
Haura berbalik, menatap tajam pada ayah dan kedua anaknya itu.
“Maaf ya, tapi tangan ibu kotor,” ucap Haura seraya mengangkat kedua tangannya yang banyak menempel jamur-jemur kecil berwarna
kehitaman.
Adam, Azzura dan Azzam kompak memasang wajah cemberut, bukannya iba Haura malah terkekeh, ia bahkan sampai menutup mulutnya menggunakan lengan agar tawa itu tidak pecah,
merasa lucu. Wajah mereka benar-benar mirip, ucap Haura di dalam hati.
Akhirnya Adam menurunkan Azzam dan Azzura, lalu mengajak kedua anaknya itu untuk kembali duduk di kursi meja makan, ia menyuapi kedua anaknya memakan beberapa buahan, menunggu Haura membuat sup jamur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya.
Azzam dan Azzura belajar di kamarnya masing-masing, sementara Haura, Aminah dan Jodi masih duduk bersama di ruang keluarga.
“Om, sebenarnya aku sudah menebus toko bunga om Jodi,” ucap Haura pada sang paman, memulai pembicaraan mereka.
Haura tahu, betapa pentingnya toko bunga itu bagi sang paman, pekerjaan yang Jodi tekuni beberapa tahun silam adalah juga kegemarannya. Haura ingin mengembalikan toko itu, kembali membukakan toko bunga untuk sang paman. Agar Jodi bisa kembali menikmati hidupnya, sama seperti dulu.
“Om bisa kembali mengelolanya, sama seperti dulu,” timpal Haura lagi.
Mendengar tawaran Haura itu, kedua netra Jodi membola, lalu lambat laun sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman. Namun kembali surut saat merasa tak ingin merepotkan sang keponakan, Haura mau menerimanya saja ia sudah sangat bersyukur, ia tak menginginkan hal yang lainnya lagi.
Pelan, Jodi menggelengkan kepalanya.
“Biayanya pasti mahal Haura, om tidak ingin menambah bebanmu,” tolak Jodi, sungguh ia benar-benar merasa tak enak hati. Biaya sekolah Azzam dan Azzura pun sudah begitu mahal, pikirnya.
“Om jangan bicara seperti itu, aku tahu, toko bunga Om Jodi sampai tutup karena Om terus mencariku,” jawab Haura lirih, bahkan matanya mulai berembun kala membayangkan akan hal itu.
Merasa diperhatikan dan dicintai, padahal selama ini, ia terus merasa tersisih dan terbuang.
“Tidak Haura, bukan karena kamu Nak, itu semua murni karena keteledoran Om,” jawab Jodi yang tak ingin Haura makin merasa bersalah atas bangkrutnya toko bunga yang ia kelola, karena ini semua memang bukanlah salah Haura, melainkan istrinya sendiri, Salma.
Setelah menjual toko dan membawa semua uang penjualan bunga, Salma pergi meninggalkan Jodi.
Aminah yang ikut mendengar pembicaraan mereka pun hanya bisa menghela napasnya dengan pelan. Lalu menatap Jodi dan menganggukkan kepalanya kecil, seolah memberi isyarat bahwa sebaiknya Jodi terima saja tawaran Haura itu.
Aminah tahu, betapa tulusnya niat Haura ini.
"Haura mohon Om, beri aku kesempatan untuk berbakti kepada Om, sekali saja, aku ingin membuat om bahagia," ucap Haura, ia menunduk dan air matanya langsung jatuh.
Aminah pun bergeser, lalu memeluk Haura erat.
"Baiklah, om akan ikuti kemauanmu, om akan kembali mengelola toko bunga itu, tapi dengan satu syarat," ucap Jodi.
Haura langsung mengangkat wajahnya dan menghapus air mata dengan cepat.
"Izinkan om menggunakan namamu untuk toko bunga yang baru nanti."
Haura tersenyum, ia mengangguk dengan antusias.
Malam itu, mereka semua sudah sepakat untuk kembali membuka toko bunga, Haura Florist. Jodi akan memegang penuh tanggung jawab toko bunga itu, sementara Aminah dan Haura hanya akan berkunjung sesekali.
Jodi, amat sangat mensyukuri akan hal ini, kembali bekerja adalah keinginannya yang terpendam beberapa tahun silam. Dan kini, melalui Haura, Allah mengabulkan doanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jadi pagi ini, kamu, om Jodi dan nenek Inah akan ke toko bunga?" tanya Adam memastikan setelah Haura selesai menceritakan rencananya tentang hari ini.
"Kita bisa menemui ibumu saat sore hari, saat Azzam dan Azzura sudah pulang sekolah," timpal Haura lagi, saat melihat Adam yang nampak kecewa, entah kecewa karena apa?
Haura tidak tahu, jika sebenarnya, pagi ini Adam ingin mengajak Haura untuk menemui ibunya lebih dulu. Berkenalan sebelum nanti mereka membawa anak-anak.
Tapi ternyata, Haura sudah punya rencana lain.
"Baiklah, nanti beri aku kabar, aku akan menjemput kalian," ucap Adam kemudian, setelah cukup lama memberi jeda.
Haura, mengangguk setuju.
Tak lama kemudian, Azzam dan Azzura keluar. Salim kepada sang ibu lalu pergi bersama sang ayah.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Adam kembali berbalik, menatap Haura yang tersenyum kearahnya.
"Aku pergi," pamit Adam, dan Haura hanya menjawabpinya dengan sebuah anggukan, lalu melambaikan tangan kanannya.
Terus memperhatikan mobil Adam hingga benar-benar keluar dari halaman rumah.
Setelah itu, Haura kembali masuk, memesan taksi online dan pergi ke toko bunga bersama Jodi dan Aminah.
Dan disinilah kini mereka semua berdiri, di hadapan toko bunga Jodi yang dulu. Pintu utama toko itu masih dikunci mengunakan rantai yang melilit di pegangan pintu itu.
Bahkan debu-debunya pun nampak begitu jelas.
Nama Salma Florist pun masih terpampang di atas sana, meski sudah sangat tidak layak.
Tak ingin mengulur waktu, akhirnya Haura membayar beberapa orang untuk membersihkan toko itu hingga semua debunya lenyap tak tersisa sedikitpun, menjelang siang, toko bunga itu sudah nampak bersih dan wangi.
"Besok kita cat ulang ya Om?" tanya Haura dan Jodi hanya bisa mengangguk setuju. Apapun yang diinginkan oleh Haura, ia akan ikuti, selama keinginan itu tetap berada di jalan yang benar.
Hari itu juga, Jodi mulai kembali menghubungi Pandu untuk kembali bekerja bersama dengannya. Lalu menghubungi pula para pemasok bunga segar yang selama ini menjadi partnernya.
Jodi, melakukan semuanya dengan begitu antusias. Bahkan, Haura dan Aminah pun sampai bisa merasakan semangat Jodi itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam pulang sekolah, Haura menjemput kedua anaknya. Ia dan Adam sudah sepakat, bahwa Haura lah yang akan menjemput Azzam dan Azzura kali ini.
Ternyata, didepan gerbang AIG School, Azzam dan Azzura tak menunggu sang ibu berdua saja, namun ada juga Luna bersama mereka.
Melihat Haura datang, Luna langsung menundukkan kepalanya hormat. Mengatakan, jika ia diperintah oleh Adam untuk memastikan semuanya baik-baik saja sampai Haura datang menjemput.
Haura tersenyum kecil kala mendengar penjelasan Luna itu.
"Katakan pada mas Adam, jemput kami sehabis shalat ashar," ucap Haura kemudian.
"Maaf Nyonya, saya tidak bisa menyampaikan pesan Anda. Tuan sudah meminta anda untuk menghubunginya secara langsung," jawab Luna apa adanya. Jika Luna mengatakan perihal pesan Haura itu, ia yakin Adam malah akan merasa kesal.
Karena sedari tadi, Adam terus menatap ponselnya, menunggu Haura untuk menghubungi.
"Baiklah," jawab Haura singkat.
Lalu Haura pergi lebih dulu bersama Azzam dan Azzura. Setelah melihat taksi sang nyonya semakin menjauh, Luna baru bergerak dari posisinya berdiri.
Kembali ke Malik Kingdom.