My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 51 - Menghilangkan Pikirannya



Luna, langsung bergerak cepat memeriksa apa yang terjadi di ballroom hotel itu. Ia bahkan dengan berani menjatuhkan sebuah patung es ukiran wajah Edgar untuk menimpa sumber kembang api itu diletuskan.


Hingga lambat laun, kembang api itu musnah tak dapat hidup kembali karena basah.


Sementara orang-orang Edgar, segera bertidak cepat untuk kembali menghidupkan lampu ballroom.


Dan saat lampu itu berhasil dihidupkan, keadaan di dalam ballroom sudah berantakan, menyisahkan isak tangis dan wajah takut dari semua orang.


Sumpah demi apapun, Edgar merasa sangat bersalah. Bahkan ia melihat, Luna yang juga terkena percikan kembang api itu, sebagian wajahnya melepuh.


"Haura, tenanglah, Ada aku disini," ucap Adam, seraya membalas pelukan Haura tak kalah eratnya, ia bahkan mengelus pucuk kepala Haura memberikan ketenangan.


"Aku ingin pulang Mas," lirih Haura didalam dekapan itu.


Shakir yang melihat dan mendengar semuanya hanya bergeming. Terpaku ditempatnya berdiri.


Tanpa izin Shakir, Adam langsung membawa Haura untuk pergi dari sana. Sementara Luna masih membantu para korban untuk mendapatkan pertolongan.


"Pulanglah, aku akan mengurus ini semua," ucap Edgar, seraya menahan tangan kanan Luna yang hendak membatu orang lain.


Luna tak menjawab apapun, hanya menganggukkan kepalanya. Lalu menunduk hormat dan pergi.


Akhirnya Luna pun keluar dari sana. Namun ia memutuskan untuk pergi ke kamar mandi terlebih dulu, membersihkan dirinya dari sisa-sisa kembang api yang mengenai tubuh.


Saat berjalan ke kamar mandi itu, tiba-tiba mulutnya dibekap oleh seseorang menggunakan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.


Luna langsung melawan, menendang orang itu meski memunggungi dirinya. Lalu dengan mudah Luna menjatuhkan lawan.


Ia sedikit terhuyung, ketika obat bius yang terlanjur terhirup itu mempengaruhinya.


Dan ternyata, musuhnya tak hanya satu. Tiga orang pria berbadan kekar langsung datang, ketika ia berhasil menjatuhkan musuhnya yang pertama.


Luna bisa melihat dengan jelas, jika mereka semua menatapnya dengan seringai.


Tak bisa menyerah begitu saja, Luna mengambil kuda-kuda. Apapun keadaannya, dia harus melawan, meski dengan sisa-sisa kesadarannya.


Dan benar saja, Luna merasa kesulitan untuk melawan ketika orang itu langsung bergerak hendak mengunci pergerakannya. Namun Luna masih dapat menghindar, tahu tak bisa melawan dalam keadaan seperti ini, Luna memilih untuk berlari, kembali ke ballroom adalah pilihannya.


Namun kesadarannya yang semakin menghilang, membuat ia susah meski untuk kabur.


Hingga saat tangannya dicekal.


Tiba-tiba ada seorang pria yang datang membantu. Lalu datang lagi pria yang lainnya.


Luna, sudah tersandar didinding setengah sadar.


"Luna! sadarlah!" ucap Darius dengan wajahnya yang cemas.


Namun dengan cepat, Luna menepis tangan Darius yang menyentuh bahunya.


"Tuan Shakir," panggil Luna lirih.


Shakir yang mendengar panggilan itupun mendekat, lalu berjongkok disebelah Darius.


"Tolong bawa saya," pinta Luna, lalu menutup kedua matanya. Meski terpejam, namun Luna masih sadar.


"Maaf Tuan, saya yang akan membawa nona Luna pergi," ucap Shakir pada Darius.


Awalnya Shakir hanya ingin menuju toilet, namun betapa terkejutnya dia saat melihat Luna yang tak berdaya diserang oleh empat orang pria.


Tanpa pikir panjang, Shakir langsung menolongnya.


Sebagai asisten pribadi yang merangkap menjadi tangan kanan Adam Malik, semua orang pun mengenal Luna, termasuk Shakir.


Tanpa peduli dengan tatapan Darius, Shakir langsung membawa Luna pergi dari sana. Ia menggendong tubuh Luna dan segera membawanya kembali ke ballroom, di sana sudah ada beberapa dokter yang datang untuk memberikan pertolongan pertama pada para korban.


Hanya korban parahlah yang dibawa ke rumah sakit.


Darius yang melihat gadis incarannya berada di dekapan pria lain hanya mampu mengepalkan tangannya kuat. Tadinya, Darius hanya akan menunggu, beberapa anak buah Monica membawa Luna ke dalam kamarnya. Namun saat anak buahnya sendiri melapor jika ada yang menolong Luna, Darius langsung merubah rencana.


Ingin menjadi pahlawan juga dimata Luna, namun nyatanya, Luna tetap tak melihat kearahnya.


"Monica bodoh!" umpat Darius dengan kekesalan yang membuncah.


Dan diujung sana, Shakir mengerutkan dahinya, saat dokter itu mengatakan jika Luna diberi obat bius. Saat ini Luna sedang tertidur, dan hanya tinggal menunggunya untuk terbangun.


Malam itu, akhirnya Shakir memutuskan untuk menunggu Luna tersadar. Mencoba menghilangkan pikirannya, atas Haura.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Salam AH dan baby AzRa 💕💕...


Terima kasih untuk semua dukunganya, satu Like dan satu Komen sangat membantu popularitas novel ini, Vote jangan lupa y🙆‍♂️🙆‍♀️