
Malu-malu, Shakir dan Sanja akhirnya masuk ke rumah Adam Malik itu.
Sudah sampai disini, rasanya sungguh tak sopan jika ia langsung pergi. Maka Shakir memutuskan untuk menyapa sang pemilik rumah.
Ternyata, Adam dan Haura pun sudah menunggu. Sanja pun langsung buru-buru menggunakan maskernya.
Hingga membuat sang calon suami bingung.
“Kenapa memakai masker?” tanya Shakir, tapi belum sempat Sanja menjawab mereka sudah berada di hadapan Adam dan Haura.
Shakir pun menyapa keduanya, mengucapkan salam dan dibalas pula oleh suami istri ini.
Haura terus tersenyum, beberapa menit lalu sang suami sudah menceritakan semuanya yang terjadi, tentang Shakir dan Sanja.
Lalu kini ia melihat sendiri gelagat Sanja yang nampak malu-malu, makin berbunga-bunga lah Haura melihatnya.
Kedua sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudara kini bersatu dalam sebuah ikatan cinta, Haura sangat bahagia akan hal itu.
“Bidan Sanja, ayo kita masuk,” ajak Haura, dengan mengulum senyum.
Mereka pergi ke dapur membiarkan Adam dan Shakir berdua di ruang tengah sana.
Shakir melihat dengan jelas, sedari tadi Adam terus mengulum senyumnya. Melihat itu, Shakir pun menatap curiga pada pria satu ini.
Menerka-nerka sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh Adam.
“Apa kamu sudah tahu semuanya? Tentang aku dan
Sanja?” tanya Shakir langsung, ketika mereka berdua sudah duduk di sofa.
Tak ingin bohong, Adam pun mengangguk.
“Aku sudah tahu lama, Luna ku minta untuk menyelidiki mu.”
Brug!
Shakir, langsung melempar bantal sofa itu pada pria terhormat ini.
Untunglah, Adam bisa menghindar dengan mulutnya yang makin terkekeh keras.
“Apa kamu sengaja juga membawa Sanja kesini?”
“Iya.” Jawab Adam, dan lagi-lagi Adam mendapatkan lemparan bantal sofa itu.
“Iya iya, maafkan aku. Dulu aku masih cemburu padamu. Karena itulah aku meminta Luna untuk mulai menyelidiki kamu, sampai akhirnya aku mendengar satu nama, Sanja.”
Shakir tak menanggapi apapun, hanya wajahnya saja
yang nampak kesal.
Ia hanya merasa malu, tak sungguh-sungguh marah. Shakir tahu, Adam memang mampu melakukan itu semua. terlebih, hubungan diantara mereka dulu memang tidak baik.
“Jangan marah terlalu lama, ku lihat tadi kalian sudah berpelukan.” Ledek Adam lagi, dan kali ini lemparan bantal Shakir tidak meleset. Tepat mengenai wajah Adam Malik yang sedang terkekeh itu.
“Rasakan!” kesal Shakir, jadi menyesal kenapa ia harus menemui Adam, jika akhirnya jadi bahan ledekan seperti ini.
Perkelahian keduanya terhenti, saat Azzam dan Azzura menghampiri mereka berdua.
Kedua bocah ini berlari dengan memanggil Amang Shakir dengan antusias, sudah cukup lama mereka tidak bertemu.
“Amang, sepertinya sedang bahagia sekali, wajahnya terlihat berseri-seri,” ucap Azzura, seraya menyelidik wajah sang amang.
Azzam pun ikut mengamati dan membenarkan ucapan sang adik.
“Iya, raut wajah seperti ini sama seperti wajah ayah saat dulu ayah dan ibu menikah,” timpal Azzam.
Azzam dan Azzura duduk disebelah kiri dan kanan Shakir, sementara Adam duduk sendirian. Ia sudah tak cemburu lagi jika kedua anaknya itu dekat dengan Shakir.
Karena selami ini, hubungan mereka memang terjalin dekat.
“Amang sedang jatuh cinta ya?” tanya Azzura dengan senyumnya yang nakal.
Shakir kehabisan kata-kata. Entah kenapa, kini Azzam dan Azzura nampak seperti Adam Malik di matanya.
Menyebalkan.
Lagi-lagi, Adam terkekeh.
“Iya sayang, sebentar lagi Amang Shakir dan bidan Sanja akan menikah, karena itulah amang Shakir berbahagia, sampai-sampai wajahnya berseri-seri.” Adam yang menjawab.
Azzam dan Azzura sontak kegirangan.~~~~
“Cie cie Amang,” ledek Azzura pula.
Dan Shakir hanya mampu menggelengkan kepalanya, seraya menghembuskan napasnya berat.