My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 67 - Tidak Pernah Berbohong



Hari berlalu.


Hari ini, Haura ingin ikut om Jodi dan nenek Aminah ke toko bunga mereka.


Semalam, Jodi mengatakan jika Pandu, sahabat  Haura dulu sudah kembali bekerja di toko itu.


Bahkan Pandu, kini tinggal di sana juga, menjaga toko saat malam hari.


Tepat jam setengah delapan pagi, Haura, Aminah dan Jodi sampai di toko itu. Setelah menempuh perjalanan menggunakan bus Trans Jakarta, lalu sedikit berjalan dan sampai.


Pandu yang sedang memindah-mindahkan bunga dari dalam toko ke teras toko itu seketika tercengang, kala melihat Haura yang datang.


Sama, Haura pun merasakan hal yang sama. Dulu, hanya Pandu lah teman yangs selalu ada untuknya, hanya Pandu lah yang selalu


memberinya semangat ketika lelah. Bahkan Pandu, adalah teman pertamanya ketika


pertama kali ia pindah ke Jakarta.


“Haura?” ucap Pandu, ia masih memegang vas bunga yang berisi bunga tulip penuh. Terpaku ditempatnya berdiri.


“Iya Pandu, aku Haura,” jawab Haura tak kalah harunya.


6 tahun mereka tidak bertemu dan berpisah tanpa kata-kata, seolah semuanya menghilang seketika.


Jodi yang melihat itu pun mengukir senyumnya, ikut bersyukur kini Haura sudah kembali mendapatkan semua yang hilang dulu.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Pandu, kini ia dan Haura duduk di kursi teras toko itu, berbincang melepaskan rindu.


“Alhamdulilah baik, kamu sendiri bagaimana?” Haura balik bertanya.


“Alhamdulilah aku juga baik, aku bahkan sudah menikah dan memiliki satu anak. Istri dan anakku tinggal di kampung,” jelas


pandu apa adanya dengan senyumnya yang penuh syukur.


Namun perlahan senyum itu memudar, kala ia teringat akan sesuatu.


“Aku sudah mendengar semuanya dari om Jodi, juga tentang Azzam dan Azzura, kedua anakmu,” timpal Pandu lagi, kini wajahnya sudah berubah jadi sendu.


“Aku hanya tidak menyangka, ternyata malam tahun baru itu semuanya dimulai,” jelas pandu lagi, dengan sesak yang memenuhi tenggorokannya, tercekak. Sumpah demi apapun, Pandu benar-benar merasa bersalah pada Haura, andaikan malam itu ia tidak membiarkan Haura pergi seorang diri,pastilah ini semua tidak akan terjadi.


6 tahun Haura hidup seorang diri di tanah orang, bahkan sampai berjuang mati-matian untuk tetap bertahan.


“Andaikan dulu aku tidak membiarkanmu pergi seorang diri, pasti ini semua tidak akan terjadi. Maafkan aku Haura,” ucap Pandu tulus, bahkan kedua matanya pun sudah berkaca-kaca.


Haura menggeleng, “Tidak,” jawabnya lantang.


“Dan asal kamu tahu, sekarang aku mensyukuri itu semua, karena malam itu akhirnya aku memiliki Azzam dan juga Azzura. Perjuanganku memang tidak mudah, tapi itu semua terbayar saat aku melihat kedua anakku tumbuh dengan sehat, saat mendengar mereka memanggilku ibu, saat melihat mereka tersenyum padaku. Aku sudah tidak lagi memiliki penyesalan,” jelas Haura.


Dan Pandu menatap sahabatnya itu, mencari kebenaran dari sorot mata Haura.


“Bahkan sekarang, aku juga sudah bertemu dengan pria itu lagi,” timpal Haura, ia membalas tatapan Pandu, seraya tersenyum tipis kala mengingat ayah dari kedua anaknya., Adam Malik.


Melihat Haura yang tersenyum tipis kala membicarakan pria itu, sudut hati Pandu merasa lega. Seolah beban yang ia tanggung elama ini hilang seketika.


“Benarkah?” tanya Pandu dan Haura mengangguk.


Tinggal di kampung, Pandu tidak mengetahui banyaknya pemberitaan di ibu kota, bahkan Pandu pun tidak tahu, siapakah Adam Malik itu.


“Dan kami memutuskan untuk menikah,” ucap Haura dan Pandu langsung tersenyum lebar.


Senyum yang membuat Hara juga merasa lega, saat sahabatnya itu kini sudah tidak merasa bersalah lagi atas apa yang terjadi pada dirinya.


Terus keduanya berbincang, bahkan Pandu mengatakan jika dulu banyak sekali orang-orang yang tak dikenalnya menanyakan tentang Haura. Saat Pandu bercerita seperti itu, entah kenapa Haura merasa jika orang yang dimaksud Pandu adalah orang-orang suruhan Adam.


Menyadari itu, Haura terus tersenyum.


Adam tidak pernah membohongi dirinya.


Sejak awal Adam memang ingin bertanggung jawab,


namun semuanya jadi kacau karena Monica.


Tak berhenti sampai di sana, bahkan selama 6 tahun terakhir, Adam pun terus mencari dirinya. Detik ini, Haura benar-benar percaya, jika cinta Adam bukanlah bualan semata, ia percaya bahwa Adam sudah


mencintainya bahkan sebelum Adam berhasil menemukan dirinya.


Haura terus tersenyum.


Lain dengan seseorang diujung sana, di atas gedung pencakar langit Malik Kingdom.


Adam, menatap geram pada semua foto-foto yang terkirim dilayar ponselnya. Adam tahu jika kini Haura tengah berbincang dengan Pandu, sahabat Haura, namun entah kenapa, ia tetap merasa cemburu.


“Apa jadwalku pagi ini? Bisakah ditunda?” tanya Adam pada sang asisten Luna.


“Menandatangani MoU dengan perusahaan Tuan Edgar, tapi maaf  ini tidak bisa ditunda,” jelas Luna apa adanya.


Seketika, Adam mengepalkan tangannya kuat, menahan diri agar tidak berlari kearah Haura.