
Aida, tadi sudah menghubungi kakak iparnya, mengatakan kepada Haura jika mereka akan pulang terlambat. Kini, mereka semua sudah berada di rumah om Jodi.
Makan malam di sana dan istirahat sejenak.
Haura mengiyakan, kembali meminta semuanya untuk hati-hati ketika pulang nanti.
“3 hari lagi, kalian akan mulai tes untuk masuk ke perguruan tinggi. Jadi manfaatkan waktu yang tersisa untuk belajar. Kembali mengingat pelajaran kalian semasa sekolah dulu,” ucap Aida pada Labih dan Nanjan.
Kini mereka semua masih duduk di ruangan tengah, setelah beberapa menit lalu selesai makan malam bersama. Jodi, masuk ke kamarnya lebih dulu, karena hanya tinggal dia seorang yang belum melaksanakan shalat isya.
“Iya Tante,” jawab Labih dan Nanjan patuh.
Aida, memang sengaja tak memasukkan langsung Labih dan Nanjan di perguruan tinggi meski ia bisa melakukannya dengan mudah., Aida ingin, meskipun Labih dan Nanjan memilik fasilitas lebih, mereka tetap berkuliah sebagaimana mestinya. Melalui ujian masuk dan diterima di fakultas yang benar-benar sesuai dengan kemampuannya.
Ada beberapa buku juga yang Aida belikan untuk belajar Labih dan Nanjan nanti.
Dulu, semasa sekolah, Labih dan Nanjan memang selalu meminta Azzam untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah mereka. Namun bukan berarti mereka lepas tangan begitu saja. Tiap kali Azzam mengerjakan, ia pun selalu menjelaskan pada kedua abangnya itu bagaimana ini bisa seperti ini dan seperti itu.
Hingga membuat Labih dan Nanjan pun mengerti juga.
Setelah Jodi kembali menemui mereka di ruang tengah, Yuda dan Aida memutuskan untuk pamit pulang. Mereka berdua menggendong Azzam dan Azzura untuk menuju mobil di halaman rumah.
Gerimis yang tadi sore datang kini sudah menghilang, hujan, tidak jadi turun.
“Kami pergi Om, Assalamualaikum,” ucap Yuda, dan salamnya dijawab oleh semua orang.
Jodi, Labih dan juga Nanjan yang ikut mengantar. Memperhatikan, 2 mobil mewah itu menjauh dari rumah mereka.
“Kalian lelah?” tanya Aida pada kedua keponakannya, ia duduk di kursi belakang bersama Azzam dan Azzura. Sementara Yuda, didepan menyetir.
Kedua bocah kecil ini bersandar padanya, kiri dan kanan.
Aida, sangat menyayangi kedua keponakannya itu. Merasa hangat ketika Azzam dan Azzura memeluknya seperti ini. Seolah kerinduan Aida akan hadirnya sosok anak dalam rumah tangganya telah terobati.
“Iya Tante, aku lelah, tapi aku juga senang,” jawab Azzura, mulutnya masih setia memakan ice cream di malam hari seperti ini. Katanya, ini adalah makanan penutup.
“Tentu saja senang, Ading dari tadi digendong terus oleh abang Labih, jadi Ading tidak sepenuhnya lelah,” Azzam membalas dengan cepat ucapan adiknya itu.
Dan Azzura hanya terkekeh, membenarkan.
“Tapi kan sebelum digendong Zura jalan juga, masih ada lelahnya sedikit,” tawar Azzura pula hingga membuat Aida dan Yuda terkekeh.
Ada-ada saja pembicaraan kedua anak kecil ini.
Tak sampai lama, mereka semua sampai di rumah.
Aida ikut turun untuk mengantar Azzam dan Azzura, sementara Yuda menunggu di mobil dengan membuka jendela kacanya.
“Mbak, ini aku tadi belikan mbak sesuatu,” ucap Aida, seraya mengulurkan 1 paper bag ukuran sedang di tangannya.
Haura menerima itu tanpa banyak perdebatan, dan mengucapkan kata terima kasih pula.
Dengan lambaian, mereka semua berpisah.
Adam dan keluarganya masuk ke dalam rumah setelah mobil Aida keluar dari halaman rumah mereka.
“Ayah, Ibu, malam ini aku mau tidur sendiri,” ucap Azzam, saat mereka mulai menaiki anak tangga. Azzam dan Azzura ternyata juga sudah mandi, katanya mereka mandi di rumah om Jodi, dan baju mereka yang baru ini dibelikan oleh tante Aida, baju butik yang siap pakai tanpa perlu dicuci.
“Zura juga Yah, ibu,” timpal Azzura pula, hingga membuat Adam dan Haura saling pandang dan mengernyit bingung.
“kenapa?” tanya Adam mewakili penasaran sang istri.
“Kata tante Aida, kalau Zura dan abang mau punya adik lagi, jangan tidur bersama ayah dan ibu, harus tidur di kamar sendiri-sendiri,” Azzura menjelaskan dengan wajahnya yang serius, dan Azzam menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan sang adik.
Andaikan Aida ada disini, ingin sekali Adam mengacak-acak rambut adiknya itu.
“Ya sudah, sana masuk ke kamar kalian,” ucap Adam pula, setelah mereka semua sampai di lantai 2.
Azzam dan Azzura pun langsung bergegas menuju kamar mereka masing-masing.
Sedangkan Adam dan Haura menghembuskan napasnya pelan, untung kedua anaknya itu tidak bertanya lebih tentang sang adik yang belum tahu sudah ada atau belum.
Sampai di dalam kamar mereka sendiri, Haura segera membuka paper bag pemberian sang adik ipar.
“Lingerie lagi?” gumam Haura pelan, dan hanya didengar oleh telinganya sendiri.
“Apa itu sayang?” tanya Adam, yang baru saja selesai melepas jam tangannya di meja rias sang istri.
Buru-buru, Haura memasukkan lingerie itu lagi di dalam paper bag saat sang suami datang menghampiri.
“Baju Mas,” jawab Haura gugup.
“Coba lihat.” Pinta Adam, hingga membuat Haura belingsatan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aida : hahahaha😂
Haura :” AIDAA!!!” pekik Haura di dalam hati.