My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 93 - Tuan Crab dan Nyonya Puff



Di ballroom tempat diadakannya pernikahan Adam dan Haura, tamu undangan mulai berdatangan. Mereka semua langsung duduk menuju kursi dan meja yang sudah dipersiapkan.


Tak banyak undangan yang mereka sebar, karena untuk pernikahan Adam kali ini, ia hanya ingin mengundang anggota keluarga dan beberapa kolega dekat saja.


Bahkan Adam melarang semua media untuk meliput. Adam hanya akan melayani pertanyaan saat acara konferensi pers nanti diadakan. Setelah rangkaian acara pernikahan ini selesai.


Ting!


Pintu lift terbuka. Setelah menarik dan menghembuskan napasnya berat, Shakir keluar dari dalam lift itu.


Melangkahkan kakinya menuju ballroom di lantai 40 ini. Sebuah tempat yang akan menjadi saksi bisu, ikatan suci antara Adam dan Haura. Haura, wanita yang hingga kini masih menempati hatinya.


Mendekati pintu ballroom, Shakir melihat sesosok wanita yang begitu dikenalnya.


Disaat semua tamu wanita berlomba-lomba ingin terlihat cantik, namun tidak dengan wanita satu ini, ia tetap konsisten menggunakan baju dan celana span berwarna hitam, rambut diikat tinggi seperti ekor kuda, Luna berdiri di sana.


Berbicara menggunakan earphone ditelinga.


Memastikan semua persiapan acara sakral hari ini akan berjalan dengan baik.


Sedikit mengulum senyumnya, Shakir menghampiri Luna.


"Tuan Shakir, selamat datang," ucap Luna saat melihat Shakir dihadapannya. Ia bahkan menundukkan kepala, memberi hormat.


Lalu melihat Shakir yang menatapnya lekat dari atas sampai bawah, hingga membuat Luna merasa tak nyaman.


"Apa ada yang salah Tuan?" tanya Luna kemudian.


Dan Shakir tak menjawab apapun, ia hanya tersenyum dengan senyum yang entah. Lalu segera masuk ke dalam ballroom dan meninggalkan Luna begitu saja.


Sumpah demi apapun, Luna begitu kesal melihat senyum Shakir itu, senyum yang seolah sedang meledeknya.


"Huh! sabar Luna, sabar," gumam Luna pelan, seraya menarik dan menghembuskan napasnya pelan. Ia bahkan mengelus-ngelus dadanya, meredakan emosi.


Jangan sampai tangan dan kakinya bergerak di luar kendali, dan membanting Shakir begitu saja.


"Kamu kenapa?" tanya Edgar tiba-tiba hingga membuat Luna terkejut.


"Tuan Edgar, selamat datang," jawab Luna, tidak nyambung. Ia pun menundukkan kepalanya kepada Edgar, memberi hormat.


"Semuanya baik-baik saja?" tanya Edgar lagi, penuh perhatian. Melihat raut wajah Luna tadi yang nampak kesal, Edgar takut ada seseorang yang kembali mengganggu Luna.


"Tidak ada apapun yang terjadi Tuan, semuanya baik-baik saja," jawab Luna, kembali menunjukkan raut wajahnya yang khas, terlihat datar dan tanpa ekspresi.


Mendengar itu, Edgar menganggukkan kepalanya.


"Jangan terlalu sibuk bekerja, nikmatilah juga acara hari ini," ucap Edgar kemudian, dan setelah mengatakan itu ia segera masuk ke dalam ballroom. Tanpa menunggu, Luna memberikan jawaban.


Edgar, selama ini memang selalu bersikap baik kepada Luna. Namun bagi Luna, mungkin saja Edgar memang selalu baik pada semua orang.


Luna, kembali fokus pada pekerjaannya.


Menyambut tamu-tamu penting secara langsung sekaligus memantau acara melalui sambungan telepon yang terhubung pada earphone di telinganya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nyonya, acaranya akan segera di mulai, mari kita keluar," ucap salah satu wedding organizer di sana, berucap dengan suaranya yang sopan kepada Haura.


Dan saat Haura mengangguk, beberapa WO pun membantunya untuk berdiri.


Haura keluar, dan seketika tatapannya bertemu dengan sepasang mata calon suaminya, Adam sudah berdiri di lorong kamar hotel mereka, menunggu Haura.


Semua orang hanya mampu tersenyum, saat melihat tatapan Adam dan Haura yang tidak putus-putus.


Hingga Zahra berdehem, barulah Haura mengalihkan tatapan.


Azzam dan Azzura makin terkekeh dibuatnya, seperti tuan crab dan nyonya puff yang sedang jatuh cinta, batin Azzura gemas sendiri.


Para anak-anak kecil berkumpul didepan, Azzura, Arrabela, Azzam dan beberapa sepupu mereka.


Lalu sang pengantin wanita didampingi oleh Aida dan Sarah, dan pengantin pria didampingi oleh Yuda dan juga Agra.


Dan para orang tua berjalan mengikuti sang pengantin.


Sementara keluarga Ammar, sudah lebih dulu menuju ballroom.


"Kamu cantik," bisik Adam, diantara langkahnya yang pelan-pelan.


Haura tak menjawab apapun, hanya kedua pipinya yang semakin merona.