
Spesial Aida.
Setelah semua kakak iparnya pulang. Aida dan Zahra masuk ke dalam mansion dengan saling mendekap erat.
Saking bahagianya Zahra, Yuda sampai tidak dapat jatah untuk memeluk istrinya sendiri.
"Sayang, kamu mau apa Nak, biar semuanya ibu penuhi," ucap Zahra, hingga membuat Aida kembali menangis.
Bukan apa-apa, masalahnya ia tak menginginkan apapun. Padahal Aida begitu ingin menikmati rasanya mengidam.
"Sayang, kenapa menangis? ibu hamil mana boleh menangis terus seperti ini." kini Yuda yang buka suara.
"A-aku menangis bukan ka-karena sedih Mas. Aku menangis karena aku tidak mengidam, aku tidak menginginkan apapun," jawab Aida, sesenggukan.
Zahra tersenyum, semakin mendekap putrinya erat.
"Itu karena yang kamu inginkan hanya satu, anak ini," balas Zahra, masih dengan terus berjalan masuk, Zahra menyentuh perut putrinya yang masih nampak rata.
Dan Aida pun menganggukkan kepalanya. membenarkan ucapan sang ibu.
Wajah saja ia tak merasa mengidam. Karena yang sungguh-sungguh ia inginkan hanya satu, anak ini.
"Beristirahatlah," ucap Zahra, Setelah mengatakan itu barulah Aida berpindah tangan, kini dalam dekapan hangat sang suami.
Zahra, menugaskan 2 pelayan yang selalu siaga didekat kamar sang anak. 2 pelayan itu hanya duduk di sofa dan kelak jika ada yang Aida butuhkan, mereka akan dengan sigap memenuhi.
Masuk ke dalam kamarnya, Yuda langsung memeluk erat tubuh sang istri.
Merengkuhnya dalam dan menyembunyikan sang istri dalam dekapan.
"Masya Allan sayang, aku bahagia sekali," ucap Yuda, sungguh-sungguh.
Ia bahkan langsung menangkup wajah sang istri, membuat Aida mendongak dan ia mulai melabuhkan sebuah ciuman hangat dibibir ranum itu.
Tangan Aida yang tadinya memeluk pinggang sang suami mulai bergerak naik, pindah hingga mengalungkan kedua tangannya dileher suaminya itu.
Hingga entah bagaimana caranya, kini keduanya sudah duduk diatas sofa dengan bibir yang terus saling berpaut.
Aida, duduk diatas pangkuan sang suami.
Napas keduanya terengah kala ciuman itu terlepas. Pelan, Yuda kembali mencium bibir sang istri sekilas, lalu menghapus sisa salivanya di sana menggunakan ibu jari.
"Katakan, apa kata dokter Diah," ucap Yuda. Setelah ia membersihkan bibir sang istri.
Kini ia merengkuh pinggang istrinya itu dan memeluknya erat.
Dengan tersenyum, Aida mulia menceritakan semua yang diucapkan dokter Diah tentang kehamilannya.
Ternyata, usia kehamilan Aida sudah memasuki usia 8 minggu atau 2 bulan.
Jika dihitung-hitung, usia kehamilannya ini tepat saat mereka berdua pergi ke desa Parupay.
Mengingat itu, Aida dan Yuda kemudian terkekeh, diantara kedua netranya yang terus saling menatap.
Kembali teringat percintaan panas mereka di rumah kakak ipar kala itu.
"Berarti nanti, kita buat lagi di sana," ucap Yuda setelah sang istri selesai bercerita.
Aida tak protes, ia malah menganggukkan kepalanya, setuju.
Malam itu, Yuda mengaji lebih lama dari biasanya. Sementara Aida yang tak boleh terlalu lama duduk, memilih berbaring diatas paha sang suami.
Mendengarkan suaminya itu melantunkan ayat-ayat suci dengan ia yang terus mengelus dengan sayang perutnya sendiri.
Dalam hati Aida pun ia selalu memohon, agar ia dan bayinya selalu diberi kesehatan. Agar kelak, mereka berdua bisa sama-sama bertemu.
Sebagai seorang ibu dan anak.
Aamiin.