My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 120 - Sebuah Ancaman



“Abang, itu amang Shakir,” ucap Azzura, sesaat setelah mobil mereka masuk ke halaman rumah.


Seketika itu juga semua pasang mata melihat kearah seorang pria yang baru saja turun dari dalam mobilnya.


Terlihat dengan jelas, jika Shakir turun dari dalam mobil itu.


Sejenak, Luna yang sedang mengemudi mobil pun mengerutkan dahinya. Bertanya-tanya ada perlu apa Shakir datang kesini. Luna tidak ingin, kedatangan pria dari negeri Jiran itu malah merusak kedamaian di rumah sang tuan.


Mobil Luna lalu berhenti tepat disebelah mobil Shakir, seketika Shakir pun menghentikan langkahnya, melihat siapa yang datang.


Azzura dan Azzam langsung turun dari dalam mobil dan berlari menemui amangnya itu.


“Amang!” teriak Azzam dan Azzura, seraya berlari dengan merentangkan kedua tangan.


Dengan tersenyum lebar, Shakir pun berjongkok dan menyambut dengan pelukan hangat kedua anak kecil ini.


“Amang datang,” ucap Azzura dan Shakir pun menganggukkan kepalanya. Sesaat, Shakir mengelus pucuk kepala Azzam dan Azzura dengan sayang.


Hingga Aminah ikut bergabung bersama mereka dan Shakir pun memberi salam hormat, mencium punggung tangan kanan nenek Aminah.


“Ayo masuk,” ajak Aminah dan lagi-lagi Shakir mengangguk.


“Tunggu!” sanggah Luna dengan cepat.


“Nenek, Tuan Muda dan Nona Muda, bolehkan saya bicara dengan tuan Shakir sebentar?” pinta Luna, pada semua majikannya.


Mendengar itu, semua orang langsung menatap Luna lekat, terlebih Shakir yang merasa bingung. Merasa tak memiliki urusan apapun pada wanita berseragam hitam ini,. Namun tiba-tiba, Luna mengajaknya untuk bicara.


“baiklah, nenek tunggu didalam ya,” jawab Aminah akhirnya dan Luna pun menganggukkan kepalanya, seraya tersenyum ramah pada sang nenek.


Sementara Shakir, hanya bergeming. Terpaksa menuruti keinginan Luna itu.


“Ada apa?” tanya Shakir langsung, saat nenek Aminah, Azzam dan Azzura mulai jauh dari mereka. Sementara keduanya masih berada di teras rumah.


“Ada perlu apa anda kesini?” Luna balik bertanya, dengan suaranya yang terdengar dingin dan tatapannya yang tajam.


Melihat sikap tak biasa dari Luna, Shakir pun tersenyum kecil. Sangat kecil, hingga Luna pun tak menyadari senyum itu.


Menyadari itu, Shakir malah merasa lucu.


“Aku tidak punya urusan denganmu, jadi aku tidak perlu menjelaskan apapun padamu,” jawab Shakir, ia pun membalas ucapan Luna tak kalah dinginnya.


“Saya hanya akan memperingatkan anda satu kali, jangan pernah ganggu Nyonya Haura lagi. Beliau sudah hidup bahagia bersama tuan Adam.” Jelas Luna, memang inilah yang ingin ia sampaikan pada Shakir.


Luna tahu, betapa Shakir sangat mencintai Haura. Luna tak ingin, Shakir menjadi seperti Monica yang menghalalkan segala cara untuk meraih cintanya.


Sebelum terlambat, Luna memilih lebih dulu memperingati.


Dan mendengar ucapan Luna itu, Shakir mengulum senyumnya. Merasa lucu ketika tahu tebakkannya ternyata benar.


“Aku tidak akan mengganggu Haura, aku tahu dia sudah bahagia,” ucap Shakir, santai.


Beberapa hari lalu ia sudah bersusah payah untuk ikhlas, dan kini perasaannya pun lebih lega. Mengetahui Haura sudah bahagia, ia pun ikut bahagia pula.


“Lebih baik jangan cemaskan Nyonyamu itu, tapi


cemaskan saja dirimu sendiri." Shakir, memberikan sebuah ancaman.


Mendengar ucapan itu, Luna mengerutkan dahinya, tidak paham apa maksud ucapan Shakir.


“Apa maksud anda?” tanya Luna pula, masih dengan tatapannya yang tak ramah.


“Karena mulai saat ini, aku akan mengganggumu,” balas Shakir, ia lalu terkekeh dan berlalu meninggalkan Luna begitu saja.


Segera menuju pintu utama rumah ini.


Sementara Luna yang mendengar ucapan Shakir itu hanya mampu mengeram kesal, Luna tahu, Shakir telah mempermainkan dirinya.


“Sabar Luna, sabar, kendalikan tangan dan kakimu, jangan sampai mereka membanting pria Jiran itu.” Gumam Luna, seraya menggerutu.


Lalu melangkahkan kakinya menyusul Shakir, masuk ke dalam rumah sang tuan.