My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 85 - Memilih Untuk Ke Hutan



Setelah para investor meninggalkan ruangan itu, Adam dan kedua anaknya menghampiri Darius didepan podium sana.


"Selamat ya Darius, kamu mendapatkan banyak penanam modal baru. Dengan begitu, keuntungan yang akan aku dapatkan dari 10 persen itu akan semakin banyak," ucap Adam, ketika sudah berdiri tepat di hadapan Darius.


Dan mendengar itu, Darius mengepalkan tangannya kuat. Merasa jika kini, Adam memerinthakan dirinya, di perusahaannya sendiri.


Darius Lalu melirik sekilas pada Azzam dengan tatapan sengit. Namun ia kembali mengeram kesal saat melihat Azzam bukannya takut, malah menatapnya dingin.


Anak dan ayah sama saja, menjijikkan. Umpat Darius yang hanya berani ia ucapkan di dalam hati.


"Ku pikir kita sudah tidak memiliki masalah lagi Adam, jadi pergilah dari sini dan jangan ganggu aku," jawab Darius kemudian dan Adam terkekeh.


Sumpah demi apapun, Darius benci sekali melihat tawa Adam itu.


"Aku memang tidak berniat memiliki urusan apapun denganmu, aku hanya ingin mengingatkanmu satu hal," balas Adam kemudian, lalu mendekati Darius dan membisikkan sesuatu.


"Nikmatilah hidupmu, sebelum aku membuatmu jadi seperti Monica," bisik Adam, lalu menarik diri dan mengambil jarak dengan Darius.


Mengukir senyum, lalu membawa kedua anaknya untuk meninggalkan ruangan itu.


Brak!


Darius menggebrak meja di hadapannya!


"Berani-beraninya dia mengancam ku!" pekik Darius hingga membuat Yosep menelan ludahnya dengan susah payah.


Jika sudah marah begini, Darius terlihat sangat mengerikan.


"Tenanglah Tuan, kendalikan diri anda. Saat ini kita belum mampu melawan Adam Malik. Apalagi setelah Adam memiliki 10 persen saham kita," jelas Yosep, mengungkapkan fakta.


"Aku tahu sial!" balas Darius dengan suaranya yang semakin tinggi.


Sadar jika posisinya jauh berada di bawah Adam, Darius kini hanya bisa mengendap-ngendap. Berusaha mengembangkan perusahaannya dibelakang Adam.


Namun sialnya, pergerakannya selalu diketahui oleh Adam. Seperti hari ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ayah, paman itu siapa sih? sepertinya dia tidak suka melihat kita," tanya Azzura kepada sang ayah ketika mereka baru saja keluar dari ruang pertemuan itu.


"Dia adalah teman ayah sayang, bukannya tidak suka melihat kita, tapi wajahnya memang seperti itu. Seperti Squidward." jelas Adam dengan terkekeh, hingga membuat kedua anaknya ikut terkekeh pula.


Bahkan Azzura nyaris terbahak, kala membayangkan tokoh Squidward di serial kartun yang menjadi favoritnya, Spongebob.


"Ayah benar," timpal Azzura kemudian setelah tawanya mereda.


Sedangkan Azzam hanya diam saja, meski dia tahu jika paman bernama Darius itu bukanlah teman sang ayah, melainkan musuh.


Baik di dalam bisnis ataupun kehidupan pribadi.


Sebelum kembali kamar hotel, Adam mengajak kedua anaknya itu untuk makan di salah satu restoran yang ada di hotel tempat mereka menginap.


Adam, mengajak kedua anaknya ini untuk menuju LAVO Restaurant. Restaurant yang berada di lantai 57, LAVO Italian Restaurant & Rooftop Bar yang menawarkan pengalaman bersantap dengan hamparan pemandangan spektakuler.


Dari atas sini, mereka bisa melihat indahnya Singapura yang berganti hari, dari sore ke malam hari. Melihat cahaya lampu dibawah sana yang mulai menyala satu per satu. Bahkan mereka bisa melihat Garden By the Bay yang mulai berkilauan indah.



Restoran Italia-Amerika ini bernuansa kontemporer nan mewah. Sajian favorit di sini adalah hidangan seafood, sandwich, hingga pizza.


Tadi, kata Azzura ia ingin makan seafood. Karena itulah Adam mengajaknya kesini.


Duduk bersama di salah satu meja.


Saling melempar tawa dan candaan yang menghangatkan suasana.


"Coba ibu ikut, pasti ibu senang sekali melihat pemandangan ini," celoteh Azzura yang mulai tidak takut pada ketinggian. Ia mulai berani, melihat indahnya pemandangan di bawah sana.


Melihat Azzura yang sempat takut pada ketinggian itu, sekilas Adam teringat akan Haura. Saat ia membawa Haura untuk mendarat di atap Malik Kingdom kala itu.


Membayangkan itu, sejenak Adam terkekeh.


"Ayah tidak yakin jika ibu akan senang datang kesini," jawab Adam kemudian.


"Ayah benar, daripada kesini, ibu akan memilih untuk ke hutan," timpal Azzam kemudian. Hingga membuat Azzam dan Adam terkekeh berduaan, sementara Azzura mengedikkan bahunya, tidak paham apa yang ditertawakan oleh sang ayah dan sang kakak.


Dan diseberang pulau sana. Haura terus mengaruk telinganya yang berdengung.