
"Aku pergi dulu," ucap Adam.
Puas berbincang dengan Haura di teras toko bunga, Adam pamit untuk kembali ke Malik Kingdom.
Haura menganggukkan kepala, kini ia dan Adam berdiri persis disebelah mobil Adam.
"Jangan terlalu dekat dengan Pandu, aku tidak suka melihatnya," ucap Adam lagi, memberi ultimatum. Bahkan wajahnya dibuat tak suka ketika mengatakan itu.
Namun Haura yang mendengarnya malah mengulum senyum.
"Baiklah, aku akan mengambil jarak, seperti ini," jawab Haura, ia lalu mundur satu langkah dan menjauhi Adam.
"Jangan lakukan ini padaku," balas Adam cepat, ia bahkan menarik lengan Haura untuk kembali mendekat padanya.
Hingga membuat keduanya sama-sama terkekeh.
Tawa, yang begitu jarang Adam tunjukkan didepan umum.
Namun kini, Luna bisa melihatnya dengan jelas.
Selesai berpamitan, Adam meninggalkan toko itu. Haura melambai, lengkap dengan senyum yang ia berikan sebagai perpisahan.
"Nanti saat Azzam dan Azzura pulang kan ketemu lagi, kenapa rasanya akan berpisah lama sekali," gumam Haura, sesaat setelah mobil Adam tak nampak lagi di pelupuk matanya.
Merasa aneh, dengan perasaan yang ia rasakan kali ini. Seolah enggan berpisah dengan ayah kedua anaknya itu.
Drt drt drt
Ponsel Haura yang berada di genggaman tangannya bergetar. Haura langsung melihatnya dan ada panggilan masuk dari ibu Zahra.
Haura lantas berlari, masuk ke dalam toko bunga dan mulai menjawab panggilan itu.
"Assalamualaikum, Bu," jawab Haura dengan suaranya yang begitu lembut.
Mendengar panggilan diterima, Zahra diujung sana langsung mengukir senyum.
"Walaikumsalam sayang," balas Zahra, entahlah kenapa mudah sekali ia menyayangi Haura, seolah sikap lemah lembut yang Haura tunjukkan dapat dengan mudah meluluhkan hatinya.
"Ada apa Bu?" tanya Haura kemudian.
Dan Zahra menjelaskan semua tujuannya menelpon Haura. Zahra, ingin Haura mengunjungi dirinya di mansion, datang seorang diri tanpa Azzam dan Azzura, karena kedua bocah kecil itu sedang sekolah, saat ini masih jam 10 pagi.
Zahra juga mengatakan, ia akan mengirim supir untuk menjemput Haura.
Diminta untuk mengunjungi, Haura tahu pasti ada hal penting yang akan dibicarakan oleh Zahra. Hal yang tidak bisa dibicarakan melalui sambungan telepon.
Karena itulah, Haura langsung menjawab Iya, bersedia untuk pergi kesana dan akan menunggu sang supir datang.
Dan tak lama setelah panggilan itu terputus.
"Nek, aku pergi dulu ya?" pamit Haura pada Aminah, saat itu Jodi dan Pandu sedang mengantar beberapa pesanan bunga.
Aminah, tinggal di toko bersama tiga karyawan yang lainnya.
"Iya Nak, hati-hati ya," balas Aminah.
Haura lalu mencium punggung tangan kanan Aminah takzim, lalu segera bergegas pergi.
Dan setelah 20 menit perjalanan, akhirnya ia sampai di mansion Zahra. Sebuah bangunan yang hingga kini masih membuat ia terkagum-kagum.
Kedatangan Haura langsung disambut oleh beberapa pelayan.
Hingga salah satu pelayan itu membimbing Haura untuk menemui Zahra.
Entah dibawa kemana, Haura hanya terus mengikuti langkah pelayan itu.
Sampai akhirnya, mereka tiba disebuah pintu yang penuh dengan ukiran. Pelayan itu membuka pintunya dan mempersilahkan Haura untuk masuk.
Di dalam sana, Zahra langsung bangkit dari duduknya dan menyambut Haura dengan sebuah pelukan.
"Duduklah sayang," ucap Zahra, ia langsung membawa Haura untuk duduk disalah satu sofa yang berada si ruangan itu.
Ruangan yang Haura yakini sebagai kamar Zahra.
Ruangan yang sangat luas dengan ranjang king size, bahkan kamar inipun lengkap dengan meja dan sofa juga televisi dengan layar yang besar.
Zahra kembali duduk disisi Haura, setelah tadi ia pergi mengambil sesuatu di sebuah ruangan kamar itu. Entah ruangan apa, Haura pun idak tahu.
"Pakailah cincin ini," ucap Zahra, ia bahkan langsung mengambil salah satu tangan Haura dan mulai memasangkan sebuah cincin.
Zahra tersenyum, kala melihat cincin itu sudah terpasang sempurna di tangan Haura.
"Aku sudah yakin, cincin ini akan terlihat sangat cantik di jarimu," jelas Zahra lagi, begitu antusias.
Sementara Haura, hanya mampu tercengang.
"Apa maksudnya ini Ibu?" tanya Haura yang bingung, jika Zahra ingin memberikan cincin ini, Haura akan dengan cepat menolak.
"Ini adalah cincin pernikahan ibu dan ayahnya Adam dulu. Ibu ingin, ini menjadi cincin pernikahan kalian juga," jelas Zahra apa adanya, ia menatap Haura dalam. Tatapan yang seperti tatapan Adam saat menatapnya.
Mendengar itu Haura bergeming, tak kuasa untuk menjawab apapun.
"Adam sudah memberi tahu ibu tentang kesedianmu menikah dengan dia. Ibu bahagia sekali Haura, sangat bahagia," timpal Zahra dengan kedua netranya yang mulai berkaca-kaca.
"Ibu, akan selalu mendoakan untuk kebahagiaan kalian berdua."