My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 136 - Shakir dan Edgar



Malam harinya.


Shakir dan Luna memutuskan untuk kembali ke Jakarta.


Keduanya dibuat terkejut, saat ada seseorang yang menyambut kedatangan mereka di bandara malam itu.


Edgar, datang kesana  untuk menjemput sang kekasih. Sore tadi, Luna sudah menceritakan semuanya yang terjadi pada kekasihnya itu. Ia bercerita saat Edgar menelponnya.


Tak datang sendiri, Edgar juga datang dengan beberapa anak buahnya. Anak buah yang akan ia perintahkan untuk menjaga Tuan Shakir ketika berada di Indonesia.


Sejak pertemuan mereka di Bar kala itu, hubungan Shakir dan Edgar menjadi semakin dekat.


Bukan hanya rekan bisnis, kini keduanya sudah menjelma menjadi seorang sahabat.


“Ed,” panggil Shakir, ketika ia dan Luna sudah berada dihadapan Edgar. Baru saja mereka keluar dari pintu Kedatangan di Bandara itu.


Edgar tak langsung menjawab, ia melihat kaki kiri Shakir yang sudah menggunakan gips, lalu berjalan menggunakan tongkat penyanggah.


“Orang-orang ku akan mengantarmu ke penginapan,” jawab Edgar.


Luna hanya bergeming, mendengarkan kedua pria ini yang berbicara tanpa menggunakan bahasa formal.


“Permisi Tuan, saya akan ke toilet lebih dulu,” ucap Luna, diantara kegugupannya kembali bertemu dengan Edgar. Setelah semalam, mereka meresmikan hubungan itu.


Edgar mengangguk, lalu menatap kepergian sang kekasih dengan penuh cinta. Edgar tersu tersenyum, seperti senyum yang sedari tadi pagi ia lihat di wajah luna.


Kecil,Shakir tersenyum, kala menyadari sesuatu. Sahabatnya ini, sudah mendapatkan cintanya.


“Ku pikir, kamu datang kesini benar-benar untuk menyambut kedatanganku. Ternyata gara-gara Luna,” ucap Shakir, hingga membuat Edgar memutus tatapannya pada Luna.


Buru-buru ia menatap sahabatnya dengan terkekeh.


“Aku memang mencemaskan mu Shak, tapi maaf, aku lebih mencemaskan Luna,” balas Edwar, masih dengan senyumnya itu.


“Luna sudah menceritakan semuanya padaku, bagaimana akhirnya kamu bisa terluka seperti ini. Maafkan Luna ya?” pinta Edgar, sungguh-sungguh. Ia tak ingin antara Shakir dan Luna ada permasalahan.


“Luna memang membuat kakiku terluka, tapi dia membuatku menemukan obat untuk sakit hatiku,” jawab Shakir, dengan tersenyum pula.


Perbincangan singkat dengan Sanja di puskesmas desa Parupay siang tadi. Membuat ia menyadari satu hal. Bahwa sakit hatinya ini kelak akan sembuh dengan sendirinya.


Ia hanya butuh waktu.


Jawaban singkat Sanja, membuat ia terpana. Dan entah kenapa, ada pikiran di kepalanya jika kelak, saat hatinya sudah sembuh, ia akan mendatangi Sanja untuk memulai semuanya.


Sanja adalah gadis cantik berhati mulia. Ia rela tinggal di pedalaman Kalimantan untuk membantu para warga di sana. Menjadi bidan satu-satunya di desa Parupay.


Selama ini Shakir tak menyadari itu, karena ia hanya melihat ke arah Haura.


“Benarkah?” tanya Edgar, yang juga merasa lega ketika ia mendengar jawaban Shakir itu.


Edgar tahu, bagaimana susahnya Shakir mengobati luka hatinya itu, ketika nyonya Haura memutuskan untuk menikah dengan tuan Adam.


Pertemuan keduanya di Bar kala itu, membuat mereka memahami satu sama lain.


Dilihatnya, Shakir menganggukkan kepalanya.


“Aku akan pergi lebih dulu,” ucap Shakir, berpamitan.


Dan saat itu juga, Shakir pergi bersama 2 orang anak buah Edgar. 2 orang yang akan menjaga dan merawat Shakir saat ia masih berada di Indonesia.


Kini, tinggalan Edgar seorang diri. Berdiri, menunggu sang kekasih untuk kembali datang.


Hingga tak berapa lama waktu kemudian., Luna keluar dari ujung sana. Luna mengerutkan dahinya, kala tak lagi melihat tuan Shakir. Di Sana, hanya ada Tuan Edgar.


Melihat itu, Luna menelan salivanya dengan susah payah. Mendadak gugup menyergapnya tiba-tiba.


“Tuan Edgar,” ucap Luna saat ia sudah berdiri tepat dihadapan Edgar.


“Apa? Ulangi sekali lagi?” tanya Edgar. Semalam ia sudah mengatakan kepada Luna untuk tidak lagi memanggilnya Tuan.


Tapi dipertemuan pertama mereka setelah menyandang status yang berbeda, ternyata Luna masih memanggilnya Tuan.


Sadar salah, Luna menggigit bibir bawahnya. Sungguh ia malu untuk mengucapkan satu kata ini.


Namun saat ia melihat tuan Edgar yang menatapnya dingin, membuat Luna tak punya pilihan lain.


“Sayang,” ucap Luna, lirih.


Diantara rasa gugup dan malunya, ia bahkan sedikit menunduk setelah mengucapkan satu kata itu.