun," jawab Luna apa adanya. 9 tahun, ia sudah mengabdi kepada Adam.


Mendengar itu Haura menganggukkan kepalanya, 9 tahu memang waktu yang cukup lama. Wajar saja jika Luna dan Adam memiliki hubungan yang sangat baik.


"Apa kamu mengenal mas Adam dengan baik? seperti apa mas Adam bagimu?" tanya Haura lagi, selain ingin mencari tahu tentang calon suaminya itu, Haura pun ingin memastikan sendiri jika Luna bekerja secara profesional, tanpa melibatkan perasaan.


Mendengar pertanyaan itu, Luna mengulum senyumnya, Merasa jika Nyonya nya ini sedang cemburu dengan sang Tuan dan dirinya.


"Iya, saya mengenal Tuan dengan sangat baik. Saya rasa, Tuan memiliki 2 kepribadian," jawab Luna kemudian, hingga membuat Haura mengerutkan keningnya.


"2 kepribadian?" ulang Haura dan Luna mengangguk yakin.


Saat mobil mereka kembali berhenti di lampu merah. Luna menunjukkan beberapa foto Tuannya itu, foto yang menjadi laporan tim keamanan Malik Kingdom.


Tiap 2 jam sekali, para pengawal bayangan akan mengirim foto keadaan Adam malik dan semua keluarga Malik.


Dalam folder yang disimpan Luna, hanya khusus untuk laporan kemanan sang Tuan.


Luna, lalu memperlihatkan semua foto itu pada Haura.


Adam, adalah seorang pengusaha yang dikenal berdarah dingin. Bahkan hanya dari tatapannya pun bisa membuat semua orang merasa terintimidasi.


Sebagian foto itu menunjukkan betapa dinginnya tatapan Adam, betapa mencengkramnya kala Adam menggerakkan jari telunjuknya. Juga betapa banyak orang yang menunduk hormat pada laki-laki itu, laki-laki dengan wajah yang dingin dan kaku.


Lalu sebagian foto lagi, memperlihatkan Adam yang tersenyum riang, memasang wajah gugup. Juga takut.


Dan semua perubahan itu, hanya Adam tunjukkan pada satu wanita, Haura.


Melihat itu, Haura tersenyum kecil. Namun Luna, masih mampu melihat senyum itu.


"Saya rasa, cinta membuat Tuan memiliki kepribadian ganda itu. Karena semenjak bertemu dengan Anda, Tuan banyak sekali berubahnya," jelas Luna lagi, seraya kembali memelajukan mobilnya karena lampu sudah berubah hijau.


Haura tak menjawab apapun, ia hanya tersenyum.


Luna bahkan, meyakinkan dirinya jika Adam begitu mencintai dia. Dalam hati kecil Haura, ia merasa menyesal sempat mempercayai ucapan Monica.


Dan semenjak pagi itu, Hubungan Haura dan Luna terjalin dengan baik, tanpa ada rasa canggung seperti sebelum-sebelumnya.