
Masuk ke dalam rumah, Haura segera bergegas menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti, kala melihat nenek inah sedang berada diruang tengah, lengkap pula dengan TV yang sedang menyala.
Di atas meja banyak berbagai jenis bunga, nenek Inah memotong-motong beberapa tangkai bunga itu lalu disusunnya didalam vas.
"Nenek di rumah?" tanya Haura seraya duduk disebelah sang nenek, Haura bertanya seperto itu karena tadi pagi nenek Inah ikut om Jodi ke toko bunga, ia tak menyangka jika nenek akan pulang secepat ini.
"Iya sayang, bagiamana Azzura? apa dia tampil dengan baik?" Aminah balik bertanya, dengan nada yang tak kalah antusias.
Aminah dan Jodi tidak ikut ke AIG School, karena tadi pagi toko bunga sedang mendapatkan banyak pesanan.
"Alhamdulilah Nek, semuanya lancar," jawab Haura apa adanya.
Sejenak, Aminah menghentikan pergerakan tangannya, lalu menatap Haura yang wajahnya nampak berseri, berbeda sekali dari biasanya.
Seolah Haura baru saja mendapatkan kabar bahagia. Namun Aminah tidak bertanya lebih, ia pikir Haura amat sangat bahagia karena keberhasilan sang anak.
"Nek, ada yang ingin aku katakan pada Nenek," ucap Haura kemudian, ia ingin memberi tahu sang nenek perihal hubungannya dengan Adam. Sejak dulu, Aminah memang selalu menjadi tempatnya mengadu, tak ada satupun yang Haura tutupi dari sang nenek.
"Apa Haura?" tanya Aminah, ia bahkan sedikit memutar tubuhnya, hingga menghadap kepada Haura dengan sempurna.
"Aku- aku menerima lamaran mas Adam Nek," jawab Haura diantara rasa gugupnya.
Mendengar itu, Aminah langsung tersenyum lebar. Didalam hatinya ia terus bersyukur tanpa henti.
"Alhamdulilah," ucap Aminah, penuh syukur, ia bahkan langsung memeluk Haura, menunjukkan kebahagiaannya.
"Adam orang baik Haura, anak-anakmu juga sangat menyayangi dia, keputusanmu sudah tepat," jelas Aminah lagi. Karena terlalu haru, ia sampai meneteskan air mata bahagia.
Kecil, Haura tersenyum, lalu kini giliran ia yang memeluk nenek Aminah.
"Terima kasih Nek, terima kasih," jelas Haura. Ia memeluk Aminah erat, tak terbayang bagaimana hidupnya jika sampai dulu ia tidak bertemu dengan Aminah.
"Nenek sangat menyayangimu Haura."
"Aku juga sangat menyayangi Nenek," balas Haura cepat. Mereka memang tidak memiliki hubungan darah, namun ikatan yang terjalin begitu kuat.
Haura melerai pelukan itu, lalu mulai mencairkan suasana, ia membantu nenek Aminah untuk menyusun bunga didalam vas.
Lalu aktifitas keduanya terhenti saat mereka sama-sama melihat wajah Azzura didalam siaran televisi.
Awalnya tentang teater tadi pagi, lalu kini tentang siaran langsung Arrabela dan Azzura. Dalam siaran televisi itu nampak jelas, jika semua orang memuja-muja sang anak.
Dalam sekejab saja, sang anak sudah menjelma menjadi seorang idola baru.
Bukannya merasa bahagia, Haura malah merasakan ada yang mengganjal dihatinya.
Azzura masih sangat kecil, namun kehidupannya sudah dilihat oleh semua orang dan menjadi bahan pembicaraan.
Haura merasa gelisah, takut jika hal itu akan mempengaruhi psikologi sang anak.
"Haura," panggil Aminah hingga membuyarkan semua lamunan Haura, ia menoleh dan menatap Aminah dengan tatapan yang entah. Tak sebahagia tadi.
"Kenapa? kamu merasa cemas tentang Azzura?" tebak Aminah dan Haura bergeming.
"Sekarang kamu sudah tidak sendiri Haura, ada Adam yang juga akan melindungi Azzura dan Azzam, jadi kamu jangan cemas. Apapun kegelisahanmu, mulai saat ini sampaikanlah juga kepada Adam," titah Aminah, khas dengan suaranya yang lembut, tiap kali berbincang dengan sang nenek, Haura selalu merasa tenang.
Seperti saat ini.
Bahkan kini, Haura bisa dengan cepat mengembalikan senyumnya tadi.
Ya, kini aku tidak sendiri lagi. Batin Haura.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam pulang sekolah, Adam sudah menunggu kedua anaknya didepan gerbang AIG School.
Kedua anak ini langsung berlari, masuk kedalam dekapan sang ayah.
"Ayah!" pekik Azzura, pekikan yang membuat Adam semakin merasa bahagia.
Adam menciumi kedua anaknya secara bergantian. Kebahagiaan Adam hari ini, begitu jelas Azzam rasakan. Ia bahkan ikut tersenyum, kala melihat ayahnya yang terus mengukir senyum seperti itu.
"Ayah sedang bahagia ya?" tebak Azzura saat mereka semua sudah masuk di dalam mobil.
Mereka bertiga duduk di kursi belakang, dengan satu supir yang mengemudikan mobil ini.
"Iya, Ayah sangat sangat sangat bahagiaaa sekali. Nanti saat sampai di rumah, Ayah dan Ibu akan memberi tahu kalian tentang kabar ini."
"Kenapa harus nanti, sekarang saja," desak Azzam yang sudah tidak sabar, sebenarnya mulut Adam pun sudah gatal ingin segera memberi tahu anak-anaknya, tentang rencananya untuk menikah dengan sang ibu.
"Iya Ayah, katakan sekarang saja? aku tidak sabar menunggu nanti," celoteh Azzura tidak terima.
Dan Adam berada didalam kebimbangan.
"Ayaah!" rengek Azzura dan Azzam kompak.
"Baiklah, baiklah, ayah akan beri tahu kalian sekarang, tapi sampai di rumah kalian harus pura-pura tidak tahu ya?" tawar Adam, ia bahkan menatap serius pada kedua anaknya, yang duduk disebelah kiri dan kanannya.
Azzam dan Azzura mengangguk kompak.
"Ayah dan ibu memutuskan untuk menikah, kita akan hidup bersama sayang," jelas Adam, hingga membuat Azzam dan Azzura tercengang.
"Benarkah?" tanya Azzam memastikan dan Adam menganggukkan kepalanya.
"Aa!!!" pekik Azzura yang merasa bahagia, pekikan yang membuat semua orang didalam mobil itu terkejut. Bahkan sang supir pula.
"Jadi ayah dan ibu akan menikah?" kini Azzura yang butuh kepastian.
"Iya sayang," jawab Adam lalu memeluk kedua anaknya erat.
Azzam dan Azzura pun langsung membalas pelukan itu tak kalah eratnya.
"Zura bahagia sekali ayah, keinginan Zura untuk tinggal bersama dengan ayah dan ibu dikabulkan oleh Allah, kita bisa tidur bersama, bangun bersama-sama, sarapan sama-sama dan sama-sama terus," jelas Azzura sesuai bayangan yang ada diisi kepalanya.
"Azzam juga sangat bahagia ayah, sangat bahagia," timpal Azzam pula. Keluarga yang lengkap adalah harapannya sejak dulu.
"Ayah lebih bahagia lagi, karena selamanya ayah bisa memeluk Azzam, Azzura dan ibu sekaligus," jawab Adam kemudian, ia bahkan menciumi pucuk kepala sang anak secara bergantian.
Terus bersyukur atas semua kebaikan yang datang bertubi dalam hidupnya.
"Tapi ingat! kalian nanti harus pura-pura tidak tahu ya? ayah dan ibu sudah sepakat untuk memberitahu kalian nanti, tapi ayah malah berhianat," jelas Adam, tanpa melepaskan pelukan pada kedua anaknya.
"Siap ayah!" Azzam dan Azzura kompak.
"Nanti kalian pura-pura terkejut ya? seperti tadi."
Azzam dan Azzura terkekeh, sang supir pun mengulum senyumnya kala mendengar itu.
"Iya ayah, akan kami lakukan."
"Janji?"
"Iyaa!!" pekik Azzam dan Azzura kompak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ayah Adam mah gitu, suka melakukan hal yang tidak-tidak dibelakang Haura, kemarin curi-curi ketchup, sekarang kong kalikong sama anak 🙈🙈
Salam keluarga AH 👨👩👧👦 jangan lupa vote ya 😙