My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 130 - Ingin Meledak



Ting!


Satu pesan masuk di ponsel Luna.


Saat ini, Luna baru saja sampai di rumahnya, setelah beberapa detik lalu ia masuk ke dalam rumah.


Rumah berlantai 1 yang ia beli menggunakan uang jerih payahnya sendiri. Rumah yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil.


Hanya dihuni oleh 3 orang saja. Luna dan kedua asisten rumah tangganya.


Orang tua Luna tidak tinggal di Jakarta, semua keluarga Luna berada di kota Palembang.


Takut sang Nyonya yang menghubungi, Luna pun segera menghentikan langkahnya dan membuka pemberitahuan di ponselnya itu.


Seketika Luna mengerutkan dahi, saat melihat pesan itu bukanlah dari sang Nyonya, melain Tuan Shakir.


Merasa tak terlalu penting, Luna pun kembali melangkah, berjalan seraya membaca pesan itu menuju kamarnya.


Tuan Shakir Asegaf :


Besok, aku akan ke desa Parupay, perkebunan sedang panen raya. Aku ingin kamu ikut bersamaku, kecuali jika kamu ingin pergi bersama Haura.


Membaca pesan itu, Luna berdecih. Entah kenapa, ia benar-benar merasa jika Shakir sedang berencana mengganggu hidupnya.


Persis seperti ucapannya kemarin.


Lebih baik jangan cemaskan Nyonyamu itu, tapi


cemaskan saja dirimu sendiri. Karena mulai saat ini, aku akan mengganggumu.


"Benar-benar menyebalkan," gumam Luna, namun meski begitu, ia pun membalas pesan shakir tersebut, tak ingin mengabaikannya, sadar jika kini mereka adalah rekan kerja.


Luna :


Baik Tuan, saya akan meminta izin Nyonya Haura lebih dulu.


Tak lama setelah pesan itu terkirim, Shakir kembali membalasnya.


Tuan Shakir Asegaf:


Haura pasti akan mengizinkanmu, bertemu denganku di bandara jam 8 pagi. Tiketmu sudah ku pesankan.


Membaca itu, Luna kembali menghentikan langkahnya.


Saat hendak membalas pesan itu, tiba-tiba ponsel Luna berdering.


Saking terkejutnya ketika melihat siapa yang memanggil, Luna sampai menjatuhkan ponsel itu.


"Tu-tuan Edgar," gumam Luna, setelah dengan cepat ia kembali mengambil ponselnya.


Masih dengan berjongkok, Luna mengangkat panggilan itu. Setelah lebih dulu ia berdehem, menetralkan suaranya agar tak terdengar gugup.


"Assalamualaikum, Tuan Edgar," jawab Luna dengan suaranya yang terdengar tegas, datar.


Dan diujung sana, Edgar pun menjawab salam Luna itu.


"Luna, apa besok harimu sibuk?" tanya Edgar langsung, hingga membuat kedua netra Luna membola.


Pembicaraan seperti ini, membuat seolah-olah mereka memiliki hubungan lebih, bukan hanya sekedar rekan kerja. Antara Tuan Muda dan asisten pribadi koleganya.


"Maksud anda, Nyonya Haura? Ya, Beliau sedang sibuk. Besok, Tuan Adam akan mengenalkan Nyonya Haura secara resmi kepada seluruh karyawan Malik Kingdom. Apa ada yang bisa saya bantu?" jawab Luna, sekaligus bertanya.


Namun mendengar jawaban Luna itu, Edgar menghembuskan napasnya pelan.


Bagaimana caranya, membuat Luna peka. Apa dia harus mengatakannya secara langsung.


"Aku menanyakan tentangmu Luna, bukan Nyonya Haura," jawab Edgar, dengan suaranya yang dingin.


Dan satu kalimat itu, berhasil membuat Luna bergeming dengan kedua netra yang terbuka lebar.


Tentangku? batin Luna, bertanya-tanya.


Untuk apa, tuan Edgar menanyakan tentangku? tanyanya lagi, didalam hati.


"Maaf Tuan, tapi kenapa anda menanyakan tentang saya? apa saya melakukan kesalahan kepada Anda?" tanya Luna, bertubi. Bukannya menjawab, ia malah kembali bertanya.


Dan diujung sana, Edgar mengacak rambutnya frustasi.


"Aku akan mendatangi rumahmu, tunggu aku." balas Edgar, lalu segera memutus sambungan telepon itu, tanpa menunggu Luna menjawab.


Rasanya, Edgar sudah tak bisa lagi menunggu. Karena semakin lama, perasaannya pada Luna seolah ingin meledak.


Malam ini, ia akan utarakan semua.