
Jepang.
Luna, mengambil jam istirahatnya dan memerintahkan 2 anak buah untuk terus mengawasi tuan muda Azzam dan nona muda Azzura.
Setelah makan siang saat ini, Azzura dan Arrabela sedang mengikuti kelas Ikebana atau seni merangkai bunga. Sedangkan Azzam, Arnold dan Julian mengikuti kelas Shodo atau seni kaligrafi.
Setelah kelas itu usai, maka selesai pulalah tukar budaya dalam study tour kali ini. Tahun depan, giliran TIS yang akan mengunjungi AIG School.
Luna, memilih kembali ke hotel, mengambil jam istirahatnya untuk makan siang didalam kamar itu saja.
Ia menggerai rambutnya yang terikat rapi, lalu tidur di atas sofa setelah melepas blazer hitamnya. Hanya menggunakan kemeja putih kesukaannya.
Menunggu, pesanan makanannya datang.
Dan tak berapa lama kemudian, bell pintu kamarnya pun berbunyi. Dengan rambut yang sedikit acak-acakan itu, ia membuka pintu.
"Pesanan anda Nona," ucap sang pelayan dengan bahasa jepang yang sangat fasih, namun suaranya seperti tak asing, mirip sekali dengan ...
"Tuan Edgar?" gumam Luna, saat melihat siapa yang datang. Terkejut? tentu saja, bahkan sangat.
"Bagaimana bisa Tuan disini?" tanya Luna dengan tidak sadar.
Edgar tersenyum, begitu lucu melihat wajah tegang Luna. Sepertinya pun gadis ini tidak sadar jika penampilannya acak-acakkan.
"Pesanan Anda Nona," ucap Edgar lagi, masih berdiri didepan pintu kamar itu.
Lengkap dengan troli makanan yang ia bawa. Edgar, lalu membuka penutup piring, dan Luna mengamati.
Bukan makanan yang ada di sana, melainkan sebuah kotak cincin berwarna biru tua.
Kedua netra Luna membola, namun ia tak bisa mengucapkan apa-apa.
Edgar mengambil kotak itu dan membukanya.
"Ini adalah cincin kawin mama dan dia memintaku untuk memberikannya padamu. Aku tidak bisa menunggumu kembali ke Indonesia, jadi aku memutuskan untuk datang kesini," jelas Edgar, apa adanya.
Besok, baginya terlalu lama.
Melihat Luna yang terpaku, pria tampan ini lalu menggerakkan satu tangannya, menyelipkan beberapa rambut sang kekasih ke belakang telinga.
Seketika Luna tersentak, kesadaran yang tiba-tiba kembali. Ia sedikit memalingkan wajahnya, malu.
Lalu dengan sendirinya, Edgar mengambil tangan kanan Luna dan memasangkan cincin itu.
"Aku sudah mengurus semua berkasnya, seperti rencana kita. Bulan depan kita menikah," ucap Edgar setelah cincin itu terpasang sempurna, sangat cantik ketika digunakan oleh sang kekasih.
Luna, sampai sekarang masih tak mampu berkata apapun. Masih merasa jika ini adalah mimpi.
Bahkan iapun tetap diam, Saat Edgar mendorongnya masuk ke dalam kamar itu dan kembali melabuhkan sebuah ciuman dalam dibibir ranumnya.
Luna, memejamkan mata, merasakan semuanya yang terasa nyata.
"Kamu cantik saat menggerai rambut seperti ini," ucap Edgar setelah ciuman keduanya terlepas, menyisahkan napas memburu yang saling beradu.
"Saat pulang nanti, aku akan menemui tuan Adam, dan mengatakan tentang hubungan kita."
Lagi-lagi Edgar yang bicara, sementara Luna hanya diam.
Edgar, menikmati wajah wanitanya yang nampak merona, ditatapnya lekat wajah itu dan dibelainya lembut.
Ia juga memeluk erat pinggang sang kekasih.
"Aku mencintaimu," ucap Edgar, pelan seperti hembusan angin. Berucap dengan tatapannya yang dalam.
Membuat Luna makin membeku, apalagi saat napas hangat itu menyapu wajahnya.
"Katakan," titah Edgar.
Dan dengan semua keberaniannya, Luna pun mengatakan apa yang ingin didengar oleh Edgar.
"Aku mencintaimu ... Sayang."