
Saat sampai di desa Parupay, saat itu waktu sudah menjelang sore. Lalu bertemu dengan para warga pun memakan waktu yang cukup lama.
Akhirnya hari itu, Adam dan Haura menunda kepergian mereka untuk masuk ke dalam hutan.
Malam ini, mereka akan menginap di rumah Haura terlebih dulu.
Rumah kayu yang begitu sederhana, bahkan lantainya pun masih beralaskan tanah.
Tadi, ibu Ririn memberikan beberapa kebutuhan untuk Haura dan Adam malam ini, beberapa bumbu dan sayur yang bisa mereka masak untuk nanti malam.
“Memangnya kamu bawa kunci rumah ini?” tanya Adam, saat ia dan istrinya itu sudah sampai persis didepan pintu rumah.
Haura tak menjawab, hanya tersenyum kecil, lalu berjongkok dan mengambil kunci rumah itu disalah satu pot bunga.
Melihat itu, Adam mengerutkan dahinya, tak menyangka jika Haura meninggalkan kunci rumah ini di sana.
“Bagaimana jika ada maling?” tanya Adam, dengan nadanya yang terdengar cemas.
“Insya Allah tidak akan ada maling Mas, lagi pula apa yang mau diambil dari rumah sederhana ini?” Haura balik bertanya, dengan senyum di bibirnya yang semakin terkembang.
Ia membuka pintu itu dan menarik tangan suaminya untuk masuk.
Haura, sengaja meninggalkan kunci rumah ini di sana, agar rumahnya tetap bisa dibersihkan oleh bude Sani saat ia pergi ke Jakarta. Bude Sani, adalah tetangga terdekatnya disini.
Adam yang mulai masuk ke sana pun mulai menelisik tiap sudut rumah ini, dinding kayu yang nampak tidak tersusun rapi, bahkan nampak jelas jika kayu-kayu itu seperti barang sisa.
Seketika hatinya terenyuh, kala menyadari Haura tinggal di rumah seperti ini selama 6 tahun lebih. Kedua anaknya pun sama, semenjak lahir hingga berusia 6 tahun, mereka tumbuh di rumah ini.
Adam lantas menahan lengan Haura yang hendak entah menuju kemana.
Langkahnya ditahan, Haura pun menoleh, menatap kedua netra sang suami yang menatapnya dengan mata sendu.
“Jangan kasihani aku,” ucap Haura, ia tahu apa yang ada dipikiran Adam, melihat kondisi rumah ini, Haura tahu jika Adam akan iba.
Haura tersenyum kecil dan mengelus tangan sang suami yang masih setia memegang lengan kirinya. Ingin mengatakan, jika ia dan anak-anak baik-baik saja, bukan perkara besar jika mereka harus tinggal di rumah ini.
Melihat senyum istrinya iyu, Adam pun ikut tersenyum pula.
“Aku tidak mengasihani mu sayang, aku mengasihani diriku sendiri,” jawab Adam sendu. Ya, Adam benar-benar merasa bersalah atas 6 tahun waktu yang dilalui Haura dan kedua anaknya tanpa ada dirinya. Memaafkan dirinya sendiri itulah yang sedang Adam usahakan saat ini.
Namun nyatanya, itu tidak mudah.
Bahkan setiap kali ia melihat sang istri dan kedua anaknya, perasaan bersalah itu kerap kali mendatanginya tiba-tiba.
Haura mendekat, mengikis jarak dan memeluk suaminya erat.
“Mas ...” ucap Haura, menggantung, ia bahkan mencium sekilas dada hangat suaminya itu.
“Aku, Azzam dan juga Azzura sangat beruntung memiliki kamu, kamu adalah ayah dan suami yang hebat untuk kami. Jadi berhenti merasa bersalah,” ucap Haura, dengan pelukan yang semakin ia buat erat.
Perlahan, Adam pun membalas pelukan itu tak kalah eratnya. Ia bahkan mengangkat tubuh sang istri, hingga kini wajah keduanya saling berhadapan.
Diperlakukan seperti itu, Haura terkekeh, memukul bahu suaminya pelan dan berpegangan di sana menggunakan kedua tangan.
“Dimana kamarnya?” tanya Adam, dengan suaranya yang yang lirih, dan Haura makin terkekeh dibuatnya.
“Mandi dulu, makan dulu, baru tidur,” jawab Haura diantara kekehannya yang belum mereda.
Akhirnya, Adam pun menuruti ucapan sang istri. Mandi dengan bak kecil dan satu gayung. Dan beratapkan langit. Bahkan ia harus menimba dulu untuk mengambil air itu.
Haura yang melihat suaminya itu mandi tak henti-hentinya tertawa, disela-selanya memasak untuk makan malam mereka.
Tumis kangkung dan tempe goreng.
“Mas, kalau sudah mandinya, bak itu ditengkurupkan,” ucap Haura, memerintah.
Sementara Adam masih sibuk melilitkan handuk di pinggangnya, rambutnya basah kuyup dengan badan yang masih dipenuhi butiran air.
“Iya sayang,” jawab Adam patuh.
Adam lalu kembali masuk ke dalam rumah dan Haura langsung menyambutnya dengan handuk di tangan, mengeringkan rambut dan tubuh suaminya itu. Tubuh yang dimatanya nampak menggoda.
“Kamu mandi di sana juga?” tanya Adam, ia setia berdiam diri, membiarkan sang istri melayaninya dengan sepenuh hati.
“Iya Mas,” jawab Haura jujur dan Adam langsung membelalakkan matanya.
“Bagaimana jika ada yang mengintip?” tanya Adam, tidak terima.
Dan Haura makin terkekeh dibuatnya.
Kamar mandi disini memang tidak menyatu dengan rumah, namun bukan berarti terbuka lebar. Kamar mandi itu pun sama, dibuatkan dinding dari kayu dengan pintu menggunakan kain. 3 kali melangkah dari pintu dapur, baru masuk ke dalam kamar mandi itu.
“Semua kamar mandi disini seperti ini Mas, dan warga disini tidak ada yang suka mengintip,” jelas Haura, namun Adam tetap tidak bisa menerima jawaban itu.
“Mandilah sekarang, aku akan mengawasi sekitar.” Ucap Adam lantang, tak ingin dibantah apa lagi ditolak.
Dengan bibir yang terus tersenyum itu, Haura pun menuruti keinginan suaminya.
Selesai ia masak dan Adam berganti baju. Haura segera mandi dengan Adam yang setia mengawasi di depan pintu kamar mandi itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam pun datang, setelah makan malam bersama, kini Adam dan Haura duduk di kursi teras rumah, melihat bintang-bintang yang bertaburan di atas sana.
Angin semilir berhembus, makin menambah dinginnya udara malam ini.
Mereka bahkan terus berpelukan, saling memberi kehangatan.
“Mas, ada sesuatu yang ingin aku kembalikan pada Mas Adam,” ucap Haura, memecah keheningan malam saat itu.
Adam tak menjawab, hanya melihat pergerakan sang istri yang sedang mengambil sesuatu di kantong baju tidurnya.
“Ini,” kata Haura lagi, seraya mengulurkan satu kancing berlian pada suaminya itu, kancing berlian dengan aksen huruf A di dalamnya, inisial nama Adam.
Melihat itu, Adam tercenung. Dulu, ia sangat yakin jika wanita di malam tahun baru itulah yang menemukan kancingnya, dan ternyata, itu benar.
“Sebenarnya, dulu aku sudah tahu, jika kamu adalah Adam Malik. Sebelum aku pergi ke Desa Parupay, di bandara aku mencari tahu tentang kancing ini. Tapi saat tahu jika ini adalah milikmu, aku semakin takut untuk menunjukkan diri. Apalagi saat itu, mas sedang menggelar acara pernikahan dengan Monica.”
Hening, setelah Haura berucap itu. Tak ada kata lagi yang terucap diantara keduanya.
Semua yang diucapkan Haura adalah benar adanya, sejak dulu, ia sudah tahu jika kancing ini adalah milik Adam Malik.
Namun kekuasaan dan kehidupan yang dijalani Adam begitu berbeda dengan yang di jalani oleh Haura. Tahu tuntutannya tidak akan pernah menang ketika berhadapan dengan Adam, Haura memutuskan untuk pergi jauh.