
Setelah panggilannya dengan sang anak terputus, Adam meminta Haura untuk segera beristirahat, sementara ia masih sibuk dengan tablet kecil ditangannya.
Haura memang berbaring, namun ia tidak menutup matanya. Kedua mata itu malah sibuk memperhatikan Adam yang begitu fokus menatap layar tablet itu.
Jika dilihat seperti ini, Adam nampak lebih berwibawa, dengan aura kepemimpinannya yang kental terasa.
"Kenapa kamu tidak tidur?" tanya Adam, sedari tadi ia sudah merasa jika Haura terus melihat kearahnya, dan saat ia menoleh ternyata benar, Haura sedang menatapnya lekat.
"Apa kamu takut padaku?" tanya Adam lagi. Melihat Haura yang masih terjaga, Adam berpikir jika mungkin sana Haura masih menyimpan rasa takut pada dirinya, takut jika saat ia terlelap nanti, Adam akan kembali menerkamnya tanpa ampun.
Tak langsung menjawab, Haura hanya menggelengkan kepalanya pelan. Bukannya ia takut, hanya saja memang belum mengantuk.
"Lalu kenapa belum tidur?"
"Apa Mas merasa terganggu?" tanya Haura pula dan Adam pun langsung menggeleng.
"Bukan terganggu, aku hanya ingin kamu segera tidur, beristirahat."
"Tapi aku belum mengantuk," jelas Haura apa adanya.
Mendengar itu, Adam kembali menggeser kursinya hingga ia duduk disisi Haura.
Ikut memperlihatkan, isi tablet yang sedari tadi ia lihat.
"Lihatlah angka-angka ini, pasti kamu akan mengantuk," jelas Adam, ia sedikit tersenyum kala memperlihatkan laporan hasil produksi yang dikirimkan oleh Luna kepadanya.
Dan melihat itu, Haura mengeryit bingung, bahkan untuk membacanya pun ia tak tahu bagaimana caranya. Tabel yang dipenuhi angka-angka.
"Baiklah, aku akan tidur," ucap Haura kemudian, lalu menarik selimutnya tinggi hingga sampai dileher.
Adam terkekeh, lalu mengelus pucuk kepala Haura dengan sayang.
"Tidurlah," titah Adam.
Haura menutup matanya, meski belum benar-benar terlelap.
"Terima kasih Mas," ucap Haura dengan mata yang tertutup itu.
"Terima kasih untuk apa?"
"Terima kasih, karena kamu sudah membantu desa Parupay untuk lebih maju. Kemarin ibu Ririn menelpon, beliau bercerita jika saat ini desa kecil itu sudah nampak seperti kota," jelas Haura, ia tersenyum kecil ketika membayangkan betapa antusiasnya Ririn kala bercerita waktu itu.
"Bukan hanya aku, tapi semua warga desa juga mengucapkan banyak terima kasih," timpal Haura lagi, namun ia masih setia menutup mata.
Dan Adam hanya menatap wajah itu dengan tatapan yang dalam. Wajah yang selalu membuat hatinya merasa damai dan tenang.
Wajah yang selalu mengingatkannya, bahwa kini ia memiliki dua malaikat kecil, Azzam dan Azzura.
"Bahkan, ada juga turis yang mengunjungi desa kami, mereka kesana untuk melihat perkebunan dan juga masuk ke dalam hutan," jelas Haura lagi, ia terus berbicara, sementara Adam terus menatapnya lekat.
"Apa kamu bahagia?" tanya Adam akhirnya, setelah cukup lama terdiam.
"Tentu saja, aku sangat bahagia," balas Haura, dengan kesadarannya yang mulai menghilang.
Hingga lambat laun, Adam dapat mendengar, napas Haura yang mulai teratur. Menandakan jika wanita ini sudah terlelap dan tidur.
Adam, tersenyum tipis. Tangannya bergerak untuk membelai wajah Haura dengan sayang.
Seolah sedang melukis wajah ayu wanita ini. Dari dahi turun hingga sampai di kedua mata itu. Mata dengan alis yang tebal dan bulu matanya yang lentik alami. Lalu menyentuh hidung Haura dan turun hingga ke bibir.
Bibir ranum, yang acap kali ingin ia sesap rasanya.
Meskipun kenangan malam tahun baru enam tahun silam begitu buruk, namun disudut hati Adam. Itu juga adalah kenangan yang indah.
Adam mengelus bibir Haura, lalu memberanikan diri untuk mengecupnya sekilas, seperti seorang pencuri.
"Selamat malam, tidur dan bermimpilah yang indah," gumam Adam pelan, lalu kembali mengambil jarak Aman.
Mengembalikan debaran hatinya agar kembali normal.
Adam melihat jam dipergelangan tangannya, saat itu menunjukkan waktu jam setengah sepuluh malam.
Entah kenapa, malam ini ia tak mengantuk sama sekali. Otaknya malah terus berpikir, bagaimana caranya agar ia bisa segera hidup bersama dengan Haura dan kedua anaknya.
Memikirkan itu, Adam akhirnya berniat untuk menemui Monica malam ini juga. Karena Monica adalah hambatan terbesarnya.
Tak ingin menunda lagi, Adam segera bangkit dan keluar dari ruang rawat Haura. Di depan ruangan itu, sudah ada empat bodyguard yang menjaga.
Adam berpesan, bahwa ia akan pergi sejenak, maka awasilah Haura dengan baik, jangan mengganggu apalagi sampai membuatnya terbangun.
Empat pengawal yang semuanya wanita itu lalu mengangguk dan menunduk hormat.
Dalam perjalanannya turun menuju basement rumah sakit, Adam menghubungi Luna.
Tak butuh waktu lama, Luna langsung menjawab panggilan itu. Untuk Adam, Luna selalu siap 24 jam.
"Kirimkan semua bukti kejahatan Monica, aku akan menemuinya malam ini dan membuat perhitungan," jelas Adam langsung ketika Luna baru saja mengangkat panggilan itu.
"Baik Tuan," jawab Luna singkat padat dan jelas.
Dan tanpa babibu lagi, panggilan itu terputus. Luna hanya butuh waktu satu menit, untuk mengirimkan semua yang dibutuhkan oleh sang tuan.
File yang tersusun rapi, tentang semua kejahatan Monica. Sekali Klik, bukti itu akan langsung terlihat dengan jelas.
Bahkan Luna pun mengirimkan alamat tampat tinggal Monica yang baru. Saat ini Monica memang tinggal sendiri, ia tak tinggal bersama kedua orang tuanya, meski kala itu Adam mengantar Monica ke rumah Aufar dan Marina, rumah keluarga Sarman.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Adam sampai juga didepan gerbang rumah Monica. Rumah bernuansa putih dengan pagar besi yang menjulang tinggi.
Tak ingin masuk, masih berada didalam mobilnya Adam langsung menghubungi Monica, wanita yang hingga kini masih berstatus istrinya.
Melihat ada panggilan masuk dari Adam, tubuh Monica langsung gemetar. Ia tahu jika ini bukanlah sesuatu hal yang baik, terlebih siang tadi ia sudah berniat mencelakai Haura.
"Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan," gumam Monica, yang merasa begitu cemas dan takut.
Terlebih kini, tak ada lagi tempatnya untuk berlindung.
"Aku tidak sudi meminta bantuan Darius lagi, tapi aku harus bagaimana?" Monica makin gelisah, kala panggilan Adam terus berdering dengan nyaring.
Hingga akhirnya ia tak punya pilihan apapun, dengan terpaksa, Monica mengangkat panggilan itu.
"Keluarlah," titah Adam dengan suaranya yang dingin. Bahkan Adam langsung memutuskan panggilan itu, tanpa menunggu Monica untuk menjawab.
Monica langsung berlari menuju jendela kaca kamarnya, membuka tirai dan melihat sebuah mobil terparkir didepan gerbang rumahnya, mobil dengan lampunya yang menyala terang.
Tersungkur, Monica jatuh diatas lantai. Ia bahkan sampai tak bisa menebak, apa yang akan Adam lakukan pada dirinya.
Tapi Monica tak punya pilihan lain selain menuruti perintah Adam untuk turun. Satu yang Monica tahu tentang suaminya itu, turutilah perintah Adam sebelum ia marah, karena saat seorang Adam Malik menunjukkan amarahnya, ia akan langsung berubah menjadi seorang iblis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jadwal Up terbaru, subuh insya allah ada terus, dan double upnya sebelum zuhur. Lewat dari itu dahlah, jangan diharap double up 🤣🤣🤣 💪
Salam AH 💕