
Tak lama setelah mobil jemputan Arabella pergi, kini mobil jemputan Azam dan Azura datang. Serentak pula dengan mobil jemputan milik Julian.
Akhirnya mereka semua pulang, Azura melambai dan Arnold pun membalasnya, seraya tersenyum lebar.
Dikunjungi teman-teman seperti ini rasanya sangat menyenangkan.
Sudah tak terlihat lagi, Arnold pun kembali masuk ke dalam rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa minggu kemudian.
Sanja sudah kembali ke rumah keluarga Adam. Kehamilan Haura bahkan semakin besar saja. Bukan hanya perut, tapi semua anggota tubuhnya pun membesar. Hingga saat ini, berat badan Haura sudah naik 10kg.
Malam ini, Sanja pun ikut ke rumah nenek Zahra, ikut berkumpul dengan keluarga Malik lainnya.
Tiap sebulan sekali, Adam dan keluarganya akan mengunjungi nenek Zahra. Menjadi kegiatan rutin yang tidak boleh terlewat.
Meskipun sedang sibuk-sibuknya.
2 ibu hamil duduk bersama Sanja saling bertukar cerita. Sementara Adam dan Yuda berbincang sendiri. Dan nenek Zahra bermain dengan Azam dan Azura di tempat main persembahan sang nenek.
Playground mewah di dalam mansion.
Zahra tersenyum penuh syukur, kala melihat tawa riang kedua cucunya.
"Zura, pelan-pelan sayang," ucap Zahra, memperingati. Azura berlari terlalu kencang, hingga nyaris tergelincir.
"Hehe, iya Nak," sahut Azura, ia lalu berlari dengan mengendap-ngendap, membuat Zahra akhirnya terkekeh.
Azam, lalu menghampiri neneknya dan duduk persis disebelah sang nenek.
"Nek, apa boleh aku ajak Julian dan Arnold main kesini?" tanya Azam, rasanya jika bermain dengan teman-temannya akan lebih asik.
"Tentu saja boleh sayang, ajak teman-teman Azam dan Zura untuk bermain disini. Nenek senang sekali jika rumah ini ramai." Jujur Zahra, ia bahkan mengelus dengan sayang punggung Azam.
Membuat perasaan Azam menghangat dan iapun tersenyum lebar.
"Nanti, saat kalian sudah dewasa, sering-seringlah kunjungi nenek, Ya?"
Azam, langsung menganggukkan kepalanya dengan antusias. Lalu ia kembali menyusul sang adik, dan kembali asik bermain.
Sementara itu di ruang keluarga, Haura dan Aida pun tengah asik berbincang. Membicarakan kehamilan mereka yang terasa menakjubkan. Bahkan keduanya berulang kali terkekeh, membuat Perhatian Azam dan Yuda kadang teralihkan.
"Ah Sanja, masa iya jalan lahir harus dibuat," ucap Aida, menanggapi perkataan Sanja barusan.
Di hamil tua seperti ini, suami istri malah dianjurkan untuk sering berhubungan badan. Asal dengan cara yang tepat dan tidak terlalu kasar.
"Jangan keras-keras, nanti mas Azam dan Yuda dengar," bisik Haura, yang malu ketika membicarakan masalah ini.
Apalagi kini tubuhnya semakin gendut, rasanya kurang percaya diri untuk sering-sering melakukan itu dengan sang suami.
Melihat kedua wajah ibu hamil ini, membuat Sanja merasa lucu sendiri.
"Iya Nyonya, kalau tidak percaya tanyakan pada dokter Desi," sahut Sanja akhirnya, dengan bibir yang mengulum senyum.
"Aku percaya Sanja, tapi aku tidak percaya diri untuk melakukan itu. Apalagi tubuhku sudah semakin gendut," jelas Haura dan Aida pun menganggukkan kepalanya, setuju.
Aids bahkan nampak lebih berisi daripada Haura.
"Percayalah Nyonya Haura, Nyonya Aida. Para suami malah lebih suka tubuh istrinya saat sedang hamil. Karena lebih berisi dan kencang," sahut Sanja, kemudian terkekeh kecil.
Kekehannya mereda saat Aida menepuk pelan lengannya.
"Kamu ini bidan mesum," bisik Aida membuat tawa Sanja akhirnya pecah.
"Nyonya, jangan menuduh saya seperti itu," keluh Sanja. Tapi tawanya masih juga belum reda.
Setelah Sanja menjelaskan dengan lebih rinci alasannya. Barulah Haura dan Aida percaya.
Bahwa jalan lahir itu nanti akan membantu proses persalinan mereka.
Selama diperjalanan, Azam dan Azura pasti terlelap seperti ini. Lelah bermain di rumah nenek, membuat mereka langsung tertidur di dalam mobil.
Azam tidur di paha sang ibu, sementara Azura dipangkuan sang ayah.
Dan Kris, yang menjadi supir mereka dengan Sanja disampingnya. Sementara Luna izin libur, menemani sang suami yang juga tidak bekerja.
Cukup lama didalam perjalanan, akhirnya mereka sampai. Kris dan Sanja turun lebih dulu, lalu mengambil Azam dan Azura untuk digendongnya.
Sementara Adam, membantu sang istri untuk turun dari dalam mobil. Lalu masuk kedalam rumah dengan beriringan.
Memasuki bulan kelahiran, Haura memang sering merasa kelelahan. Sedikit-sedikit ia butuh sandaran.
"Sayang, apa yang kamu bicarakan dengan Sanja tadi? sepertinya seru sekali," tanya Adam membuat kedua netra Haura langsung membola.
Mendadak gugup dan menjawab dengan gagap.
"Ti-tidak membicarakan apa-apa kok Mas," jawab Haura.
Adam tahu betul, jika istrinya menjawab dengan tergagap seperti itu pasti ada yang sedang ditutupi.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau menjawab, aku akan bertanya langsung pada Sanja nanti."
"Jangan!" potong Haura, cepat. Bisa bahaya jika sampai sang suami bertanya langsung pada bidan mesum itu.
Sanja pasti akan menjelaskannya dengan rinci, bahkan semua gaya yang aman akan ia sebutkan.
Hanya membayangkannya saja, membuat wajah Haura terasa panas dan pipinya jadi merona.
"Kalau begitu katakan."
"Iya nanti di kamar," putus Haura, membuat senyum Adam terkembang. Merasa jika ini adalah hal yang akan membuatnya senang.
Apalagi saat melihat istrinya yang malu-malu seperti itu. Pastilah menjerumus kearah masalah ranjang.
Sampai di kamar, Adam membantu istrinya untuk mengganti baju. Membuka resleting gamis Haura yang berada di punggung.
"Katakan, apa kata Sanja?" tuntut Adam, membaut Haura langsung ketar ketir.
"Nan-nanti saja dibahasnya, aku mau mandi dulu, gerah," kilah Haura membuat Adam mengulum senyum.
"Ini sudah jam 5, kita mandi sama-sama saja," jawab Adam dengan santainya, tak tahu jika Haura jadi berpikir yang macam-macam.
Tentang membuat jalan lahir di dalam bathup.
Tapi untuk menolak agar tidak mandi bersama pun Haura tak kuasa. Ia tahu betul suaminya itu tak suka jika ditolak.
Setelah tubuh istrinya polos. Adam segera membawa Haura untuk masuk ke dalam kamar mandi. Mendudukkannya di dalam bathup yang sudah dipenuhi air hangat.
Lalu iapun menanggalkan bajunya sendiri dan ikut masuk kedalam sana. Sebagian tubuh istrinya tergenang, bahkan bahkan bagian dadanya pun tertutup oleh busa-busa.
"Apa kata Sanja?" tanya Adam lagi, mereka duduk berhadap-hadapan dan Azam sedang membersihkan kaki jenjang istrinya itu didalam air.
Membuat Haura tersentak dan tidak bisa lagi mengelak.
"Ka-kata Sanja, kalau hamil tua begini sebaiknya sering melakukan itu untuk membuat jalan lahir, ahh," jawab Haura, ia menganga saat merasa satu jari suaminya sudah mulai masuk kedalam liangnya.
Bersemayam di sana dan hanya diam, menciptakan rasa mengganjal yang membuat ia kehabisan kata-kata.
"Apa ku bilang, kita harus melakukan itu, tapi kemarin kamu selalu menolak." jawab Adam apa adanya, membuat Haura mengigit bibir bawahnya kuat. Antara ingin menjawab dan menahan sesuatu dibawah sana.
"Aku malu Mas, tubuhku sekarang jadi tambah gendut."
"Tapi aku suka sayang, malah sangat suka," balas Adam pula, ia bahkan semakin mendekat seraya membuka kedua kaki istrinya lebar-lebar.
"Turuti kata Bidan mu, biarkan aku masuk."
Dan setelah mengatakan itu, Adam menarik jarinya dan menggantinya dengan yang lain, sesuatu yang lebih besar namun semakin membuat candu.
Bergumul didalam air, hingga membuatnya jadi berombak.