
Kedua netra Haura membola, saat perlahan ia mulai memasuki area ballroom.
Pernikahan yang kata ibu Zahra akan digelar secara sederhana, nyatanya masih terlihat begitu mewah di mata Haura.
Bagaimana tidak, bunga mawar bertebaran di setiap sudut, bahkan hingga menjadi atap bagi mereka.
Semua tamu undangan sudah duduk rapi di kursinya masing-masing, kiri dan kanan. Menyaksikan sepasang pengantin dan keluarga mempelai menuju meja ijab kabul didepan sana.
Belum apa-apa, baik Adam maupun Haura merasakan kegugupan yang luar biasa. Bahkan kedua tangan Haura, sudah mulai mengeluarkan keringat dingin.
Hingga akhirnya, Adam dan Haura mulai duduk di kursi meja ijab kabul dan para keluarga duduk persis dibelakang mempelai.
Suara pembawa acara mulai terdengar, melanjutkan acara ini. Acara inti yang sudah ditunggu-tunggu oleh semua orang.
Awalnya, pak penghulu memberi bimbingan sejenak kepada Adam, untuk mengucapkan kalimat ijab kabul dengan benar, jelas dan sekali tarikan napas.
Dan saat Adam sudah siap, barulah akad itu di mulai.
"Saudara Adam Malik Bin almarhum Abraham Malik saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Haura Almayra binti Almarhum Muhammad Ishaq dengan mas kawin emas 500 gram, tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Haura Almayra binti almarhum Muhammad Ishaq dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!
"Sah?"
SAH!!!
Alhamdulilah!
Semua orang mengucap syukur, ijab kabul yang diucapkan oleh Adam berjalan dengan baik.
Dan saat ini, Haura sudah sah menjadi istri seorang Adam Malik, Sah secara Agama dan juga negara. Begitu juga sebaliknya, saat ini Adam sudah Sah menjadi suami seorang Haura.
Setetes air bening jatuh dari mata Haura dengan perlahan, air mata itu adalah air mata kebahagiaan.
Dan ternyata tak hanya Haura yang meneteskan air mata. Aminah, Zahra bahkan Ririn dan Aida pun meneteskan air matanya.
Pernikahan ini, seperti simbol akhirnya penderitaan Haura dan Adam selama ini. Kini mereka berdua dapat hidup bersama dengan penuh kebahagiaan.
Selesai ijab kabul itu, Haura diminta untuk mencium punggung tangan kanan suaminya, takzim. Dan Adam pun mencium kening Haura dengan begitu dalam.
"Jangan menangis," desis Adam, ia pun menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi Haura.
Lalu tersenyum hingga membuat Haura tersenyum pula.
Serangkaian acara pun mulai bergulir satu per satu. Setelah acara sungkeman yang mengharu biru, kini tinggallah para tamu undangan yang mulai memberikan selamat pada sepasang pengantin didepan sana.
Namun sebelum itu dimulai, ternyata pembawa acara mengatakan untuk memberi waktu kepada pengantin untuk istirahat sejenak.
Dan menunggu itu, para tamu undangan sudah dipersilahkan untuk menikmati berbagai jenis macam hidangan.
Sedari tadi, Haura terus menangis haru, hingga suaranya nyaris serak.
"Sebenarnya kamu sedih atau bahagia menikah denganku, kenapa menangis terus?" tanya Adam, yang lagi-lagi menghapus air mata istrinya itu.
"Aku bahagia Mas, sangat. Apa di matamu ini terlihat seperti air mata kesedihan?" jawab Haura dengan balas bertanya, ia bahkan menggenggam tangan Adam yang berada di pipinya, lalu menatap dalam mata suaminya itu.
Sejenak, tatapan mereka terkunci, seolah sedang menyelami hati pasangannya melalui mata itu.
Cukup lama meraka saling hanyut, hingga dengan perlahan Adam mulai mengikis jarak. Membuat gerakan seolah ia hendak membisikkan sesuatu pada sang istri.
Namun sebenarnya, Adam mengecup sekilas pipi Haura.
Membuat Haura tersenyum, lalu menggigit bibir bawahnya.
Shakir yang melihat itu hanya mampu terdiam, tercenung di tempatnya duduk. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi, karena nyatanya sesak itu masih begitu kental terasa.
Yang bisa Shakir lakukan kini hanyalah satu, Ikhlas. Lalu mendoakan untuk kebahagiaan Haura, Azzam dan juga Azzura.
Tak sanggup berlama-lama di sana, akhirnya Shakir memilih pergi lebih dulu. Setidaknya ia sudah menyaksikan secara langsung pernikahan Haura dan Adam.
Namun langkah Shakir terhenti saat Azzam dan Azzura memanggilnya dengan kompak. Memanggil dengan antusias seperti yang mereka lakukan selama ini.
Azzam dan Azzura baru saja dari toilet dan ditemani oleh Luna.
"Amang!" pekik Azzura lalu memeluk Amangnya erat, lalu disusul pula dengan Azzam yang memeluk amang Shakir erat.
"Amang mau kemana?" tanya Azzura langsung, karena saat ini mereka berada di ambang pintu ballroom, nampak jelas jika Shakir akan segera pergi dari sana.
"Amang harus segera kembali ke Malaysia sayang, karena itulah Amang harus pergi."
"Apa Amang sudah bertemu dengan ibu?" kini Azzam yang bertanya, namun Shakir kesulitan untuk menjawab.
Hingga membuat Luna turun tangan.
"Tuan muda, Amang Shakir sedang buru-buru, ia bisa memberi ucapan selamat kepada ibu melalui telepon nanti," ucap Luna lembut, ia bahkan ikut berjongkok, mensejajarkan diri dengan Azzam, Azzura dan juga Shakir.
Mendengar penjelasan Luna, Azzam dan Azzura menganggukkan kepalanya, kompak.
Lalu Shakir kembali memeluk kedua anak ini sebagai salam perpisahan, lalu meminta Azzam dan Azzura untuk kembali duduk di kursinya.
Dan saat Luna hendak pergi juga, Shakir dengan cepat memanggilnya.
Hingga membuat Luna berhenti dan kembali menoleh kepada Shakir.
"Terima kasih," ucap Shakir dan Luna hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan juga senyuman tulus.
Dan setelah itu, Shakir benar-benar pergi dari sana.
Membiarkan sang wanita pujaan hidup dengan bahagia bersama pria pilihannya, Adam Malik.