
"Ibu Haura, kenapa melamun?" tanya Adam seraya menoleh pada Haura yang duduk disebelahnya, saat sedang bersama anak-anak seperti ini, Adam memang selalu memanggil Haura dengan sebutan ibu, pun Haura yang juga memanggil Adam dengan sebutan ayah.
Saat ini mereka semua sudah berada di ruang tengah, duduk bersanding di sana dengan memangku Azzam dan Azzura yang sudah mengantuk.
Kedua anaknya itu tidur di paha kedua orang taunya. Kepala Azzam berbaring diatas paha sang ayah, sementara Azzura bersama ibunya.
Tadi, Haura sudah berkeliling rumah ini. Rumah yang Adam katakan akan menjadi rumah tempat tinggal mereka setelah menikah nanti.
"Apa Luna sering datang kesini?" tanya Haura langsung, hingga membuat Adam mengeryit bingung. Kenapa calon istrinya ini malah membicarakan tentang Luna.
Sebelum menjawab, Adam mengangguk kecil, ingin tahu reaksi yang ditunjukkan oleh Haura. Dan Adam tersenyum kecil, saat melihat wajah Haura yang semakin murung.
Bisa Adam pastikan, jika Haura tengah cemburu.
"Apa Monica menemui mu kemarin mengatakan tentang Luna?" tebak Adam hingga membuat kedua netra Haura membola. Darimana Adam tahu jika kemarin Monica menemui dirinya.
Dan secepat itu pula, Haura jadi teringat akan orang-orang yang Adam perintahkan untuk menjaganya dari kejauhan.
Tak ingin bohong, Haura pun mengangguk.
Lalu dengan tersenyum, Adam mulai menceritakan semuanya tentang ia dan Luna.
Tentang kebencian Monica pula pada Luna.
Sejak awal menikah dengan Monica, Adam sudah mengatakan pada wanita itu jika ia tidak bisa menerima Monica. Karena Adam yakin betul, malam itu bukan Monica lah wanita yang ia sentuh.
Namun dengan beraninya Monica membuka seluruh bajunya dan tidur disebelah Adam.
Sejak hari itu, Adam bukannya simpati namun malah merasa jijik. Monica bukanlah wanita yang baik, itulah yang selalu di yakini oleh Adam. Karena itulah ia mengambil jarak, bahkan tak sedikitpun berniat untuk memulai sebuah hubungan, meski mereka sudah menikah.
Keluar dari mansionnya sendiri dan Adam memilih untuk tinggal di rumahnya yang lain. Selama tinggal di sana, Luna menjadi penghubung antara dirinya dengan Zahra, hingga Luna sering kulu kilir keluar dari rumah itu.
Bahkan Luna pun memiliki kamarnya sendiri di sana.
Namun Adam tak pernah berpikir sejauh itu, karena di rumah itupun bukan hanya ditinggali oleh ia dan Luna, namun banyak juga para pelayan.
Semenjak saat itu, Monica begitu membenci Luna. Menganggap jika Luna adalah duri didalam rumah tangganya.
Padahal sejak awal, rumah tangga itu tidak pernah ada untuk Adam.
"Sebelumnya Ayah tinggal dimana?" tanya Haura setelah Adam selesai bercerita.
"Rumah lain, bukan rumah ini."
"Memangnya rumah Ayah ada berapa?"
"Aku tidak tahu, jika kamu benar-benar ingin tahu jawabannya aku akan meminta Luna untuk menghitung," jawab Adam jujur, namun Haura yang mendengar itu malah mencebik.
"Kamu masih cemburu pada Luna?" tanya Adam kemudian dan Haura menggelengkan kepalanya.
Perbincangan kedua orang tuanya itu seolah menjadi dongeng untuk Azzam dan Azzura, hingga kedua anak ini sudah tertidur dengan pulas.
"Aku mencintaimu ibu Haura, percayalah," timpal Adam lagi dengan tatapannya yang dalam. Ingin Haura yakin atas perasaannya itu.
Dan Haura tidak bisa berkata apa-apa, tatapan Adam membuatnya beku.
Melihat manik mata Haura yang berkilauan, Adam seperti terhipnotis. Seolah kini, tubuhnya berada diluar kendali.
Entah ada angin apa, seolah tubuh Adam didorong untuk mendekati wajah cantik itu, mengikis jarak dan merasakan manisnya bibir ranum Haura.
Hingga keduanya berpaut.
"Ayah," panggil Haura, saat dilihatnya Adam yang malah melamun.
Bahkan Haura sampai harus menyentuh wajah calon suaminya itu, untuk membuat Adam tersadar.
Terkisap, Adam reflek menyentuh tangan Haura yang masih berada di wajahnya.
Seketika tatapan keduanya kembali terkunci, dengan tatapannya yang entah.
"Ibu Haura, maafkan aku," ucap Adam, ia lalu benar-benar mengikis jarak, menjadikan hayalannya tadi berubah menjadi nyata.
Hingga membuat kedua netra Haura membola, saat merasakan kedua bibirnya di sesap oleh Adam.
Namun seperti terhipnotis. Haura malah menutup matanya dan sedikit membuka bibir.
Seolah meleburkan semua kecemburuan yang mereka rasakan hari ini.
Tak sampai lama, Adam lalu melepaskan diri. Menyaksikan bibir sang calon istri yang nampak basah.
"Maafkan aku ibu Haura, aku tahu ini salah, aku tidak akan mengulanginya lagi," jelas Adam langsung, seperti anak kecil yang takut dimarahi ibunya.
Mendengar itu, Haura mengulum senyum, sumpah demi apapun, kini ia sangat malu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Salam AH 💕💕
Maaf ya reader, ayah Adam khilaf, eh ibu Haura juga 🙈🙈🙈🙈
Jangan lupa Vote y 💗