
Haura masuk seorang diri ke dalam kamar sang suami, sementara Aida dan Sarah menunggu diluar.
Menunggu, suami-suaminya untuk keluar.
Ketiga wanita ini terus tersenyum lebar, mengetahui fakta bahwa saat ini mereka tengah hamil.
Apalagi Aida, sudah beberapa tahun ia menunggu-nunggu keajaiban ini datang dalam rumah tangganya.
“Mas Yuda, mas Agra, mbak Sarah dan Aida menunggu diluar,” ucap Haura pada kedua pria ini.
Agra dan Yuda menganggukkan kepalanya, lalu pamit pada Zahra untuk keluar.
Selepas kepergian Agra dan Yuda, Haura menghampiri suaminya dengan senyum yang nampak berbeda.
Haura duduk disisi ranjang, sementara Zahra, duduk di sofa kecil yang berada disebelah tempat tidur itu.
Haura terus tersenyum lebar dengan wajahnya yang berseri, sangat kontras sekali dengan wajah suaminya yang nampak pucat dan tidak bersemangat.
Zahra yang melihat perubahan raut wajah menantunya pun merasa penasaran pula. Lebih penasaran lagi karena Haura barus aja menjalani pemeriksaan dengan dokter Diah.
Zahra, berpikir terus di dalam diamnya. Melihat senyum Haura dan memperhatikan perubahan yang terjadi pada Adam. Hingga akhirnya, Zahra pun ikut tersenyum, kala menyadari satu hal.
Mungkin saja, menantunya ini hamil.
“Sayang, apa kamu hamil Nak?” tanya Zahra akhirnya, ingin tahu benarkah dugaannya itu.
Haura makin tersenyum lebar, bahkan hingga menampakkan deretan giginya yang rapi.
“Iya Bu, aku hamil,”jawab Haura.
“Apa!? Hamil?” Adam yang menanggapi, ia bahkan langsung bangkit dari tidurnya dan membuat posisi duduk.
“Iya Mas, aku hamil.”
Dan saat itu juga, Adam langsung merengkuh tubuh Haura dan memeluknya erat.
Entah kenapa, ada air mata yang mengalir disudut mata Adam. Tangis bahagia yang tak bisa ia cegah.
“Aku masih punya kabar bahagia yang lain Mas,” ucap Haura, ia lalu sedikit mendorong dada suaminya. Membuat jarak agar mereka bisa saling tatap. Haura pun menghapus air mata di wajah suaminya itu.
Lalu melihat kearah sang ibu mertua.
“Yang hamil bukan aku saja Bu, mbak Sarah dan Aida juga hamil.”
Kedua netra Adam dan Zahra seketika membola, seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Haura.
Zahra bahkan kembali bertanya, hingga ketiga kali benarkah sang anak Aida juga hamil. Dan Haura terus menjawab iya setiap pertanyaan ibu mertuanya itu.
Zahra menangis, ia bahkan langsung memeluk Haura dan segera bergegas keluar. Menemui Aida yang kini berada di ruang keluarga atas.
Zahra paling tahu bagaimana perjuangan putrinya itu untuk bisa memiliki anak. Tak hanya berkonsultasi pada dokter, tapi Aida juga merubah pola makannya agar lebih sehat. Aida bahkan berulang kali menjalan ibadah umroh agar doanya itu bisa segera terkabul.
Dan kini semua usaha Aida telah membuahkan hasil.
Zahra, sungguh merasa bahagia.
“Bu,” Aida bangkit dari duduknya dan menyambut kedatangan sang ibu dengan pelukan erat.
Pelukan haru.
Sarah dan yang lainnya pun ikut merasakan keharuan itu. Sarah bahkan sampai memeluk suaminya erat, butuh sandaran untuk menumpahkan tangis bahagianya.
Dan Yuda begitu bersyukur, berulang kali didalam hatinya ia mengucapkan Alhamdulilah, karena semua usaha dan doanya kini telah dikabulkan oleh Allah.
“Sarah, sini sayang,” pinta Zahra pada menantu pertamanya ini. Sarah bangkit dari duduknya dan menghampiri sang ibu mertua beserta Aida.
Zahra merentangkan tangannya yang lain dan memeluk Sarah erat.
“Ibu bersyukur sekali Nak, kalian mendapatkan kebahagiaan bersama seperti ini,” ucap Zahra diantara isak tangisnya.
Sarah dan Aida semakin memeluk ibunya itu, tak sanggup berkata-kata lagi.
Sementara itu, di dalam kamar sana.
Adam, terus menatap lekat wajah sang istri yang nampak ceria.
“Jadi kamu hamil dan aku yang mengalami gejalanya?” tanya Adam, barusan saja Haura menceritakan semua yang dikatakan oleh dokter Diah tadi, sebelum dokter Diah pergi.
Pelan, Haura mengangguk.
“Maaf ya Mas,” jawab Haura lirih, bahkan senyumnya perlahan memudar.
Mulai detik ini, Adam akan mengalami morning sickness. Dan Haura begitu tahu bagaimana menyiksanya itu.
“Aku yang seharusnya minta maaf, karena mulai sekarang aku tidak bisa jauh dari kamu.”
Haura, tersenyum lagi.
Kembali teringat ucapan dokter Diah.
Tuan Adam, hanya akan merasa nyaman jika ia berada didekat anda Nyonya. Beliau tidak
bisa melihat wanita lain mendekati dirinya.
Jadi, siapa yang akan repot?