My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 133 - Seperti Cinderella



Pagi ini.


Ada yang berbeda dari seorang Luna.


Jika biasanya, Luna akan selalu menunjukkan wajah datar dan dingin di setiap detiknya.


Tapi kini, tidak seperti itu.


Sedari tadi, Luna terus mengigit bibir bawahnya. Seraya mengulum senyum, mencoba menyembunyikan perasaan bahagianya dari semua orang.


Tapi Azzam si bocah peka nan genius ini, paling tidak bisa dibohongi.


"Tante, kata Amang Edgar, aku dan Azzura harus memanggil tante dengan sebutan Acil, apa tante mau dipanggil Acil?" tanya Azzam, pada sang asisten pribadi ibunya.


Saat ini Luna dan Azzam sudah berada di teras rumah. Menunggu Azzura dan kedua orang tuanya keluar.


Tadi, Azzura meninggalkan sesuatu. Dan ayah Adam serta ibu Haura membantu mencarinya.


Mendengar pertanyaan Azzam itu, senyum Luna tak bisa lagi ditahan. Ia bahkan sampai memalingkan wajahnya, agar Azzam tak melihat senyum lebarnya itu.


"Jika Tuan muda dan Nona muda ingin memanggil saya Acil, saya bersedia Tuan," jawab Luna, yang lagi-lagi mengulum senyumnya.


Sehabis ciuman diatas lantai itu, Edgar langsung menyatakan tentang hubungan mereka. Mengatakan dengan tegas jika kini mereka adalah sepasang kekasih.


Tak tanggung-tanggung, Edgar bahkan mengatakan bahwa secepatnya ia akan memperkenalkan Luna kepada kedua orang tuanya.


Sebagai calon istri.


"Apa Acil sedang bahagia? apa karena karena amang Ed?" tanya Azzam langsung, menebak tepat pada intinya.


Sadar jika anak majikannya yang satu ini adalah anak genius.


Luna segera meletakkan jari telunjuknya dibibir, memberi isyarat untuk diam dan jangan beri tahu siapapun.


Luna juga bahkan mengatupkan kedua tangannya didepan dada, meminta dan memohon dengan sungguh-sungguh.


"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Haura yang tiba di sana.


Azzam tak langsung menjawab, ia malah terkekeh pelan.


"Tidak membicarakan apapun Nyonya," Luna yang menjawab.


"Hati-hati saat di desa Parupay, langsung temui ibu Ririn dan beristirahatlah di sana. Aku tadi sudah menghubungi ibu Ririn dan dia akan menunggumu," terang Haura pada sang asisten pribadinya.


Pagi ini, Haura dan kedua anaknya akan ikut Adam ke Malik Kingdom. Sementara Luna akan pergi ke desa Parupay bersama Shakir.


Untuk melihat secara langsung, perkebunan sang nyonya yang tengah panen raya.


"Baik Nyonya," jawab Luna patuh.


Dan setelah itu, Haura segera masuk ke dalam mobil, melalui pintu yang dibukakan oleh suaminya.


Keluarga kecil Adam duduk di kursi belakang. Sementara didepan hanya ada Kris seorang diri sebagai pengemudi.


Dan Luna, terus berdiri di sana, hingga mobil sang Nyonya hilang dari pandangannya.


Secepat yang ia bisa, Luna segera bergegas menuju bandara Internasional Soekarno-Hatta.


Di dalam mobil yang melaju itu, Adam memangku Azzura, sementara Azzam duduk sendiri, berada ditengah-tengah sang ibu dan ayahya.


"Sayang, nanti, ayah akan memperkenalkan kalian pada semua orang di perusahaan kita. Azzura berani kan?" tanya Adam, pada anak bungsunya itu.


"Tentu saja berani, apalagi ada ayah di dekatku," jawab Azzura, apa adanya.


Azzura pun kini sudah mulai terbiasa menjadi pusat perhatian. Ia tak takut lagi ketika melihat banyak orang dewasa yang menatapnya dengan antusias.


"Apa kita akan ke gedung yang tinggi itu? tempat saat dulu abang melakukan olimpiade? tempat pertama kali kita bertemu?" tanya Azzura lagi, bertubi.


Jujur saja, sebenarnya Azzura begitu terkagum-kagum dengan bangunan tinggi bak pencakar langit itu.


Ditanya, Adam pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Adam juga menceritakan kepada semua keluarganya, jika itu adalah gedung milik keluarga Malik.


Beberapa lantai paling atas adalah perkantoran Malik Kingdom. Kemudian semakin ke bawah digunakan untuk umum.


Ada tempat pertemuan seperti ballroom, restoran mewah, tempat fitness, juga hotel bintang 5.


Di jelaskan seperti itu, Azzura dan Haura hanya terperangah. Lain halnya dengan Azzam yang tersenyum kecil.


Dia, sudah tahu.


Beberapa menit kemudian.


Mereka semua sampai di gedung Malik Kingdom.


Kedatangan mereka langsung disambut oleh para petinggi perusahaan. Jika dihitung-hitung, mungkin ada sekitar 15 orang yang menyambut mereka.


Berpakaian rapi, menggunakan jas dan sepatu pantofel.


Adam dan Haura turun bersama kedua anaknya, seketika semua orang itu menundukkan kepalanya serentak, memberi tanda hormat.


Awalnya Haura sungguh terkejut.


Lalu ia tersadar, saat Adam menggenggam tangannya untuk mulai melangkah.


Berjalan, beriringan dengan menggandeng Azzam dan Azzura.


Aturannya adalah, jika ada orang yang memberi hormat saat penyambutan seperti itu segeralah berlalu. Karena orang-orang itu tidak akan mengangkat kepalanya sebelum kita pergi.


Azzura menoleh kebelakang, dan melihat orang-orang yang memberi hormat didepan tadi, mulai berjalan mengikuti mereka.


Tiba-tiba saja Azzura bersorak kecil.


Merasa dirinya kini adalah seorang putri kerajaan.


"Ayah, aku merasa seperti cinderella," bisik Azzura berbisik. Setelah beberapa detik lalu ia meminta sang ayah untuk menggendongnya.


"Tentu saja, Azzura adalah cinderella nya ayah, putri dari keluarga Malik."


Di jawab seperti itu, Azzura makin kegirangan.


Haura yang ikut mendengarnya pun tersenyum, bersyukur.