My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 124 - Prince And Princess AIG School



AIG School.


Sampai didepan gerbang sekolah, Adam ikut turun bersama kedua anaknya.


Mereka bertiga terus tersenyum, senyum yang sangat mirip, bak pinang dibelah 3.


"Ayah sangat menyayangi kalian," ucap Adam, sesaat setelah kedua anaknya salim, mencium punggung tangan kanannya sebagai ucapan pamit. Sementara Adam, mengelus pucuk kepala kedua anaknya dengan sayang.


"Kami juga sangat menyayangi ayah," Azzam yang menjawab, dan Azzura mengangguk dengan antusias.


Setelah pamit, Azzam dan Azzura hendak masuk ke dalam sekolah, namun langkah keduanya terhenti saat sebuah suara melengking memanggil.


"Zura! Azzam!" teriak Arrabela dari sebelah sana, ia juga baru saja turun dari dalam mobil ayahnya. Agra pun mengantar sang putri.


Jarak jauh itu, Adam dan Agra saling menundukkan kepalanya sedikit, memberi hormat satu sama lain.


Sementara ketiga anak kecil ini sudah saling berlari dan bertemu tepat didepan gerbang sekolah.


Setelah melambai pada ayahnya masing-masing , Azzam, Azzura dan Arrabela akhirnya benar-benar masuk ke dalam sekolah sana.


Sedangkan Adam dan Agra segera menuju ke Malik Kingdom.


Masuk ke dalam sekolah, dan mereka bertiga langsung bertemu dengan Arnold dan Julian.


Mereka sejenak saling memeluk erat. Selama beberapa hari liburan, mereka tidak pernah bertemu.


Arra berkunjung ke rumah nenek dari sang ibu di Medan. Sementara Arnold dan Julian berlibur keluar negeri bersama orang tuanya masing-masing.


Mereka tidak bertemu, dan hanya sesekali saling bertukar kabar melalui grup whatsapp.


Grup yang dulunya dibuat oleh Arrabela, bernama Prince and Princess AIG School.


"Arra, mana ponselmu?" pinta Azzam langsung pada sang sepupu. Lengkap dengan wajah tak ramahnya.


Ditanya dan ditatap seperti itu, Arrabela jadi bingung sendiri. Sedikit takut, iapun memeluk lengan Azzura erat.


"Abang! jangan tatap Arra dengan tatapan seperti itu, kenapa meminta ponsel Arra?" Azzura yang bertanya.


Arnold dan Julian pun melihat kearah Azzam, ingin tahu juga apa jawabannya.


Mereka semua terus berjalan menuju kelas.


"Aku mau hapus foto-foto mu Zura, aku yakin selama ini Arra pasti diam-diam memfotomu lalu menguploadnya di media sosial, iya kan?" jawab Azzam seraya kembali menatap tajam sang sepupu.


Yang ditatap tajam hanya tersenyum kikuk, karena memang begitulah adanya.


Julian dan Arnold seketika mengulum senyumnya, akhirnya Arra ketahuan, batin keduanya kompak.


Azzam dan Azzura memang tidak bermain sosial media, lain dengan Arnold, Julian dan Arrabela yang sangat aktif di sosmed.


Saat itu juga, kedua netra Arrabela membola, ia bahkan langsung mendelik menatap Julian. Meminta Julian untuk menutup mulutnya melalui tatapan itu.


"Fotoku?" Azzam, balik bertanya. Dilihatnya Julian dan Arnold mengangguk.


Lalu Azzam pun kembali menatap Arrabela, meminta penjelasan.


"Iya, iyaa, aku bukan hanya mengambil foto Zura, tapi juga fotomu," jujur Arrabela lirih, lalu segera berlari menjauh saat melihat asap hitam mulai keluar dari pucuk kepala Azzam.


"Arra!!!" teriak Azzam geram.


"Jangan kabur!!" teriaknya lagi, lalu segera berlari dan menangkap si pembuat onar.


"Jangan kejar aku!" pinta Arrabela, dengan wajah ketakutan ia terus berlari, menghindari Azzam. Bisa gawat jika tertangkap, pipinya pasti akan dicubiti Azzam hingga kemerahan.


Azzura, Arnold dan Julian tertawa terbahak ketika melihat kedua bocah itu berlarian, lari secara ziqzaq.


"Aduh! perutku sakit," keluh Azzura, ia sedikit membungkuk dan memegangi perutnya sendiri yang terasa kram karena tertawa keras. Bahkan hingga kini ia masih saja terkekeh.


"Berhentilah tertawa." Arnold, membantu Azzura untuk kembali berdiri tegak.


"Mereka lucu," timpal Azzura lagi, dengan susah payah ia menghentikan tawanya.


"Kamu tidak marah Arra mengambil fotomu diam-diam?" kini, Julian yang buka suara dan dilihatnya Zura yang menggeleng.


"Tidak, kemarin aku hanya sedikit terkejut, saat aku dan abang pergi ke pusat perbelanjaan, banyak orang-orang yang mengenali kami. Kata om Yuda, kami punya fans di sosmed. Dari situlah abang tahu, kalau itu pasti ulahnya Arra, ternyata benar," jawab Zura, panjang kali lebar.


"Lain kali, jika tidak ingin dikenali banyak orang gunakanlah masker dan topi untuk menutupi wajahmu," saran Julian dan Azzura menganggukkan kepalanya dengan patuh.


Seperti seekor kucing lucu yang menurut kepada tuannya.


Gemas, Julian dan Arnold pun kompak mengusap pucuk kepala Azzura, mengacak-acak rambutnya.


"Hih! Arnold! Julian!" kesal Azzura.


Sebelum diamuk, Arnold dan Julian segera berlari lebih dulu.


Dan secepat kilat, Azzura pun coba mengejar keduanya. Namun tetap saja, ia kalah.


"Awas kalian!" pekik Azzura, dengan napas terengah.


Dan diujung sana, Arnold dan Julian tertawa terbahak, seraya menjulurkan lidahnya.


Wleck!


"Hih!" kesal, Azzura.