
“Kamu bahagia sekali,” ucap Yuda pada sang istri yang kini duduk disebelahnya.
Mereka berdua duduk di kursi belakang, dengan satu supir didepan sana. Awalnya Yuda memang ingin menyetir sendiri, namun tiba-tiba Aida memintanya untuk ikut duduk dibelakang. Jadilah, salah satu bodyguard mereka di mobil belakang maju ke depan untuk menjadi supir sang tuan.
Sedari keluar dari halaman rumah sang kakak, Aida terus tersenyum dan tidak surut-surut, meski kini mereka sudah semakin berjalan jauh.
Tak langsung menjawab, Aida malah mendekat dan memeluk lengan sang suami, erat.
“Aku bahagia Mas, ada Azzam dan Azzura, ada Labih dan Nanjan. Mbak Haura, membuatku lebih bersemangat,” ucap Aida sungguh-sungguh.
Sebelum ada Azzam dan Azzura juga Labih dan Nanjan, Aida selama ini hanya selalu berada di rumah, dan sesekali menghadiri acara penting sebagai keluarga Malik. Lalu mengurus beberapa yayasan yang ia pegang.
Namun semenjak kehadiran dua anak kecil dan 2 remaja itu, hidup Aida jadi lebih berwarna. Ia seolah berperan sebagai seorang ibu pula, yang mengurus semua kebutuhan anak-anaknya.
Mendengar ucapan sang istri, Yuda tak menjawab apa-apa, ia hanya menarik dagu istrinya dan membenamkan sebuah ciuman dalam di bibir ranum istrinya itu. Melumaatnya lembut, menyalurkan semua kasih sayang dan cintanya.
“Insya Allah, insya Allah sayang, sebentar lagi kita juga akan memiliki anak,” ucap Yuda, menangkan. Ia bahkan mengelus pucuk kepala sang istri dengan sayang, sesaat setelah ia melepas pagutannya.
Yuda yakin satu hal, jika Allah akan membalas semua usaha yang telah mereka lakukan selama ini.
Mendengar ucapan suaminya itu, Aida lalu memeluk tubuh suaminya erat. Menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami.
“Aku tadi beli sesuatu,” ucap Aida, lalu mendongak menatap mata sang suami yang menunduk dan menatapnya.
“Apa?”
“Lingerie baru,” ucap Aida dengan senyumnya yang menggoda.
Yuda bahkan sampai tersenyum, tak kuasa melihat tingkah istrinya itu.
“Gadis nakal,” ucap Yuda, lalu kembali menyesap bibir sang istri, dalam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Baju seperti apa?” tanya Adam lagi, saat ia sudah berdiri tepat disebelah sang istri. Kini, mereka sama-sama berdiri di sisi ranjang.
Mendengar pertanyaan sang suami, Haura hanya mampu menelan salivanya dengan susah payah. Tak sanggup menahan malu jika Adam sampai melihat lingerie ini.
Kain tipis yang menerawang hingga bagian intinya pun nampak jelas.
“Baju biasa Mas,” jawab Haura, ia bahkan mengalihkan tatapannya lalu berniat beringsut menjauh, membuang baju ini jauh-jauh.
Namun Adam yang sudah terlanjur penasaran pun menahan lengan sang istri, hingga membuat tubuh Haura membeku seketika.
Adam mengambilnya, hanya mengintip sedikit isinya pun ia sudah tahu apa isi didalam paper bag itu.
Sebuah lingerie berwarna merah maroon.
Kecil, Adam mengulum senyum.
“Oh, baju warna merah,” ucap Adam biasa, seolah tak mengira jika isi didalam sana adalah lingerie.
Buru-buru Haura kembali mengambil paper bag itu dan mendekapnya erat.
“Iya Mas, aku simpan dulu ya,” ucap Haura kemudian, lalu dengan tergesa menuju lemari pakaian mereka. Menyimpannya di bagian paling
tersembunyi.
Adam, sungguh bersusah payah menahan tawanya agar tidak pecah.
Selesai masalah baju itu, keduanya memutuskan untuk segera berbaring di atas ranjang. Saling memeluk erat dan menghirupi aroma tubuh pasangannya.
“Sayang,” panggil Adam.
“Hem,” jawab Haura singkat, namun semakin memeluk tubuh suaminya erat.
“Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?” tanya Adam, hingga membuat Haura mendongak.
Baru kali ini, Adam meminta sesuatu padanya.
“Apa?” Haura balik tanya dengan tatapannya yang dalam.
“Aku tidak ingin menunda memiliki anak lagi, maukah kamu kembali hamil anakku?” pinta Adam sungguh-sungguh, ia memang ingin segera memiliki anak lagi dengan Haura, buah cinta mereka.
Mendengar itu, Haura bergeming, masih menatap lekat kedua netra sang suami.
Hingga lambat laun, Haura menganggukkan kepalanya.
Sejak memutuskan untuk menikah dengan Adam, Haura sudah mempercayakan hidupnya pada laki laki ini. Laki-laki yang kini menciumi bibirnya dalam. Bahkan seketika Adam sudah menindihnya.
Haura, menutup matanya.
Apapun, akan Haura berikan pada suaminya.
Ia tak ingin selalu dicintai, Haura juga ingin menunjukkan cintanya.