My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 83 - Membalas Paman Tua



Singapura.


Adam dan kedua anaknya disambut dengan hormat oleh George. Bahkan George menjemput sendiri koleganya itu di bandara Internasional Changi, Singapura.


Setelah berjabat tangan dan mengenalkan kedua anaknya, Azzam Malik dan Azzura Malik pada George, mereka semua bergegas menuju hotel Marina Bay Sands. Hotel yang akan menjadi tempat acara perjamuan makan malam sekaligus peluncuran produk terbaru dari perusahaan George, perusahaan yang bergerak dibindang yang sama dengan Adam, perusahaan Rokok.


"Dam, bukankah kamu memiliki saham di perusahaan Darius?" tanya George, saat mereka sudah sampai di lobby hotel Marina Bay Sands. Adam terus menggenggam erat tangan kedua anaknya, kiri dan kanan, sesuai dengan perintah ibu Haura.


Lengkap pula dengan 3 penjaga yang selalu mengelilingi mereka.


"Iya George, kenapa?" tanya Adam heran, meski memiliki saham di sana, namun Adam tak begitu aktif, pekerjaannya pun sudah begitu banyak untuk mengurus perusahaannya sendiri.


Adam, memang berniat untuk mengakuisisi perusahaan Darius itu, namun kelak setelah ia menikah dengan Haura.


"Aku juga mengundangnya untuk datang kesini, namun dia menolak. Dia memang datang ke Singapura, tapi bukan untuk menemuiku. Dia mengadakan pertemuan sendiri, mencari penanam modal baru untuk perusahaannya," jelas George.


Dan mendengar itu, Adam menyeringai. Ternyata, Darius hendak melebarkan sayapnya.


"Dimana acaranya?" tanya Adam kemudian.


"Nanti sore, di hotel ini juga. Ruang pertemuan Straits Suite," jelas George apa adanya, dan Adam hanya menganggukkan kepalanya.


Sementara untuk acara peresmian produk baru George akan diadakan nanti malam.


Sampai di kamar, Azzam dan Azzura langsung berlari menyusuri ruangan itu. Kamar yang mewahnya sama seperti di rumah nenek Zahra, namun bedanya, kini mereka berada di ketinggian.


Bahkan Azzura sampai takut saat melihat kearah jendela.


Menatap negara Singapura dari atas sana.


"Hii, Zura tidak mau, takut," keluh Azzura, lalu memilih berada ditengah-tengah ruangan itu.


Sementara Azzam hanya terkekeh, lalu menikmati pemandangan itu seorang diri. Lalu disusul oleh sang ayah yang langsung menggendongnya.



Pelan, Azzam menggeleng.


"Kata ibu jangan kemana-mana," bisik Azzam hingga membuat keduanya terkekeh, seolah Haura bisa melihat dan mendengar mereka, meski berada di jauh sana.


"Ayah, Gendong aku juga, aku kalau digendong berani," rengek Azzura, tapi masih duduk di sofa ruangan itu, tak mau beranjak mendekati ayah dan kakaknya.


Azzam dan Adam makin terkekeh, melihat tingkah Azzura itu.


Cukup lama mereka beristirahat di kamar, hingga saat sore menjelang Mereka bertiga mengunjungi ruang pertemuan Darius, meski mereka tidak diundang.


Sebagai pemilik saham 10 persen, Adam hanya ingin melihat jalannya pertemuan itu.


Adam mengetuk pintu itu sebelu masuk, dan ketika pintu terbuka, semua orang menatap dengan mata yang membola.


Terlebih Darius, yang kedua matanya nyaris keluar.


Azzam dan Azzura pun masih mengingat dengan jelas wajah paman itu, seseorang yang pernah marah-marah kepada ayahnya.


"Tuan Adam!" sapa salah seorang dari pertemuan itu, lalu disusul pula salam dari semua orang.


"Duduklah, lanjutkan saja acara ini, aku hanya ingin melihat. Bolehkan aku bergabung Darius? jangan lupa, aku pemilik 10 persen saham di perusahaan mu," jelas Adam, hingga membuat Darius tak bisa berkata-kata.


Akhirnya, dengan terpaksa, Darius membiarkan Adam di sana, lengkap pula dengan dua bocah kecil itu.


Darius mulai menunjukkan proposalnya di layar monitor, semua orang memperhatikan dengan seksama, termasuk Azzam dan terkecuali Azzura.


Dalam sekali lihat, Azzam tahu jika paman bernama Darius ini telah melakukan kecurangan. Angka di layar awal dan akhirnya berbeda.


Kecil, Azzam menyeringai. Muncul ide di kepalanya untuk membalas paman tua ini. Karena dulu, sempat membawa-bawa nama ibunya untuk mengancam sang ayah.