My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 144 - Ssstt!



Tepat jam 9 pagi.


Adam dan Haura sampai di perusahaan Malik Kingdom.


Haura mengeryit bingung saat melihat semua karyawan yang ia temui semuanya para pria. Biasanya, banyak pula para wanita yang menyambut kedatangan mereka.


Seketika, Haura menatap tajam suaminya. Mengira Adam telah memecat para karyawan wanita di sana, hanya karena mualnya.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Adam, kini ia dan sang istri sudah berada di lift khusus eksekutif, lengkap dengan Kris didalam sana.


"Apa Mas memecat semua karyawan wanita disini?" tanya Haura langsung, masih juga dengan matanya yang menatap tajam sang suami.


sungguh tak menyangka, suaminya setega itu. Hanya demi kepentingannya sendiri, Adam sampai mengesampingkan hidup orang lain.


Adam hendak menjelaskan, tak ingin istrinya itu salah paham. Namun baru mau membuka mulut, Haura kembali berucap.


"Mas tega sekali, mereka itu juga punya kehidupan Mas, bagaimana jika mereka itu tulang punggung keluarga, bagaimana nasib keluarga mereka," sela Haura, diantara salah pahamnya yang sudah menggunung.


"Maaf Nyonya," Kris buka suara, kala melihat sang tuan yang terpojokkan.


"Apa? kenapa kamu diam saja saat mas Adam memecat para karyawan wanita? harusnya kamu bisa menjadi penengah Kris. Bukan selalu menuruti mas Adam, atas perintahnya yang salah." Kris tak jadi membela tuannya, karena nyatanya pun ia malah dimarah juga.


"Aku tidak mau tau, jika alasan mereka dipecat hanya karena mas mual. Aku mau mereka kembali dipanggil dan bekerja disini," pinta Haura sungguh-sungguh.


Keputusan final yang sudah mereka ambil.


"Kris, suruh mereka semua keluar."


"Baik Tuan," jawab Kris patuh, hingga membuat Haura mengeryit bingung.


"Keluar?" tanya Haura, mengulang ucapan sang suami.


Dilihatnya, Adam mengangguk.


Lalu saat pintu lift terbuka, sudah banyak karyawan wanita yang menyambut mereka.


Dan Adam langsung bersembunyi dibalik tubuh sang istri, menjadikan Haura sebagai tameng.


Tak bisa mendapatkan jawaban dari suaminya, Haura pun menatap Kris. Ingin Kris menjawab kebingungan yang kini melanda pikirannya.


Setelah memberi isyarat agar karyawan-karyawan itu pergi, Kris lalu menjelaskan pada Nyonyanya itu.


"Huwek!" Adam kembali mual, hingga membaut Haura langsung berbalik dan memeluk suaminya itu.


"Maaf Mas, aku tidak tahu," ucap Haura, jujur.


"Kris, berbaliklah," titah Adam, dan tanpa babibu, Kris langsung berbalik dengan cepat. Bahkan maju beberapa langkah untuk memastikan kondisi aman.


Adam, melumaat bibir istrinya pelan. Mengambil tenaga yang nyaris saja hilang karena melihat banyak wanita tadi.


Haura tak berkutik, apalagi saat melihat dahi sang suami yang mulai dipenuhi peluh.


Menandakan rasa mualnya bukan main-main.


"Apa sudah lebih baik?" tanya Haura, saat ciuman itu sudah terlepas sempurna. Tapi dahi keduanya, masih menyatu.


"Sudah lebih baik," jawab Adam apa adanya.


Haura lalu memeluk suaminya erat.


Tak lama kemudian, mereka langsung menuju ruang rapat utama.


Para staff dan manajer sudah menunggu di sana.


Mereka semua terperangah, kala melihat sang tuan yang datang bersama istrinya. Tak sampai di sana, bahkan tuannya itu selalu mendekap istrinya erat.


"Mulai," titah Adam, saat ia sudah duduk di kursinya sendiri dan Haura duduk persis disebelah Adam. Tangan keduanya terus berpaut dibawah meja sana.


Pagi itu, rapat berlangsung seperti biasanya. Haura yang notabenenya adalah orang asing di perusahaan itu sungguh tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh semua orang.


Ketidaktahuannya itu membuat ia bosan dan lama-lama mengantuk.


Hingga entah di jam keberapa, rapat itu tak kunjung selesai-selesai juga. Bahkan hingga Haura tertidur di lengan Adam.


Rapat itu belum juga usai.


"Ssstt! pelankan suara kalian, istriku sedang tidur."


Dan, semua orang menganggukkan kepalanya dengan patuh.


"Baik Tuan," jawab mereka, lirih.