
Keesokan harinya.
Sebelum kembali ke kota Jakarta, Adam mengucapkan banyak terima kasih kepada warga desa. Tak hanya tentang kejadian semalam. Namun juga kejadian 6 tahun silam.
Adam mengatakan dengan jujur, bahwa ia adalah ayah Azzam dan Azzura. Dan kini sedang menebus semua dosa-dosanya.
Duduk bersama di ruang tamu rumah pak Ammar. Semua warga tentu tersentuh akan ucapan Adam itu, ia berani mengakui kesalahannya sekaligus berniat memperbaiki semuanya.
Sementara Haura yang duduk di ruang tengah dan ikut mendengar semua ucapan Adam pun hanya terdiam. Entah apa yang kini mengganggu pikirannya.
Hingga sentuhan tangan ibu kepala desa, Ririn pada bahunya menyadarkan lamunan Haura.
"Ayo ikut ibu ke dapur," bisik Ririn.
Haura mengangguk, lalu mulai berdiri dan mengikuti langkah Ririn menuju dapur.
Tak ada yang mereka lakukan di sana, Ririn malah meminta Haura untuk duduk di kursi meja makan.
"Haura, apa benar semua yang dibicarakan pria itu?" tanya Ririn penuh perhatian.
Dia adalah saksi, betapa kerasnya perjuangan Haura hidup selama ini. Sejak pertama kali datang ke desa Parupay, hingga akhirnya kembali lagi ke Jakarta. Pria itu telah menorehkan luka yang begitu membekas.
Haura mengangguk, lalu mengatakan pula jika ia sudah melakukan tes DNA dan hasilnya positif.
Air mata Haura keluar dengan sendirinya, kala ia pun menceritakan betapa bahagianya Azzam dan Azzura ketika bertemu dengan sang ayah.
Sesaat Haura merasa tersingkir, merasa bahwa selama ini ternyata ia gagal mengambil peran seorang ayah. Karena nyatanya, kasih sayang Adam tidak bisa ia gantikan.
Ririn mengelus bahu Haura dengan sayang, iapun ikut terenyuh kala mendengar hal itu.
"Apa kamu akan menikah dengannya?" tanya Ririn setelah Haura menghapus semua air mata.
Pelan, Haura menggeleng.
"Tidak, Bu," jawabnya lirih, sementara Ririn terdiam, masih menunggu alasan yang akan Haura ucapkan.
"Aku sadar, setelah semua yang terjadi, mas Adam memang orang baik. Selama ini dia mencari kami, hanya saja Allah baru mempertemukan setelah 6 tahun waktu berlalu," timpal Haura, ia mengambil napas lalu kembali berucap ...
"Selama ini kami sama-sama tersiksa, dan setelah pertemuan ini, aku tidak ingin membuat luka baru. Mas Adam memang ingin menikahiku, tapi hanya karena ingin bertanggung jawab." Haura menggeleng ...
"Aku tidak mau hal itu," ucapannya terhenti. Dan Ririn begitu tahu apa maksud penjelasan Haura.
Iapun memahami, apa yang Haura rasakan. Sebuah pernikahan yang berlandaskan tanggung jawab dan tanpa cinta, hanya akan terasa hambar. Baik Haura maupun Adam hanya akan kembali membuat luka baru.
"Sabar ya Nak, terus istigfar, serahkan semuanya kepada Allah, seperti selama ini, bagaimana kuasanya Allah menunjukkan jalan sampai kamu menjadi orang sukses, seperti itulah ia akan menunjukkan jalan untukmu dan juga Adam," jawab Ririn kemudian.
Dan Haura hanya bisa mengangguk, setuju. Hanya Allah lah sang pemilik hati, yang berkuasa membolak balikan hati hambanya.
Pagi itu, Adam dan semua warga yang berkumpul sarapan bersama-sama. Membicarakan banyak hal pula. Untuk mengucapkan rasa terima kasihnya itupun Adam berjanji, akan memajukan desa Parupay.
Mendirikan Puskesmas, membangun sekolah, membenahi jalanan, memberikan listrik secara menyeluruh bagi semua warga, juga mendirikan tower untuk telekomunikasi.
Labih terperangah, ternyata Adam benar-benar orang kaya. Sama persis seperti informasi yang sempat ia baca dua tahun lalu bersama Azzam.
Azzam, Azzura, semoga kalian di sana selalu bahagia. Ayah kalian adalah orang hebat. Batin Labih, haru.
Sementara Nanjan, terus mengukirkan senyuman. Ternyata benar dugaannya selama ini. Azzam tumbuh menjadi anak Genius karena menurun dari darah sang ayah, Adam Malik.
Tepat jam 9 pagi, Adam pamit untuk pulang, sekaligus membawa Haura pula.
Dan kini disinilah mereka berdiri, di lapangan desa dan mulai naik ke dalam helikopter. Luna duduk di samping pilot, sementara Adam dan Haura duduk di kursi penumpang tengah.
Haura melambai pada warga desa yang ikut mengantar mereka. Menyaksikan betapa mewahnya sebuah helikopter, seumur hidup baru ini mereka melihat helikopter secara langsung.
"Acik, salam untuk Azzam dan Azzura!" pekik Labih dan Nanjan. Kedua anak ini berlari mengikuti arah helikopter yang mulai terbang.
Tak peduli pada angin kencang yang dihasilkan helikopter itu, Labih dan Nanjan tetap antusias.
Haura hanya bisa mengangguk, seraya terus melambaikan tangannya.
"Apa yang kamu bawa itu?" tanya Adam, dan suaranya langsung terdengar ditelinga Haura yang menggunakan helikopter headset.
Adam melirik, 2 kantong plastik bawaan Haura yang di letakkan di kursi belakang.
"Jamur dan beberapa buah-buahan dari hutan," jawab Haura apa adanya.
"Utuk Azzam dan Azzura?"
Haura mengangguk.
"Bolehkah nanti aku ikut makan bersama mereka?" tanya Adam lagi.
Dan sedikit mengulas senyum, Haura lagi-lagi mengangguk.
"Luna juga akan ikut makan bersama kita," jawab Haura kemudian.
Adam menghela napas, entah kenapa ia merasa sedikit kecewa mendengar hal itu. Namun Adam tetap tersenyum, nanti ia akan membuat Luna pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yee!! hari senin, waktunya Vote ya 🙏😀
Terima kasih untuk semua dukungannya, salam AH dan baby AzRa 💕💕