
Monica, berjalan lunglai menyusuri trotoar jalanan. Isi kepalanya berkecamuk memikirkan banyak hal.
Kenapa ini semua bisa terjadi?
Kenapa aku harus mengalami ini?
Dan banyak kenapa kenapa lainnya lagi yang menghantui pikirannya.
Sampai di satu titik, ia merasa apa yang telah dialaminya kini, juga dialami Haura dulu saat harus terusir jauh.
Lagi, Monica menangis.
"Apa ini karma?" gumamnya pelan, diantara isak tangis yang terdengar begitu pilu.
Para pejalan kaki lainnya pun sampai dibuatnya merasa iba, terlebih kala melihat Monica yang nampak seperti orang yang begitu berputus asa.
Monica, akhirnya berhenti di salah satu halte bus. Ia tak membawa apa-apa, hanya tas tangannya yang setia mendampingi.
Berulang kali Bus datang, namun Monica tetap bergeming duduk di sana. Ia terus berpikir, bagaimana baiknya. Uang 10 juta, tidak akan cukup ia gunakan untuk hidup di Jakarta.
Terlebih di kota ini, ia sudah tak punya nama. Bahkan keluarganya pun mencampakkan dirinya.
Surabaya, adalah satu-satunya kota yang terbayang olehnya. Kota dimana asal usul kedua orang tua.
Dulu, saat kecil Monica sering sekali diajak berziarah ke makan kakek dan neneknya ke kota itu. Dan kini, Monica berniat untuk tinggal dan menetap di sana.
Sampai ia mampu, untuk kembali lagi ke kota Jakarta.
Bus kembali datang, saat matahari sudah begitu terik. Bahkan Monica sampai harus menutupi wajahnya, agar silau itu tak mengusik penglihatan.
Sebelum benar-benar pergi ke Surabaya, Monica berniat untuk menemui Haura.
Setidaknya, ia ingin menjelaskan sesuatu pada wanita itu. Menjelaskan, bahwa iapun menderita menjalani ini semua.
Adam, tidak pernah memberinya cinta selama 5 tahun pernikahan. Dan kini, ketika berpisah pun Adan tidak memberinya apapun.
Turun dari Bus, Monica kembali berjalan kaki, menuju rumah Haura. Rumah yang sudah sejak lama ia tahu.
Namun langkah Monica kembali mundur, ia bahkan memalingkan wajahnya dengan cepat saat melihat mobil sang mantan suami masuk ke dalam halaman rumah itu.
Adam datang.
Dan saat mobil itu terhenti, dilihatnya Haura turun, lengkap pula dengan kedua anaknya, Azzam dan Azzura
Seketika Monica merasa sesak, hatinya sakit seperti ditikam ribuan jarum secara bersamaan. Disaat ia hancur lebur seperti ini. Adam malah terus memanjakan wanita itu.
Monica tidak menangis, air matanya sudah habis. Yang bisa ia lakukan hanya satu, mengepalkan tangannya kuat.
Terus melihat kearah Haura dan Adam.
"Aku pergi," pamit Adam, sesaat setelah ikut turun pula bersama Haura.
Mereka telah usai melakukan pengukuran baju di mansion Zahra. Lalu kembali pulang saat siang hari, sekaligus menjemput Azzam dan Azzura. Kini kedua anaknya sudah masuk ke dalam rumah lebih dulu.
Menyisahkan kedua orang tuanya yang masih berada di halaman.
"Iya Mas, besok kan ketemu lagi," jawab Haura, diantara senyum malu-malunya.
Kenapa tiap kali perpisahan seperti ini, seolah mereka akan tidak bertemu lama sekali. Padahal setiap pagi Adam akan datang untuk menjemput anak-anaknya, dan bisa dipastikan mereka akan kembali bertemu.
Adam tak langsung menjawab, ia tersenyum tipis. Tidak tahukah Haura, jika aku tidak ingin berpisah dengannya. Batin Adam, seraya menatap lekat kedua netra sang calon istri.
"Syarat apa?" tanya Haura langsung.
"Besok siang berkunjunglah ke rumahku, aku akan menjemputmu sebelum menjemput anak-anak," timpal Adam lagi, dengan senyum yang lebih pasti. Tidak ditahan-tahan.
Mendengar itu Haura hanya mengangguk, ia pun belum pernah berkunjung ke rumah Adam. Padahal jarak rumah diantara mereka terbilang begitu dekat.
"Baiklah," jawab Haura kemudian, hingga membuat senyum Adam makin melebar.
Adam, mengelus pucuk kelapa Haura sejenak, lalu segera berlalu dari sana. Sementara Haura masih terus terdiam ditempatnya berdiri. Tersenyum, menyaksikan mobil Adam pergi, menjauh hingga lama-lama menghilang.
Namun seketika senyum Haura menyurut. Saat dilihatnya ada seorang wanita yang datang mendekat ke arahnya.
Meskipun tidak pernah bertemu, Haura tahu betul siapa wanita itu, Monica.
Adam, pernah memberi tahunya sosok Monica, bahkan Adam juga berpesan padanya untuk hati-hati pada wanita ini.
"Haura," ucap Monica setelah ia berdiri tepat dihadapan Haura.
Ini, adalah pertemuan pertama diantara keduanya setelah sekian tahun terjerat dalam takdir.
Haura tak menjawab apapun, hanya terus membalas tatapan Monica. Dilihatnya Monica tersenyum tipis ke arahnya.
"Selamat, kamu berhasil mendapatkan semuanya," timpal Monica lagi, dengan senyumnya yang getir.
"Apa maksudmu?" balas Haura, dengan suaranya yang dingin.
Sama seperti suara Adam saat berbicara dengan Monica.
"Kamu berhasil mendapatkan mas Adam dan juga semua hartanya," jawab Monica, masih dengan tatapannya yang entah.
"Sejak awal, mas Adam memang milikku, tapi kamu dengan liciknya memisahkan kami berdua," sanggah Haura tak kalah sengit, hingga membuat kedua netra Monica semakin membola.
Ia tak menyangka jika Haura berani menatapnya tajam seperti ini. Tak menyangka, bahkan Haura menjawab dengan begitu lantang.
Monica pikir, Haura adalah gadis yang lemah.
"Berhentilah menyalahkan orang lain. Karena yang harus disalahkan itu adalah kamu," timpal Haura lagi, sebenarnya ia begitu tak tega kala melihat Monica yang nampak putus asa.
Belum lagi saat melihat wajahnya yang nampak begitu sembab, mengisyaratkan jika Monica sudah menangis dalam kurun waktu yang cukup lama.
Namun Haura tak ingin lengah, bagaimanapun Monica adalah orang yang sudah mempermainkan hidupnya, juga hidup kedua anaknya.
Terus dicerca oleh Haura, Monica hanya bergeming. Bahkan dengan mudah, Haura bisa menyudutkannya.
"Baiklah, aku akan pergi dan mengikhlaskan mas Adam untukmu." Monica kembali berucap, dengan matanya yang mulai berembun.
"Tapi ingatlah satu hal, kamu tidak akan bisa menjadi istri mas Adam yang sesungguhnya, jika masih ada Luna disisi mas Adam," timpal Monica lagi.
"Tidak perlu memberiku saran apapun, apalagi sampai membawa-bawa Luna, pikirkanlah sendiri bagaimana hidupmu kelak. Kamu akan terus menyalahkan orang lain, atau kamu memperbaiki diri," jawab Haura, dengan suaranya yang begitu dingin.
Bahkan setelah mengatakan itu Haura berbalik, meninggalkan Monica dan segera masuk ke dalam rumahnya.
Melihat pintu rumah itu tertutup, Monica langsung tersungkur, ambruk diatas rerumputan halaman rumah Haura.
Kakinya lemas tak kuat lagi untuk berdiri dan air matanya kembali jatuh tanpa permisi.
Monica tersenyum, senyum yang terasa begitu getir.