My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 61 - Seperti Sebuah Keajaiban



AIG School.


Menjelang hari dimana teater diadakan, Azzura dan Arrabela terus sibuk berlatih di aula sekolah.



Bahkan para siswa dan siswi yang mengikuti teater itu tidak ikut dalam kelas belajar mengajar seperti biasanya. Mereka mendapatkan kelas khusus.


"Oke, cukup! kita istirahat dulu!" titah sang pelatih, miss Sanny dengan suaranya yang lantang. Ia bahkan menggerakkan kedua tangannya, memberi isyarat bubar.


Saat ini sudah jam istirahat.


"Arra, aku ingin ke kelas abang, mau ikut tidak?" tawar Azzura pada sang sepupu, Arrabela yang kini juga menjadi saudranya.


"Ikut ikut ikut," sahut Arrabela dengan semangat.


Kedua anak perempuan ini lalu berjalan beriringan keluar dari dalam Aula, lalu menuju kelas dimana Azzam dan semua teman-temannya berada, Julian dan juga Arnold.


"Zura, apa hubungan uncle Adam dan ibu Haura sudah kembali baik? kemarin saat aku main ke rumah nenek, nenek bercerita jika kalian semua datang kesana," tanya Arrabela, sesuai cerita yang ia dapat dari sang nenek.


Kemarin, nenek Zahra pun sudah berpesan pada Arrabela, untuk saling sayang menyayangi dengan Azzura dan juga Azzam, yang merupakan saudara barunya.


Ditanya seperti itu, Azzura tersenyum lebar.


Lalu teringat wajah sang ibu pagi tadi, yang selalu terlihat merona ketika sedang membicarakan sang ayah. Tak ada lagi wajah dingin seperti dulu.


"Sepertinya seperti itu, bahkan semalam, ayah menemani ibu di rumah sakit," jawab Azzura dengan senyumnya yang tidak surut.


Senyum yang membuat Arrabela hingga tersenyum pula, namun Arrabela masih saja ingin tahu bagaimana nasib tante Monic.


Namun saat teringat pesan ibunya untuk tidak membicarakan tentang tante Monic pada Azzam dan Azzura, Arrabela langsung menutup mulutnya dengan erat.


"Kenapa mulutmu ditutup seperti itu?" tanya Azzura heran, Arrabela menutup mulutnya dengan kedua tangan, menutup rapat.


"Aku sangat lapar sampai ingin memakanmu, ayo cepat kita jemput abang lalu ke kantin," jelas Arrabela dengan suaranya yang tidak jelas.


Namun Azzura masih mampu mendengarnya dengan baik.


"Baiklah, ayo cepat!" jawab Azzzura seolah percaya jika ia akan segera dimakan.


Arrabale terkekeh, lalu menarik tangan Azzura untuk berlari saja, agar mereka bisa segera sampai.


Saking asiknya berlari, kedua anak perempuan ini sampai tidak sadar, jika Azzam, Julian dan Arnold pun sudah berjalan ke arah mereka.


Hingga akhirnya, lari Azzura dan Arrabela tak bisa direm, berujung saling tabrak di tengah koridor sekolah.


"Zura, Arra! kalian ini, hih!" kesal Azzam, yang tubuhnya tetimpa kedua gadis ini.


"Apa ada yang sakit?" tanya Julian, pada semua temannya.


"Yang sakit hanya aku, kalian jangan suka berlari-lari seperti itu. Apa kamu mengerti Ading?" Azzam yang menjawab, lengkap pula dengan memarahi sang adik.


Hingga Azzura sampai harus bersembunyi dibalik tubuh Arnold menghindari tatapan tajam sang kakak.


"Iya Bang, ngerti, Arra kok tadi yang ngajak lari," bela Azzura, hingga membuat Arrabela mencebik. Dia juga takut melihat kemarahan Azzam.


Dan benar saja, kini giliran Azzam yang menatap tajam Arrabela.


"Maaf Abang, aku kelaparan jadi ingin segera memanggil kalian untuk ke kantin," bela Arrabela, ingin bersembunyi dibalik tubuh Julian, namun Julian berada didekat Azzam.


"Sudah Zam, yang penting kan tidak ada yang terluka," kini Arnold ikut buka suara.


"Kamu tidak tahu, kalau adik yang terluka, itu nanti kakaknya yang akan disalahkan," bela Azzam pula hingga membuat Arnold dan Julian terkekeh lagi.


Azzura dan Arrabela mencebik, kala mendengar jawaban Azzam itu.


Lalu kelima bocah ini segera menuju ke kantin. Azzura dan Arrabela berjalan dengan sangat hati-hati, agar tidak kembali terjatuh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dok Dok Dok!


Palu perceraian Adam dan Monica sudah diketukkan, saat ini mereka berdua sudah sah bercerai secara hukum dan negara.


Dalam sidang kali inipun, hanya Monica saja yang datang menghadiri, sementara Adam tidak.


Selesai dengan sidang itu, Hotman pun segera mendatangi Monica dan mengatakan tentang kelanjutan laporan sang tuan di polres Jakarta selatan.


"Tuan Adam, akan mencabut semua tuntutannya kepada Anda. Dia tidak akan mempenjarakan anda dan hanya akan meminta ganti rugi," jelas Hotman.


Saat ini Hotman dan Monica sedang berdiri, diambang pintu ruang persidangan yang baru usai.


Mendengar penuturan Hotman itu, seketika wajah Monica yang sedari tadi bermuram durja berubah jadi senyum yang sumringah.


"Benarkah?" tanya Monica tak percaya, merasa jika Adam masih mencintai dirinya. Hingga Adam tidak tega, melihat ia mendekam dipenjara.


"Ya, Tuan Adam mengatakan itu," jelas Hotman apa adanya, dan senyum Monica makin terkembang sempurna.


Sebelumnya ia sudah berpikir, bahwa ia akan mendekam ditempat hina itu seumur hidup, berkumpul dengan orang-orang yang dimatanya hina pula.


Namun seperti sebuah keajaiban, Adam menariknya kembali untuk bebas.