My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 158 - Berbagi Tubuh



Beberapa hari berlalu.


Setelah bertemu dengan penulis Anna, Haura segera menuju rumah mertuanya, Zahra.


Hari ini Haura memiliki banyak kegiatan, sementara Adam hanya diam di rumah. Kondisinya, membuat Adam tak bisa bertemu dengan banyak orang, apalagi wanita.


Bahkan beberapa meeting yang ada dalam jadwalnya diubah menjadi meeting virtual, menggunakan panggilan video, zoom.


Tak ingin egois, akhirnya Adam mengizinkan Haura untuk pergi, asalkan sebelum ashar istrinya itu sudah pulang.


Haura menurut, didampingi oleh Luna akhirnya ia keluar dari dalam rumah.


Bertemu dengan penulis Anna, dan kini menuju rumah Zahra.


Hari ini, Zahra mengajak Sarah, Aida dan juga Haura untuk berkunjung ke pinggiran kota Jakarta, menjual sembako untuk warga di sana dengan harga yang sangat murah.


Semuanya dipatok dengan harga yang sama, yaitu 5000 per 1 kilonya. Mulai dari Beras, Gula, Minyak, Telur dan lain-lainnya.


Semua itu Zahra lakukan, untuk rasa syukurnya atas kehamilan anak-anaknya. Seperti sebuah keajaiban, Sarah, Aida dan juga Haura hamil di waktu yang sama.


Jam 11 siang, mereka semua sudah sampai di kampung itu.


Beberapa tim yang Zahra bentuk pun mulai mendirikan tenda. Dan menyusun beberapa sembako itu dengan rapi sesuai jenisnya.


Memasang spanduk besar-besar, menjual sembako murah 5000 ribu rupiah perkilonya.


Dalam waktu sekejab saja, tenda mereka ramai di datangi oleh para warga, apalagi saat Aida mulai berjualan menggunakan toa.


Seperti berada di pasar.


"Serba lima ribu, ayo serbuu!" ucap Aida dengan semangatnya.


Sementara Sarah dan Haura mulai melayani pembeli dengan sabar dan sangat ramah.


Zahra yang sudah merasa lelah pun duduk, memperhatikan dengan senyumnya yang terkembang lebar.


Semakin bertambah pula rasa syukurnya, kala melihat warga kampung itu berdatangan dengan begitu antusias.


Hanya butuh waktu 2 jam, dagangan mereka semua habis terjual.


Kini, para wanita di keluarga Malik itu duduk di kursi plastik dan mulai menyegarkan tenggorokannya dengan air dingin.


Menghapus peluh yang mulai keluar.


Ternyata, mereka cukup kelelahan. Haura yang biasanya selalu bekerja keras pun jadi semakin lemah, mungkin karena kini ia sedang mengandung.


"Kita istirahat sebentar, setelah ini baru pulang," ucap Zahra dan diangguki oleh anak-anaknya.


"Bu, kenapa kita harus menjual sembako ini, kenapa tidak kita berikan langsung saja kepada mereka?" tanya Sarah, pertanyaan yang juga menjadi pertanyaan dibenak Haura.


Sementara Aida yang sudah tahu jawabannya pun hanya mengulum senyum. Dulu, itu jugalah pertanyaan yang ia ajukan pada sang ibu, saat Zahra mengajaknya berjualan seperti ini.


Dan dengan tersenyum, Zahra pun mulai menjawab, "Banyak alasannya, tapi yang paling utama untuk ibu adalah mereka akan terus berusaha untuk mendapatkan apapun yang mereka inginkan. Bisa saja, kita memberikan sembako ini secara gratis, namun itu akan membuat mereka terus berharap tanpa adanya usaha," jelas Zahra. Memang itulah alasannya, ia ingin membantu, namun tetap ingin membuat orang-orang kecil ini tetap semangat dalam bekerja.


Mendengar jawaban sang mertua, Sarah pun tersenyum. Sama, Haura juga menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman lebar.


Senyum, yang Haura bawa sampai dia kembali ke rumah.


Tepat jam 4 sore, Haura sudah memasuki rumah ini. Ia langsung disambut oleh sang suami dan kedua anaknya sekaligus.


Azzam, Azzura dan Adam dapat melihat dengan jelas, senyum lebar dibibir ibunya itu. Membuat ketiganya mengeryit heran secara bersamaan.


Mencurigakan. Batin Azzam, Azzura dan Adam, kompak.


"Apa acaranya menyenangkan Bu? sepertinya Ibu bahagia sekali," tanya Azzam, kini keluarga kecil itu sudah mulai naik ke lantai 2.


Menaiki anak tangga satu per satu.


Setelah kelahiran cucu-cucunya nanti, Zahra ingin kembali mengajak ketiga anak wanitanya untuk kembali berjualan.


"Ayah tidak diajak?" tanya Adam, sedikit tidak terima. Karena merasa Haura tak akan mengajak dirinya.


Mendengar pertanyaan sang suami itu, sejenak, Haura menatap suaminya, dengan senyumnya yang perlahan mulai menghilang.


"Yakin Ayah mau ikut? di sana lebih banyak ibu-ibu daripada bapak-bapak," jawab Haura apa adanya.


Membuat Adam langsung murung saat itu juga.


"Memangnya kapan kalian pergi lagi? memangnya aku akan seperti ini terus seumur hidup?" tanya Adam bertubi, dengan suaranya yang terdengar lebih ketus dari biasanya.


Azzam dan Azzura terkekeh, hingga akhirnya mereka semua sampai di lantai 2.


"Ayah di rumah saja, biar kami yang pergi," ledek Azzura.


Geram, Adam pun langsung menggendong anak perempuannya ini, lalu menciumi pipi kiri dan kanan Azzura secara bergantian.


Ciuman yang membuat Azzura sampai kegelian. Gadis kecil ini terkikik, bahkan sampai berteriak meminta ayahnya untuk berhenti.


"Hahaha, ampun Yah," keluh Azzura, diantara tawanya.


Haura dan Azzam yang melihat, hanya mampu tersenyum, tak bisa menolong.


Kebahagiaan keluarga Adam terus berlanjut, hingga berhari-hari dan berganti bulan.


Bahkan kebahagiaan itu terasa makin lengkap, ketika satu per satu orang-orang disekitar mereka pun mendapatkan kebahagiaannya pula.


Besok, Edgar dan Luna akan menggelar acara pernikahan. Lalu 2 minggu kemudian, Shakir dan Sanja juga menyusul ke pelaminan.


"Luna, kenapa masih disini? pulanglah, besok adalah hari pernikahanmu, kamu tidak perlu bekerja," ucap Haura, saat pagi-pagi ia melihat Luna sudah berdiri di teras rumahnya.


Benar-benar berdiri di sana dan tidak masuk, karena tak ingin membuat Tuan Adam mual.


"Saya akan mengantar tuan muda dan nona muda ke sekolah Nyonya," jawab Luna apa adanya.


"Tidak perlu acil, kami akan pergi bersama kakek Jodi," Azzam yang menjawab.


Tadi, Azzam, Azzura dan Haura memang hendak keluar dan menunggu kakek Jodi. Tak menyangka jika ada Luna juga disini.


"Pulanglah, lalu lakukan perawatan tubuh," timpal Haura lagi, karena Luna hanya terdiam.


"Perawatan tubuh?" Luna membeo dengan lirih, namun Haura masih mampu mendengarnya.


"Iya, perawatan tubuh, karena besok, tubuhmu bukan lagi jadi milikmu," jawab Haura, seraya mengulum senyum.


Dengan sedikit terkekeh, Haura bersama kedua anaknya pergi dari sana, menuju mobil kakek Jodi yang baru saja sampai dan meninggalkan Luna seorang diri.


Berdiri dengan bergidik ngeri.


Ucapan sang nyonya barusan membuat pikiran Luna melayang kemana-mana. Memikirkan banyak hal yang tidak-tidak.


"Hii! mengerikan sekali," gumam Luna, membayangkan ketika kelak ia akan berbagi tubuh dengan sang calon suami, Edgar Suryo.


Hanya membayangkannya saja, berhasil membuat darah Luna terasa mendidih. Bahkan wajahnya terasa panas, dengan kedua pipi yang sudah merah merona.


"Hii! kenapa pikiranku jadi kotor seperti ini!" keluh Luna.


Lalu segera pergi dari sana. Mempersiapkan diri untuk pernikahannya besok, namun entah melakukan perawatan tubuh atau tidak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ibu Haura : 😄😄😄