
Desa Parupay.
Shakir, kembali melirik Luna yang kini berada disampingnya.
Saat ini, mereka berdua sudah berada di perkebunan Haura. Duduk disalah satu gazebo yang tersedia di sana.
Menyaksikan warga desa Parupay yang sedari tadi pagi sudah memanen cabe di sana.
Dilihatnya, Luna yang tidak biasa. Tak ada lagi wajah dingin dan tegas wanita ini.
Sedari tadi bertemu di bandara, Luna selalu tersenyum. Bahkan sesekali nampak jelas Luna yang mengulum senyumnya sendiri.
Mencurigakan. Batin Shakir.
"Apa kamu sakit?" tanya Shakir hingga membuat Luna menoleh kearahnya.
"Ha?" jawab Luna, cengo.
Melihat itu, Shakir benar-benar dibuat heran.
"Berhentilah tersenyum seperti itu, kamu membuatku takut," balas Shakir lagi, apa adanya. Ia pikir, Luna mulai gila.
Disuruh berhenti tersenyum, Luna dengan cepat menyurutkan senyum itu. Menggantinya dengan wajah datar.
Namun ketika kembali terbayang wajah sang kekasih, Luna senyum lagi.
"Maaf Tuan, saya tidak bisa berhenti tersenyum," jawab Luna, jujur. Bahkan saat mengatakan kalimat itupun, ia juga tersenyum lebar.
"Apa ada yang membuatmu bahagia?"
Luna mengangguk.
Shakir tak bertanya lebih, merasa jika hubungan mereka tidak terlalu dekat untuk mengetahui kehidupan pribadi masing-masing.
"Aku akan turun, aku ingin ikut memanen cabe itu," ucap Shakir, seraya bangkit dari duduknya.
Reflek, Luna pun mengikuti.
"Izinkan saya ikut," pinta Luna dan Shakir pun menganggukkan kepalanya sekilas, mengiyakan.
Mereka berdua bergabung dengan para warga. Luna mengambil arah sebelah kanan, dan Shakir mengambil arah sebelah kiri.
Memanen cabe secara langsung seperti ini, membuat mereka merasakan kebahagian tersendiri. Terlebih sebelumnya, mereka tidak pernah melakukan ini.
Rasanya begitu bersemangat untuk memetik cabe-cabe itu.
"Bang, hati-hati, disebelah sana ada jurang. Walaupun tidak dalam, tapi jika jatuh tetap saja sakit," ucap salah satu warga, mengingatkan Shakir agar lebih hati-hati.
Shakir pun mengangguk, seraya tersenyum ramah.
Hingga tiba-tiba, dilihatnya Luna yang berlari kearahnya, seraya berteriak.
"Hi! Ulat! Ulat! Tuan, tolong saya!" pekik Luna, menatap jijik pada ulat bulu yang menempel di bajunya.
Hanya Shakir yang ia kenal, karena itulah Luna berlari ke arah pria itu.
Kedua netra Shakir membola, saat tiba-tiba Luna tersandung dan tubuhnya terhuyung.
Mengarah, kearah jurang.
Tapi naas, Shakir malah terdorong dan jatuh kesana.
Seketika, Luna pun berteriak disusul teriakan terkejut para warga.
"Tuan!" pekik Luna, ia tak peduli lagi pada ulat bulu itu, ia ingin ikut terjun ke dalam sana dan menyelamatkan Shakir yang sudah terkapar.
Namun dengan cepat, para warga mencegah Luna.
"Jangan Ading! biar bapak-bapak yang bantu abang Shakir," pinta warga itu, seraya menahan tubuh Luna kuat.
Dan Luna hanya bergeming, seraya menatap nanar Shakir dibawah sana.
Tak sampai lama, Shakir pun bisa dibawa naik. Tapi salah satu kakinya terkilir dan nampan memar. Juga beberapa goresan di lengan tangannya.
"Saya baik-baik saja Amang, Acil, biar Luna saja yang antar saya ke puskesmas," ucap Shakir ketika ia sudah naik dan berdiri dengan satu kaki.
"Iya, saya akan antar Tuan," jawab Luna, cepat.
Dan para wargapun menganggukkan kepalanya. Mereka pun melihat tak ada luka parah di tubuh Shakir.
Cukup lama Shakir dan Luna berjalan. Luna terus memapah tubuh Shakir yang kotor itu, hingga membuat tubuhnya pun kotor juga.
Sanja, yang melihat kedatangan mereka pun sontak berlari, menghampiri.
"Apa yang terjadi?" tanya Sanja cemas.
Dan Luna pun langsung menjelaskan semuanya dengan rinci.
Masuk ke dalam ruang perawatan, Sanja lalu meminta Luna untuk membersihkan tubuhnya.
Lalu mengobati Shakir yang sudah berbaring diatas tempat tidur pasien.
"Maaf jika terasa sakit Bang," ucap Sanja.
Perlahan, ia mulai membersihkan semua luka. Sesekali Shakir meringis, ketika merasa perih.
Hingga akhirnya, Sanja melihat pergelangan kaki Shakir yang nampak memar.
Dengan kemampuannya dalam medis, Sanja bisa tahu jika kaki Shakir itu terkilir, namun tidak sampai ada patah tulang.
Sanja terus berkutat dengan pekerjaannya. Tak sadar, jika Shakir terus memperhatikan dia.
"Sanja, bisakah kamu mengobati hati yang luka?" tanya Shakir, ambigu.
Tapi Sanja, cukup mengerti maksud Shakir itu. Mereka sudah lama saling mengenal. Bahkan Sanja pun tahu jika selama ini Shakir mencintai Haura.
Kini Haura sudah menikah, dan pastilah itu meninggalkan luka di hati Shakir.
Mendengar pertanyaan itu, Sanja tak langsung menjawab. Ia lebih dulu membalut kaki Shakir dan memberinya gips.
"Abang bisa belajar dari luka ini," ucap Sanja, setelah ia selesai mengobati.
"Luka ini bisa sembuh sendiri, hanya butuh waktu untuk kembali pulih. Asalkan abang tidak memaksakan diri untuk menggunakannya berjalan," timpal Sanja, ambigu pula.
Dan dengan tersenyum, Sanja meninggalkan Shakir seorang diri di sana. Ia kembali meletakkan peralatannya di dalam lemari.
Meninggalkan Shakir, yang tersenyum kecil.