
Sebelum magrib, Shakir memutuskan untuk pulang.
Ia kembali bertemu dengan sang calon istri dan bicara berdua.
Saling bertukar nomor ponsel agar bisa saling menghubungi.
Sanja mengulum senyumnya, merasa lucu. Karena baru sekarang mereka saling bertukar nomor ponsel seperti ini.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Shakir yang bibirnya mengulum senyum juga.
"Tidak ada apa-apa Bang," jawab Sanja, berkilah.
Keduanya saling tatap, dengan bibir yang sama-sama mengukir senyum. Hingga tangan Shakir bergerak naik dan mengelus salah satu pipi Sanja.
Mengelus dengan sayang.
"Aku pulang dulu ya," pamit Shakir dan Sanja pu menganggukkan kepalanya.
"Apa ada yang ingin kamu katakan?" tanya Shakir, entah kenapa rasanya ia ingin mendengar sesuatu dari mulut calon istrinya ini. Sebelum akhirnya mereka benar-benar berpisah.
Sanja tak langsung menjawab, ia malah menggigit bibir bawahnya, Bingung.
"Em ... kalau sudah sampai di rumah, hubungi aku," jawab Sanja lirih. Ia bahkan langsung menurunkan pandangannya dan menatap sembarang.
Sungguh malu ketika mengatakan itu.
Sanja tidak tahu, jika Shakir amat sangat bahagia mendengarnya. Shakir ingin, tak hanya dia yang menunjukkan rasa cinta. Shakir ingin, Sanja juga melakukan hal yang sama.
Sama, seperti barusan. Sebuah perintah yang membuah hati Shakir menghangat.
"Baiklah," jawab Shakir singkat.
Terakhir, Shakir mengelus pucuk kepala Sanja, lalu segera berlalu dari sana.
Sanja melambai, terus menggerakkan tangan kanannya hingga Shakir tak nampak lagi.
Lalu tangan yang barusan melambai itu, kini pindah menyentuh dadanya. Merasakan debaran jantung yang tak biasa.
"Aa!!" Sanja, menjerit tertahan.
Ia, sungguh sungguh sungguh bahagia.
Aku mencintaimu Bang, aku sangat mencintaimu. Teriak Sanja di dalam hati.
Lalu dengan menggenggam cincin di jari manisnya, Sanja segera masuk ke dalam rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam 9 malam.
Setelah memastikan Azzam dan Azzura tidur, Haura kembali masuk ke dalam kamarnya.
Melihat sang suami yang masih duduk di sofa seraya membaca sesuatu di dalam tablet miliknya.
Haura mendekat dan duduk persis disebelah suaminya itu.
"Mas sedang baca apa? belum mau tidur?" tanya Haura dengan suaranya yang lembut, penuh perhatian.
"Ayo tidur, anak ayah di dalam sini juga pasti ingin beristirahat," jawan Adam, ia mengelus perut Haura dengan lembut, lalu sedikit menunduk dan menciumnya dengan sayang.
Haura hanya tersenyum, seraya mengelus kepala suaminya itu. Sesekali menyisir rambut Adam menggunakan jemarinya.
Dan saat Adam mendongak, Haura pun lebih dulu mengecup sekilas bibir suaminya itu.
"Ayo tidur," ajak Haura.
Dengan terkekeh, Adam pun bangkit. Berjalan lebih dulu dan menggandeng istrinya untuk naik ke atas ranjang.
Saat memegang pergelangan tangan Haura itu, Adam kembali menyentuh bekas luka di sana.
Setelah berbaring, Adam kembali mengangkat tangan kiri istrinya itu dan mulai menatap lekat bekas luka dipergelangan tangan istrinya. Nampak seperti bekas Luka sayatan, seolah dulu Haura pernah berniat bunuh diri.
"Kenapa ini bisa luka?" tanya Adam, ia mengelus bekas luka itu dengan sayang, lalu menoleh dan menatap Haura sekaligus.
Haura tak langsung menjawab, ia lebih dulu tersenyum. Lalu membenahi tidurnya agar menyamping dan menatap sang suami.
"Aku tidak ingat Mas, itu luka bekas apa," jawab Haura jujur, sepertinya luka itu sudah ada sejak ia kecil, dan baru menyadarinya ketika ia beranjak dewasa.
"Benarkah? kamu tidak ingat?"
Haura mengangguk.
"Bukan karena kamu ingin bunuh diri?"
Mendengar ini, Haura terkekeh.
"Dulu, saat bapak dan ibuku masih hidup, hidup kami lumayan berkecukupan, bahkan dikampung kami ini termasuk orang kaya," balas Haura, mulai bercerita.
kembali teringat masa kecilnya dan juga kedua orang tuanya.
"Hidupku sangat bahagia saat itu, aku tidak memiliki alasan apapun untuk bunuh diri," timpal Haura lagi.
Masih dengan senyumnya yang terus terukir. Ingin meyakinkan sang suami jika dugaannya itu salah.
"Ayo Mas, temani aku untuk ziarah ke makam ibu dan bapak?" pinta Haura, yang mulai memasang wajah serius.
Dulu, rencana mereka gagal karena Kedatangan Hasan.
"Baiklah, besok kita pergi. Maafkan aku ya, aku sampai melupakan tentang kedua orang tua mu."
Haura, kembali tersenyum.
"Besok, kita temui juga mas Hasan, ya?" pinta Haura, dan Adam hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Walau bagaimanapun, hubungan diantara Haura dan Hasan memang sudah terjalin.
Memperbaiki hubungan itu adalah keputusan yang tepat. Ketimbang membuatnya semakin rumit.
Malam itu, Adam dan Haura tidur seraya saling memeluk erat.
Pelukan, yang berhasil membawa keduanya kembali bertemu di alam mimpi.