My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 54 - Kesialan Bertubi



Selesai mengantar Azzam dan Azzura, Adam langsung bergegas ke kantornya, Malik Kingdom.


Luna sudah menunggu di sana, dengan sejuta jadwal yang harus mereka selesaikan. Sebagai seorang CEO, Adam hanya memerintah dan mengawasi, lalu menjalin hubungan baik dengan semua kolega.


"Tuan, siang ini sidang perdana perceraian Anda dengan Monica, apakah Anda ingin menghadirinya?" tanya Luna, seraya mengiringi langkah sang Tuan. Luna menjemput Adam di lobby, lalu sama-sama menuju lantai 69.


"Tidak, serahkan saja semuanya pada Hotman," jawab Adam singkat, Hotman adalah pengacara kepercayaan Adam. Semua kasus yang Adam perkarakan, maka Hotman lah pengacaranya.


"Baik Tuan," balas Luna patuh.


Tak butuh waktu lama, keduanya sampai di lantai 69. Dua sekretaris Adam pun langsung masuk ke ruangan CEO untuk melaporkan beberapa hal yang penting.


"Tuan Edgar, akan datang siang ini untuk menemui anda Tuan, jika anda berkenan, saya akan kembali menghubungi sekretarisnya," ucap sekretaris 1 yang bertugas membuat jadwal temu.


Adam mengangguk.


Selesai melapor, kedua sekretaris itu sama-sama keluar. Pun Luna yang ikut keluar juga, karena tugasnya pun sudah selesai. Kini Adam, tinggal menandatangi semua berkas yang sudah ia periksa.


"Luna!" panggil Adam, saat Luna hendak menutup pintu ruangan itu.


Karena dipanggil, Luna pun kembali menghampiri tuannya. Kembali berdiri dengan posisi tegap dihadapan Adam.


"Ambilah cuti, obati lukamu dengan benar, jangan biarkan jadi infeksi dan malah berakhir semakin parah," ucap Adam, saat ia melihat ada beberapa titik lepuh di wajah Luna, akibat peristiwa semalam.


"Baik Tuan," jawab Luna patuh. Tanpa banyak negosiasi, ia langsung menuruti perintah Adam itu.


Luna keluar dari ruangan Adam, lalu bergegas pulang. Mengambil cuti selama 2 hari untuk menyembuhkan diri.


Saat jam 11 siang, Edgar datang menemui Adam. Ia datang seorang diri, tanpa didampingi oleh sang assiten.


Sampai di ruangan CEO, Adam langsung menyambut kedatangan Edgar. Keduanya duduk di sofa ruangan itu.


Edgar datang, untuk mengucapkan maaf secara langsung kepada Adam. Peristiwa semalam, pastilah menciptakan kesan buruk.


"Sudahlah Ed, aku tidak mempermasalahkannya," jawab Adam apa adanya.


Hubungan Adam dan Edgar memang sudah terjalin sangat baik, meski bisnis mereka berada di ranah yang berbeda.


"Aku benar-benar tidak menyangka Mas, semalam akan jadi sekacau itu."


"Apa ada yang terluka parah?"


Edgar mengangguk, "Putri pak Soedibyo," jelasnya kemudian.


"Sabar, pasti ada hikmahnya," jelas Adam, ia bahkan menepuk bahu Edgar yang duduk disebelahnya.


"Bagaimana dengan Luna? setahuku dia juga mendapatkan luka," tanya Edgar, sedari tadi ia juga mencari keberadaan Luna, namun tidak menemukan gadis itu di manapun, padahal biasanya, Luna selalu berada disekitar Adam.


"Dia ambil cuti, ku rasa lukanya juga butuh penangannan," jawab Adam apa adanya, dan mendengar itu, Edgar hanya menganggukkan kepalanya. Entah kenapa, ia merasa sedikit kecewa, tidak bisa melihat wajah wanita dingin itu saat berkunjung kesini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sidang persidangan pertama perceraian Adam dan Monica digelar. Saat itu Monica datang dengan wajahnya yang sembab.


Monica mengakui semua kesalahannya, juga semua tuduhan yang Adam berikan sebagai dasar perceraian ini bisa terjadi.


Namun Monica masih berharap, pernikahannya bisa diselamatkan, ia masih mengharapkan maaf dari Adam.


Dan mendengar keinginan Monica itu, Hotman langsung mengungkapkan bahwa Adam sudah tidak mau rujuk. Perkara maaf Adam memang sudah memaafkan, namun mereka tetap tidak bisa kembali bersama.


Adam, akan memenuhi janjinya, menebus semua kesalahan pada Haura dan kedua anaknya.


Bahkan Hotman pun mengatakan, jika disini yang menjadi korban adalah Adam dan Haura, bukan Monica.


Mendengar penuturan Hotman itu, Monica mengepalkan tangannya. Tak menyangka, jika pihak Adam akan membawa-bawa nama Haura. Hingga membuat ia terpojokkan.


Sidang yang pelik, akhirnya Hakim memutuskan untuk kembali melanjutkan sidang dua minggu kedepan. Pihak Hotman tidak menginginkan adanya mediasi, maka dua minggu kedepan langsung sidang putusan.


"Tuan Hotman!" panggil Monica, pada pengacara suaminya itu.


Hotman menghentikan langkahnya, seraya menoleh kearah kedatangan Monica.


"Tuan, saya mohon, bantu saya untuk kembali pada mas Adam, saya mengaku salah, dan karena itulah saya bersedia menerima Haura dan kedua anaknya diantara kami," ucap Monica penuh permohonan.


Melihat itu, bukannya iba, Hotman malah tersenyum miring.


"Jika anda benar-benar mengaku salah, harusnya anda cukup tahu diri untuk tidak mengusik Tuan saya. Andalah yang hadir diantara Tuan Adam dan Nyonya Haura. Bukan Nyonya Haura yang ada diantara Anda dan Tuan Adam," jawab Hotman.


Setelah mengatakan itu, Hotman segera pergi dari sana. Tak peduli dengan semua air mata yang ditumpahkan oleh Monica.


Dan mengepalkan tangan, adalah satu-satunya yang bisa Monica lakukan.


Selesai menghadiri persidangan perceraiannya itu, Monica langsung bergegas menuju polres Jakarta Selatan, memenuhi panggilan atas tuduhan yang dilayangkan oleh sang suami, tentang penipuan dan pencemaran nama baik yang ia lakukan.


Semua bukti yang Adam berikan buat ia tak bisa mengelak lagi, bahkan rekam jejak 6 tahun silam pun ada di sana pula.


Akhirnya Monica pun mengakui itu semua, hingga penyidik langsung menetapkannya sebagai tersangka.


Dengan status tersangkanya itu, Monica harus segera ditahan. Namun pengacara Monica, meminta keringanan, agar kliennya menjadi tahanan Kota saja.


Penyelidik menyetujui, dengan syarat, Monica mematuhi semua peraturannya.


Tiga jam, akhirnya Monica keluar dari polres. Wajahnya kusut, ia terus saja tertawa getir, meratapi nasibnya saat ini.


Saat ia sedang terpuruk seperti ini, tak ada seorangpun yang peduli. Bahkan keluarganya pun enggan untuk membantu, tak ada seorangpun yang mau melawan Adam.


"Ini semua karena Haura kembali, andaikan wanita itu tidak kembali, kesialan ini tidak akan pernah terjadi."


"Berhentilah menyalahkan wanita itu, jangan banyak berbuat ulah. Saat ini pergerakkanmu bahkan diawasi oleh polisi," sahut pengacara Monica dengan berbisik, Elsha pun tak ingin Monica makin memupuk kesalahan.


Bukannya membantu, malah semakin memberatkan kasus hukumnya kelak.


Tak peduli apa yang diucapkan Elsha, Monica langsung bergegas pergi dari sana. Mengemudikan mobilnya tanpa arah dan tujuan.


Hingga tanpa sadar, mobil itu berhenti diseberang jalan AIG School.


Melihat Haura, yang berdiri di sana menunggu kedua anaknya.