My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 103 - Keluarga Yang Utuh



Malam ini, Adam dan Haura tidur bersama dengan kedua anaknya.


Tidur di kamar Haura dengan ranjangnya yang tidak terlalu besar, hingga mereka saling menempel erat. Makin menciptakan suasana hangat.


Azzura dan Azzam tidur ditengah, dengan sang ibu disebelah Azzam dan sang ayah disebelah Azzura.


Azzura dan Azzam terus saja tersenyum, meski kedua orang tuanya sudah meminta mereka untuk tidur.


"Lihat ibu Haura, Azzam dan Azzura matanya terpejam, tapi bibirnya tersenyum terus," sindir sang ayah, hingga membuat Azzam dan azzura kembali terkekeh, seraya membuka matanya lebar-lebar.


"Abang belum ngantuk?" tanya Haura pada anak sulungnya ini, ia bahkan mengelus kepala Azzam dengan sayang ketika tawa anaknya sudah mereda.


"Abang belum mau tidur Bu."


"Kenapa?"


"Karena abang tidak ingin malam ini berjalan dengan cepat, malam ini adalah pertama kali kita tidur sama-sama. Ayah, ibu, abang dan juga ading," jawab Azzam apa adanya, memang itulah yang ia rasa. Dan ternyata, Azzura pun merasakan hal yang sama seperti kakaknya itu.


Ia enggan untuk terlelap dan membiarkan malam ini berjalan dengan cepat.


Disaat keluarganya kini telah utuh.


Mendengar itu, ada perasaan bersalah yang tiba-tiba datang di hati Adam dan Haura. Merasa bersalah, karena mereka membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuat keluarga ini bersatu.


Adam lalu merentangkan kedua tangannya lebar, bahkan satu tangannya sampai bisa memeluk Haura.


"Mulai malam ini, kita akan selau tidur bersama sayang, ayah dan ibu tidak akan berpisah lagi. Terus bersama kalian untuk selamanya," ucap Adam, lembut. Ia bahkan menciumi kedua anaknya secara bergantian.


Azzura bahkan langsung memeluk erat ayahnya, juga Azzam yang mengikuti sang adik.


"Maafkan ayah ya, karena baru sekarang ayah bisa bersama dengan kalian," pinta Adam sungguh-sungguh. Sumpah demi apapun, ia tak ingin kedua anaknya merasa tak lengkap.


Adam akan melakukan segala cara untuk membahagiakan kedua anaknya itu, juga wanita yang sangat dicintainya ini. Haura yang sedang menatapnya dalam.


"Kami sudah memaafkan ayah kok," balas Azzura dengan suaranya yang renyah. Ia semakin memeluk ayahnya erat.


"Sudah ayah, aku sudah memaafkan ayah sejak lama. Sejak aku bertemu dengan paman Mark," jawab Azzam dengan mengulum senyumnya.


Dulu, Azzam pun mencari tahu tentang paman Mark itu. Ternyata paman Mark adalah seorang detektif bayaran yang sangat mahal.


Yang disewa sang ayah untuk mencari mereka semua.


"Siapa paman Mark?" tanya Azzura yang tidak tahu apa-apa. Haura pun menatap sang suami, meminta penjelasan pula.


Namun bukannya langsung menjawab, Adam dan azzam malah saling lirik, memberi kode. Sebuah isyarat untuk merahasiakan siapa Mark sebenarnya.


"Ada Deh!" jawab Adam dan Azzam kompak, bahkan keduanya langsung terkekeh keras.


Hingga membuat Haura mencebik dan Azzura mengerucutkan bibirnya, hingga menyamai hidung.


Puas tertawa, Adam lalu meminta kedua anaknya itu untuk kembali tidur. Tidur sungguh-sungguh.


Adam juga berulang kali mengelus pucuk kepala istrinya itu, menggunakan tangannya yang terulur kearah sang istri.


Hingga lambat laun, baik Haura ataupun kedua anaknya tertidur juga.


Dengkuran halus mulai terdengar dari ketika orang yang sangat disayanginya ini.


Adam, menatap lekat wajah ketiganya.


Berulang kali ia mengucapkan syukur di dalam hati, Allah masih memberinya kesempatan untuk berkumpul bersama kedua anaknya dan juga Haura.


"Ayah sangat menyayangi kalian semua," ucap Adam, lirih.


Ia lalu sedikit bangkit, menarik selimut untuk mereka semua dan mulai menciumi satu per satu anaknya. Lalu terakhir, ia mengecup sekilas bibir sang istri, dengan lembut dan penuh kasih sayang


Dan akhirnya, Adam pun ikut merebahkan diri, terus memperhatikan ketiganya hingga ikut terlelap pula.