My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 100 - Tawaran Zahra



Pagi di rumah Haura.


Di dapur sana, pagi ini lebih riuh daripada biasanya.


Azzura terus berceloteh, duduk disebelah Labih yang tengah asik makan soto ayam. Subuh tadi, Ririn, Aminah dan Upik membuat soto ayam itu.


Semalam gerimis turun, dan pagi ini hawanya dingin sekali. Memakan soto ayam hangat-hangat akan sangat enak.


"Sayang, kalau makan bicaranya pelan-pelan, jangan tergesa-gesa seperti itu, nanti kalau tersedak bagaimana?" ucap Aminah dengan pertanyaan pula, mengingatkan sang cucu, Azzura, agar bicaranya lebih pelan, tidak terburu-buru seperti itu, apalagi saat ini ia tengah makan.


"Tapi nanti sore abang Labih pulang, kalau Zura ceritanya pelan-pelan, nanti tidak selesai ceritanya," keluh Azzura dengan wajah memelas, namun terlihat lucu di mata semua orang.


"Kalau begitu selesaikan dulu makannya, nanti cerita lagi yang banyak, sini abang suap." Labih buka suara, dan Azzura langsung menurut tanpa banyak berdebat.


Azzura bahkan membuka mulutnya lebar-lebar saat Labih mulai menyuapinya sarapan.


Dan selesai sarapan, mereka semua masih berkumpul di dapur sana. Para anak-anak dan para pria tetap duduk di kursi meja makan dan para wanita berkutat di dapur.


Hingga tak lama kemudian, mereka semua mendengar bell rumah itu berbunyi.


Azzam ditemani oleh Nanjan yang membuka pintu saat itu.


Mereka semua yakin, jika yang datang pastilah ibu Haura dan ayah Adam.


"Nenek Zahraa!!" pekik Azzam saat ia sudah membuka pintu. Azzam bahkan langsung berlari dan menghambur memeluk sang nenek.


Sementara Nanjan, langsung mencium punggung tangan kanan nenek Zahra.


Di halaman rumah sana, Azzam kemudian melihat tante Aida dan Om Yuda mulai menghampiri dengan membawa beberapa paper bag yang barusan mereka ambil dari bagasi.


"Tante Ai, Om Yuda," sapa Azzam pula pada om dan tantenya ini.


Aida mencubit pipi Azzam pelan, sementara Yuda mengelus pucuk kepala sang keponakan dengan sayang.


Namun Allah masih belum merestui.


Selesai sapa singkat didepan sana, mereka semua mulai masuk ke dalam rumah. Azzam langsung membawa sang nenek menuju dapur dan menemui semua orang.


Zahra dan kedua anaknya, disambut dengan begitu hangat. Mereka tidak pindah ke ruang keluarga, melainkan tetap berkumpul di meja makan sana.


Bahkan Aida pun membuatkan sang suami soto ayam pula. Semangkuk yang mereka makan berdua.


"Labih dan Nanjan, bagaimana Nak, apa kamu mau tetap tinggal di Jakarta dan melanjutkan sekolah kalian?" tawar Zahra, setelah ia bercerita panjang kali lebar.


Zahra ingin, Labih dan Nanjan kembali melanjutkan pendidikan mereka. Ke jenjang universitas.


Ditawari seperti itu, tentu Labih dan Nanjan sangat bahagia. Namun mereka tetap tidak bisa langsung menerimanya begitu saja. Mereka tetap membutuhkan restu kedua orang tuanya.


Ammar dan Ririn yang mendengar tawaran Zahra pun ikut terkejut, bahkan Zahra mengatakan jika ia yang akan bertanggung jawab penuh pada pendidikan kedua anak itu.


"Bagaimana Pak Ammar? ibu Ririn? sebenarnya, ini semua adalah keinginan pengantin baru, tapi karena mereka sedang sibuk maka saya yang mewakilkan," ucap Zahra lagi, dengan bibir yang tersenyum.


Senyum yang menular pada semua orang, terkecuali kedua anak kecil Azzam dan Azzura yang tidak tahu apa-apa, tentang kesibukan pengantin baru itu.


Ammar dan Ririn pun mengucapkan banyak terima kasih kepada Zahra dan semua keluarganya. Namun ia menyerahkan semua keputusan itu kepada sang anak.


Jika Labih dan Nanjan bersedia, maka mereka akan merestuinya.


"Ayo Bang, Abang Labih dan Abang Nanjan tinggal disini saja, sekolah disini, bareng-bareng sama Zura dan abang Azzam," rengek Azzura pula, menginginkan Labih dan Nanjan tetap tinggal dan tak jadi pulang.


Azzura dan Azzam begitu antusias, membayangkan mereka akan menghabiskan waktu yang lebih banyak bersama dua abangnya itu.


Dan disaat semua orang menatap Labih dan Nanjan, kedua remaja ini kompak menganggukkan kepalanya pelan.


"Alhamdulilah," ucap Zahra, lega yang didengar oleh semua orang.