
Langkah Adam terhenti diujung tangga, saat dilihatnya sang ibu berserta Aida dan Yuda berdiri diambang pintu kamar Monica.
Ternyata, mereka datang lebih dulu dibanding dirinya.
Sejak semalam, Luna sudah melaporkan perihal video Monica itu, namun ia tetap diam karena masih ada Azzam dan Azzura disampingnya. Ia tak ingin menghancurkan suasana hangat yang sudah tercipta.
Akhirnya pagi ini, setelah ia mengantar Azzam, Azzura dan Arrabela ke sekolah, Adam mendatangi Monica di mansionnya.
Terdengar jelas kemarahan sang ibu, juga nampak jelas Monica yang tertunduk.
Tak ingin banyak menunda waktu, akhirnya Adam mengakhiri mereka semua.
"Bu," panggil Adam pada sang ibu, Zahra.
Seketika semua orang menoleh saat mendengar suara berat Adam, juga Monica yang langsung mengangkat wajahnya, menatap sang suami dengan penuh harap.
"Mas," desis Monica hingga namun tak ada satupun yang mendengarnya.
"Adam, ibu tidak mau tahu, kami selesaikan masalahmu dengan Monica, ibu tidak ingin kembali kehilangan Azzam dan Azzura Dam, bahkan ibu belum sempat memeluk mereka," rancau Zahra dengan tangisnya yang berderai.
Dan Aida terus memeluk lengan ibunya.
Tatapan Adam lalu teralihkan, kini menatap sang istri yang juga menatapnya lekat.
"Mas, kamu datang?" tanya Monica seraya mendekat, ia masih mengharapkan sedikit saja belas kasihan Adam atas dirinya. Ia masih sangat berharap, Adam mau menilai perjuangannya selama 6 tahun terakhir ini.
"Ku pikir kamu akan menyadari kesalahanmu, tapi ternyata kamu malah mengulanginya, lagi," ucap Adam saat Monica sudah berdiri dihadapannya.
Mendengar itu, runtuh sudah semua harapan Monica. Terlebih saat Adam menatapnya dengan tatapan yang dingin, tatapan yang sama seperti selama ini.
"Kenapa Mas? kenapa sedikit saja kamu tidak memberiku kesempatan? aku mau menerima Azzam dan Azzura, bahkan aku juga mau menerima Haura_"
"Berhenti bicara omong kosong, aku kesini tidak ingin bicara panjang lebar. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa selain perceraian, aku juga akan menuntutmu, pencemaran nama baik dan penipuan."
Monica terperangah, tak percaya atas ucapan suaminya itu.
"Tega kamu Mas," lirih Monica, air matanya mengalir dengan sendirinya.
"Jangan selalu menilai orang lain jahat, bercerminlah, tatap dirimu baik-baik. Apa tindakanmu benar selama 5 tahun pernikahan kita? kamu menyembunyikan tentang Haura dan juga anakku."
Monica bergeming.
"Dan dengan video itu apa kamu pikir semuanya akan membaik? tidak Monica, karena tindakanmu itu hanya akan menyudutkan Haura, kamu berusaha untuk memisahkan aku lagi dengan mereka."
Monica jatuh, tersungkur. Kakinya tak kuasa lagi untuk menopang tubuh.
Tapi sungguh, tak ada satu orangpun yang peduli. Monica merasa jadi orang yang paling teraniaya diantara semua orang. Hingga ia menutup mata dari semua penderitaan yang dialami oleh orang lain.
6 tahun, Haura terasingkan dari keluarganya, berusaha sekuat tenaga untuk membesarkan kedua anaknya, bahkan ia sampai menjadi seorang buruh, keliling dari rumah satu ke rumah lainnya.
6 tahun, Adam memendam rasa bersalah yang teramat besar dihatinya. Ia masih mengingat dengan jelas isak tangis Haura di malam itu. Dan janji yang ia ucapkan hanya terdengar seperti sebuah omong kosong.
"Dan satu lagi, tinggalkan mansion ini sekarang juga. Aku tidak akan memberikan sepersenpun hartaku untukmu, yang ada aku akan menuntut rugi untuk semuanya."
Setelah mengatakan itu, Adam pergi, langkahnya diikuti oleh sang ibu, Aida dan juga Yuda.
Meninggalkan Monica yang menangis, terduduk di atas lantai.
"Aa!!" Monica berteriak sekuat tenaganya, tak hanya sekali, ia berteriak berulang kali, bahkan ia pun mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Aa! aku benci semuanya! aku bencii!" teriaknya lagi dengan suara yang melengking.
Para pelayan hanya mampu melihat majikannya itu dari jauh, tidak berani untuk mendekat.
"Adam," panggil Zahra saat mereka sudah sampai di teras mansion itu, hujan masih turun dengan begitu lebatnya. Bahkan beberapa orang sudah menunggu mereka semua dengan payung hitam besar.
"Dam, bisakah ibu bertemu dengan Azzam dan Azzura?" tanya Zahra penuh harap, rasanya ia sudah tak sanggup untuk menunggu, memeluk kedua cucu kembarnya yang sangat mirip dengan Adam kecil.
"Sabar ya Bu, tunggu 3 hari lagi, setelah Haura pulang dari Kalimantan, aku akan memperkenalkan ibu juga padanya," jawab Adam. Sungguh, ia tak ingin salah langkah perihal Haura dan kedua anaknya. Yang Haura tahu, kini Azzam dan Azzura hanya bersamanya saja, belum sampai mengenalkannya pada keluarga ini.
"Haura ke Kalimantan?" tanya Zahra dan Adam mengangguk.
Melihat itu, Zahra langsung bernapas lega.
"Untunglah, ibu kira dia di Jakarta. Semoga dia tidak melihat video Monica itu," ucap Zahra lagi.
"Haura wanita yang tangguh Bu, dia tidak akan terpengaruh dengan video itu. Dan satu lagi, ibu jangan mengikuti jejak Monica untuk mengumbar masalah rumah tangga kita. Aku tidak ingin, hal ini jadi konsumsi publik Bu. Biar hukum saja yang bicara," ucap Adam dengan suaranya yang terdengar lugas.
Sejurus kemudian, Zahra mengangguk. Aida dan Yuda pun ikut setuju.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai di Malik Kingdom, Adam kembali mengadakan rapat dadakan, mengumpulkan para pemegang saham.
Dalam rapat itu, Adam meminta pada semua pemegang saham untuk mengembalikan saham mereka. Adam akan membeli dengan harga yang mahal, meski saat ini sahamnya sedang turun di pasaran global.
Adam akan membeli kembali saham itu dengan satu syarat, yaitu pemutusan kerja sama seumur hidup.
Tercengang, ketika semua orang mendengar itu. Ini terdengar bukan seperti penawaran, melainkan ancaman.
Pasalnya, Adam sudah begitu geram. Kenapa para pemegang sahamnya ini selalu ragu dan memperdulikan berita diluar sana.
Sementara berita-berita itu tidak mempengaruhi sedikitpun pada kualitas produk mereka.
Akhirnya, para pemegang saham itu hanya bisa meminta maaf. Bahkan mereka janji untuk kini lebih solid pada Malik Kingdom.
"Tuan, bagaimana dengan pembuatan tower signal di desa Parupay, apa tetap dilanjut?" tanya Luna setelah mereka kembali ke ruangan Adam.
Tadi pagi, Adam sempat menunda akan hal itu, ia takut kelak Haura akan melihat video Monica.
"Tunda saja, aku akan tetap menjemput Haura 2 hari lagi. Kosongkan semua jadwalku saat itu," titah Adam dan Luna mengangguk patuh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Darius tertawa keras di dalam ruangannya. Ia bahkan sampai memutar kursi kerjanya, merasa bahagia.
Ternyata video Monica itu mampu menurunkan saham Malik Kingdom hingga 10 persen.
"Yos, segera hubungi para pemegang saham MK (Malik Kingdom) beli saham mereka dengan harga tinggi, aku akan membalas perbuatan Adam padaku," ucap Darius memerintahkan sang asisten.
"Baik Tuan," jawab Yosep patuh.
Ia bahkan langsung kembali ke ruangannya dan menjalankan perintah atasannya itu. Namun sayang, para pemegang saham MK tidak berniat menjual saham mereka meski harga di pasaran sedang turun.
Dengan raut wajah takut, Yosep kembali menemui Darius setelah 1 jam pergi.
"Bagaimana? berapa persen saham MK yang kamu dapat?" tanya Darius antusias.
"Maaf Tuan, tidak ada satupun dari mereka yang ingin melepas saham itu," jawab Yosep dengan menunduk.
Seketika tawa Darius menyurut, bahkan kini wajahnya sudah berubah merah. Ia mengepalkan tangannya kuat dan meninju meja kerjanya.
Brak!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih untuk semua dukungannya 💕💕💕
Salam AH 😘